Ternyata, Semua Perkawinan itu Bermasalah (1) Ajaran & Hukum Gereja Katolik tentang 1001 Problem Perkawinan

By on July 22, 2011 | 3,693 views
marry

SIKAP terhadap masalah dalam perkawinan perlu didasari pada pandangan bahwa pada dasarnya semua perkawinan itu bermasalah. Pandangan ini penting untuk menentukan langkah kongkret yang mau diambil.

Perlu senantiasa disadari bahwa perkawinan adalah pertemuan dan persatuan dua pribadi, laki-laki dan perempuan, yang masing-masing sungguh unik. Di satu sisi keunikan ini terjadi karena struktur biologis dan psikis yang ada sejak lahir. Di sisi lain ada keunikan yang terjadi karena pengalaman hidup dan konteks sosial yang berbeda. Ditambah lagi, dinamika hidup yang makin tunggang-langgang sekarang ini membuat hidup dan permasalahannya makin kompleks.

Empat gradasi masalah

Sehubungan dengan masalah dalam perkawinan itu, perlulah diperhatikan bahwa masalah dalam perkawinan itu begitu beragam. Karena itu, sikap yang diambil pun bermacam-macam. Seturut pengamatan, setidaknya ada empat gradasi masalah. Supaya mudah diingat, keempat gradasi itu disebut stadium I, stadium II, stadium III dan stadium IV.

Seperti halnya penyakit, keempat stadia ini punya ciri sendiri-sendiri, baik ciri obyektif (berkaitan dengan masalahnya) maupun ciri subyektif (berkaitan dengan dampaknya bagi yang mengalami), dan karena itu perlu perlakuan yang berbeda. Paparan singkat ini akan menguraikan keempat stadia tadi dan gambaran sikap serta perlakuan terhadapnya.

Stadium I

Telah dikatakan di atas bahwa hampir tidak ada perkawinan yang tanpa masalah. Karena itu, dapatlah dikatakan bahwa banyak perkawinan ada dalam stadium I ini. Karena itu pula, stadium I ini bisa dikatakan sebagai hal yang normal atau wajar.

Ciri-ciri obyektif dari stadium 1 ini adalah bahwa dalam hal kualitas sumber permasalahannya masih dalam kategori ringan atau sepélé. Perkara yang menjadi sumber konflik bukanlah perkara yang esensial dalam hidup perkawinan. Perkara-perkara  esensial dalam perkawinan sangat berkaitan dengan dua nilai pokok perkawinan Katolik yaitu monogami dan tak terceraikan (satu suami/isteri dan untuk seumur hidup) berikut dua tujuan pokoknya: kesejahteraan pasangan (lahir-batin-rohani) dan kelahiran serta pendidikan anak. (Gaudium et Spes art. 48-51 dan kanon 1055-1056 Kitab Hukum Kanonik, 1983).

Perbedaan selera makan dan perbedaan gaya rekreasi adalah dua contoh yang sangat lumrah terjadi pada pasangan suami-isteri. Kebanyakan suami-isteri bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik, meski toh kadang berulang. Dalam hal kuantitas, frekuensi konflik yang terjadi karena perbedaan ini juga relatif jarang serta berlangsung dalam waktu yang relatif singkat.

Ciri subyektifnya adalah bahwa masing-masing pihak tidak terlalu terpengaruh oleh konflik yang terjadi. Kalau toh terpengaruh secara emosional, hal dapat itu segera diatasi. Kadang sebel atau gondok pada pasangan adalah hal yang lumrah, seperti halnya kita kadang sebel atau gondok pada teman atau bahkan pada orang-tua. Dengan kata lain, masalah dalam stadium I ini masih relatif gampang ditanggung oleh pasangan yang bersangkutan.

Karena masih bisa dikatakan dalam taraf normal, stadium I ini sebaiknya juga disikapi secara biasa-biasa saja, bisa di-cuèk-in, dianggap sebagai bumbu perkawinan. Hanya saja, sebenarnya ada sikap yang lebih positif. Sikap positif ini adalah melihat konflik sebagai sebuah kesempatan untuk lebih mengenal pasangan. Tentu saja diandaikan bahwa masing-masing pihak mau mengomunikasikan perasaannya, mendengar pihak yang lain dan mengolahnya bersama.

Romo Dr. Andang Listya Binawan SJpastor Yesuit ahli hukum gereja;alumnus The Catholic University of America dan Katholieke Universiteit di Leuven, Belgia; dosen Hukum Gereja di STF Driyarkara Jakarta dan pemerhati ekologi khususnya sistem pengelolaan sampah.

Print Friendly

avatar

About Romo Dr. Andang Listya Binawan SJ

Pastor Yesuit, ahli hukum gereja alumnus The Catholic University of America dan Katholieke Universiteit di Leuven, Belgia, dosen Hukum Gereja di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta dan pemerhati ekologi khususnya sistem pengelolaan sampah.

2 Comments

  1. avatar

    No name

    August 3, 2012 at 23:31

    Dear Romo,
    It’s easy to say than done. Kalo sdh dongkol biasanya pasti Jadi sebel dan males Liat tampangnya, Gimana bisa pengen lbh mengenal sifatnya kalo Liat wajahnya aja bikin tambah be-te.

  2. avatar

    magda

    November 16, 2012 at 16:42

    Setuju memang semua perkawinan bermasalah dan tidak ada resep yang jitu untuk mengatasi. Apalagi kalau kedua belah pihak sudah secara sadar dan sengaja memelihara kekurangan masing-masing, bakalan sulit banget dikompromikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>