15 Novis SCJ Ikrarkan Kaul Pertama, Satu Jadi Bruder SCJ (1)

0
319 views
15 Novis SCJ Ucapkan Kaul sebagai religius. (Romo Frans de Sales SCJ)

HARI Sabtu (20/7) lalu, 15 anak muda memantapkan hati mengikrarkan kaul pertama dalam Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ) di hadapan Romo Titus Waris Widodo SCJ, Provinsial SCJ Indonesia, di Gereja St Pius X Gisting, Tanggamus, Lampung.

Saat ditanya oleh Romo Titus tentang kesungguhan hati mereka menjadi biarawan SCJ, serentak mereka menjawab bahwa mereka sungguh-sungguh ingin menjadi biarawan SCJ.

Ke-15 anak muda itu adalah Yustinus Parulian Sianturi, Jufofmian Ferdinandus Sidabutar, Richardus Budiono, Emanuel Fredericus Magai, Markus Bambang Pamungkas, Stevanus Efva Nurdino, Bofry Wahyu Samosir, Novtavianus Aldi Prayoga, Thomas Mersudi Tomo, Yohanes Kukuh Yogisworo, Albertus Primus Widyawan, Yohanes Siapril Purba, Antonius Triyanto, Sesarius Hardy Dwi Putranto, dan Anda Sura Atmaja Ginting.

Satu menjadi bruder SCJ

Sebanyak 14 frater mengikrarkan kaul sebagai biarawawan calon imam. Sedangkan Yustinus Parulian Sianturi mengikrarkan kaul sebagai biarawan bruder SCJ. Setelah menyiapkan diri selama dua tahun, 15 anak muda ini berani mengikrarkan kaul-kaul hidup membiara.

Sebelum mengikrarkan kaul, mereka menyiapkan diri dengan retret yang dipimpin oleh Rm Paulus Harnasa Purba SCJ.

Dalam kotbahnya, Romo Titus mengatakan bahwa judul kotbahnya sesuai dengan tema ‘Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu’. Ia mengatakan, panggilan hidup religius itu dimulai oleh Allah. Allah yang memilih manusia untuk berada dalam kuasaNya.

“Kalianlah yang dipilih. Namun pemilihan itu tidak secara langsung seperti dalam Injil di mana Yesus memanggil dengan nama, atau pegang pundaknya. Tetapi Yesus memanggil melalui pengalaman-pengalaman hidup sehari-hari,” kata Romo Titus SCJ.

Pengikraran kaul merupaakan kesediaan untuk menjawab ‘ya’ atas panggilan Tuhan. Kaul pertama mengandaikan kaul untuk selamanya. Soalnya, bagaimana religius zaman sekarang menghayati kaul-kaul hidup membiara?

Tiga kaul

Melalui Kaul Kemurnian, kaum religius mempersembahkan seluruh hidup kepada Tuhan. Para religius menghabiskan waktu dengan Tuhan dalam doa-doa daripada sibuk dengan gadget.

“Ketika saya dengan bijaksana memperlakukan perempuan sesuai dengan kodrat mereka itu berarti saya menghayati kaul kemurnian saya,” tandas Romo Titus Waris Widodo dalam Perayaan Ekaristi yang dihadiri sekitar 700 umat di Gereja St Pius X Gisting, Tanggamus, Lampung.

Berkenaan dengan Kaul kemiskinan, Rm Titus mengatakan menjadi sulit dalam penghayatannya. Alasannya, sekarang ini para religius punya apa-apa. Ia mencontohkan dirinya yang waktu frater ke mana-mana naik sepeda onthel. Lalu kemudian punya motor. Dan akhirnya sekarang ke mana-mana naik mobil atau pesawat.

Ia mengajak para frater untuk tetap setia dalam menghayati Kaul Kemiskinan. Misalnya, dengan membuat laporan keuangan yang baik dan benar.

“Miskin berarti saya menyerahkan apa yang saya miliki kepada Tuhan dan sesama,” kata Romo Titus yang pernah berkarya di Seminari St Paulus Palembang selama 17 tahun ini.

Sekarang ini, kaum religius hidup dalam dunia yang menekankan kebebasan. Karena itu, Kaul Ketaatan sering menjadi hal yang sulit dijalankan. Orang ingin memenuhi kehendak dirinya sendiri daripada kehendak kongregasi.

“Menghayati Kaul Ketaatan berarti kita menyelaraskan kehendak diri dengan kehendak Tuhan. Dengan gembira menyelesaikan tugas-tugas. Siap diutus meski tidak tahu ke tempat mana yang dituju. Ketaatan juga berarti saya memberi rasa hormat terhadap mereka yang bekerja dengan saya,” kata Romo Titus Waris Widodo SCJ.

Banyak cara

Menurut Romo Titus SCJ, ada banyak cara untuk mengidupi tiga kaul. Para religius diminta untuk menghasilkan pergi, menghasilkan buah dan buahnya tetap. Seorang religius pergi ke tengah dunia untuk melanjutkan tugas perutusan dengan mewartakan kabar sukacita kepada semua orang.

Kaum religius tidak pergi begitu saja, namun mereka pergi untuk menghasilkan buah. Buah-buah kaul adalah sukacita yang tampak dari seri wajah kaum religius. Di mana ada religius, di sana ada sukacita. Hal ini terjadi karena dikasihi oleh Allah dan sesama.

“Seorang religius didukung oleh banyak orang, karena kasih itu. Kasih tumbuh dalam komunitas persaudaraan. Buah lain adalah kemantapan dalam menjalani hidup. Arah hidup sudah pasti, terang benderang kepada Allah yang mengasihi,” tandas Rm Titus SCJ, lulusan dari Chicago, Amerika Serikat, ini.

Untuk itu, kaum religius mesti optimis dalam hidup hidup mereka. Dengan mengikatkan diri pada Allah semata, kaum religius kemudian menghasilkan buah-buah yang tetap.

Dari mimpi

Br. Yustinus Parulian Sianturi SCJ, yang baru saja mengikrarkan kaul pertama, mengatakan bahwa ia menjadi biarawan bermula dari mimpi untuk menjadi imam dan religius. Ketika lulus SMP, ia mendaftarkan diri untuk masuk seminari. Namun ia tidak diterima. Mimpi untuk menjadi biawaran tidak putus di jalan.

Pria asal Indralaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, ini kemudian melanjutkan pendidikannya di SMK. Ia terus-menerus memelihara benih panggilan yang masih tumbuh dalam hatinya.

“Setelah lulus SMK, saya bekerja. Saya punya gaji. Lalu saya beranikan diri untuk masuk SCJ,” tutur Br.

“Saya bekerja. Saya punya gaji. Lalu saya beranikan diri untuk masuk SCJ,” tutur Br. Yustinus Parulian Sianturi SCJ yang tiga tahun lalu memulai pendidikan di Novisiat St Yohanes Gisting, Tanggamus, Lampung, ini.

Kini mimpi itu menjadi nyata dalam hidupnya. Bersama 14 frater calon imam, ia mengikrarkan kaul-kaulnya dalam Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here