Umat Katolik di Australia, Khususnya di Brunswick

By on July 28, 2011 | 1,065 views
Gereja St. Ambrose di Brunswick, Victoria, Australia

DI awal sejarah, Australia adalah merupakan daerah convict (pembuangan) Inggris. Pada masa itu, iklim permusuhan begitu kental di Benua Kangguru dimana komunitas Anglikan Inggris tak mungkin bisa “duduk satu meja” dengan komunitas Katolik Irlandia. Ketika komunitas Anglikan Inggris mendominasi tatanan sosial dan politik waktu itu, jangan harap mereka yang berani mengaku Katolik asal Irlandia bisa mendapatkan pekerjaan.

Namun perlahan, suasana itu berubah, seiring dengan peta perkembangan populasi di Australia yang berubah usai gelombang kedatangan imigran Italia yang dari sononya memang sudah katolik. Kini, agama terbesar di Australia adalah katolik. Barangkali bisa mendekati angka 25 persen dari keseluruhan jumlah penduduk di Benua Kangguru ini.

Hanya saja –seperti di Eropa—mereka yang suka mengikuti misa tak lebih dari 10 persen dari jumlah keseluruhan umat katoliknya. Secara umum, mereka memang menganggap diri tetap katolik, namun hanya katolik “napas” alias hanya (mau) ke gereja ketika Perayaan Natal dan Paska.

Victoria

Di Brunswick, sesuai data sensus 1991, terdapat  4.169 (31%) orang katolik. Umat  Paroki St. Ambrose yang ada di jantung kota Melbourne pada awalnya didominasi warga Australia  keturunan Irlandia. Belakangan, komunitas ini “tambah warga” keturunan Italia yang kemudian mendominasi. Sekalipun tahun-tahun terakhir ini menurun, populasi warga keturunan Italia masih tetap mendominasi umat Paroki St. Ambrose dengan perkiraan angka sebesar 50 persen dari total jumlah umat paroki ini.

Dominasi itu terasa sekali, setiap kali misa mingguan dimana bahasa Italia menjadi semacam “bahasa resmi” misa mingguan, selain bahasa Inggris di misa hari Sabtu malam dan Minggu pagi. Namun karena mulai banyak berdatangan orang-orang Asia –umumnya mahasiswa dan mereka memilih menetap di Brunswick—kini warna Asia juga mulai kelihatan.

St. Ambrose of  Brunswick

Sejak awal dibangun tahun 1869, Gereja St.Ambrose memilih bergaya gothic. Ini termasuk salah satu bangunan gereja terindah di Melbourne. Gereja ini dibangun dengan bluestone, atap kayu, dan jendela kaca berukir (les vitraux) yang indah, lengkap dengan tambahan orgen pipa peninggalan tahun 1930 yang rampung dikerjakan tahun 1873. Konon, biaya pembuatan organ pipa ini menelan dana tak kurang dari enam ribu pounds.

Nama Santo Ambrosius diambil dari nama uskup di Italia yang hidup di abad ke-4. Bangunan gereja paroki ini memuat daya tampung umat sebanyak 300 orang dewasa. Ini merupakan pengembangan dari bangunan gereja sebelumnya di tahun 1899 dengan penambahan beberapa bagian baru.

Salah satu hal  menarik di gereja ini adalah areal kebun yang dibangun pada tahun 2000. Biaya pembuatan kebun ini didanai oleh City of Moreland. Di sini terdapat pepohonan olive, bunga, dan tempat duduk bagi yang jenuh dengan keramaian Sydney Road. Berbeda dengan gereja lain di Melbourne, setiap kali misa, umat paroki St. Ambrose selalu mendapat hosti dan anggur. (Bersambung)

Royani Lim, alumnus  University of Melbourne.

Print Friendly
avatar

About Mathias Hariyadi

@MHSesawiNet http://mytitch.blogspot.com; http://kbkkindonesia.com mhariyadi@sesawi.net mhariyadi@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>