“Killer Elite”, Kali Ini Lawanmu Mantan Pasukan SAS

0
4,566 views

SEGANAS-ganasnya Danny Bryce (Jason Statham) –seorang pembunuh bayaran kelas tinggi—memberondong musuhnya dengan rentetan tembakan, namun toh naluri kemanusiaannya tetap terasah. Ia dihinggapi trauma.. Itu terjadi  setelah dalam sebuah baku tembak di Meksiko, aksinya menembak mati korban terekam oleh mata seorang bocah yang tak lain anak target sasarannya.

Pengalaman traumatik karena bebatan guilt feeling inilah yang membuat Danny memutuskan “pensiun” dari dunia hitam. Ia  mantap tinggalkan profesinya sebagai  pembunuh profesional. Ia kemudian memilih menyepi di kawasan Perbukitan Yarra, di luar Melbourne, Australia. Namun, masa tenangnya tak berjalan lama. Ia menjadi mesin pembunuh lagi, ketika panggilan tugas memaksanya keluar kandang lantaran mentor sekaligus mitra kerjanya dalam urusan bunuh-membunuh ditahan seorang sheikh di Oman, Timur Tengah.

Hunter (Robert de Niro) –demikian  nama sang mentor— akan dieksekusi, lantaran telah gagal menjalankan misi balas dendam dengan imbalan 6 juta dolar AS. Danny datang ke Oman dengan misi ingin menyelamatkan Hunter. Atas nama kesetikawanan, ia pun terpaksa berurusan dengan pekerjaan bunuh-membunuh lagi—hal yang sebenarnya dia ingin tinggalkan lantaran peristiwa traumatik di Meksiko tahun 1980-an.

Pasukan komando Inggris

Kali ini, “lawan main” Danny bukan sembarang target ecek-ecek. Kata sheik, para pembunuh yang telah membantai  ketiga anaknya adalah mantan anggota pasukan komando Inggris dengan reputasi internasional: Special Air Service (SAS). Sheik juga punya tuntutan aneh: misi pembunuhan bermotif balas dendam itu harus disertai konfirmasi dari target sasaran hingga masing-masing mengakui telah membantai anak-anakya.

Tak ketinggalan, semua harus didokumentasikan, direkayasa agar operasi pembunuhan itu terjadi bukan karena tembakan timah panas, tapi oleh insiden kecelakaan.

Misi menumpas habis para mantan SAS pembantai anak-anak sheik inilah yang menghantar Danny melalang buana ke Perancis dan kemudian ke Inggris untuk memindai keberadaan para target sasarannya. Untuk menyukseskan misi pembunuhan bermotif balas dendam ini, Danny mengganden dua kolega lamanya Davies  (Dominic Purcell)  dan Meier (Aden Young).

Perburuan tiga pembunuh bayaran profesional ke Inggris membawa mereka “bertemu” dengan kelompok The Feather Men, sebuah organisasi preman kelas atas yang ternyata para eksekutifnya dulunya juga anggota SAS. Karena kelompok ini ilegal dan paling takut dengan pers yang sekali waktu bisa mampu mengendus keberadaannya, maka dipilihlah Spike Logan (Clive Owen) sebagai centeng sekaligus komandan operasi lapangan guna menangkal setiap upaya mendeteksi keberadaan The Feather Men ini.

Nah, Spike yang juga mantan anggota SAS ini menjadi lawan tangguh Danny. Meski akhirnya, Danny berhasil mencincang ketiga mantan anggota SAS sesuai pesanan sheik, namun berhadapan dengan Spike adalah urusan otot dan adu strategi. Dua asisten Danny tewas. Spike pun juga berminat dengan duit sebanyak 6 juta dolar AS yang sempat ditawarkan Hunter namun kemudian gagal dia bawa pulang lantaran misinya gagal.

Urusan uang itulah yang membuat Spike datang ke Oman dengan misi balas dendam: membantai Sheik karena gara-gara dialah ketiga mantan SAS telah menjadi korban keganasan Danny. Kematian Sheik dan koper berisi duit 6 juta dolar akhirnya mempertemukan Danny, Hunter dan Spike di gurun pasir. Alih-alih saling tembak, kedua kubu yang semula saling incar itu kemudian “rukun” karena masing-masing beranggapan misinya sudah selesai.

Hunter pulang dengan segepok uang kembali menemui keluarganya di AS. Dannny kembali ke Bukit Yarra di Australia menikmati babak hidupnya yang baru bersama Anne (Yvonne Strahovski).

Film besutan sutradara Gary McKendry ini diangkat dari kisah nyata sebagaimana pernah diungkap melalui novel berjudul The Feather Men karya Sr. Ranulp Fiennes.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here