Didiek SSS Main “Seks”ofon untuk Romo Sulistiadi Pr (1)

By on August 14, 2011 | 1,389 views
DIDIEK SSS

[media-credit id=3 align="alignleft" width="300"][/media-credit]

LAMA tak bersua, tahu-tahu tanpa diduga bertemu lagi di Seminari Wacana Bhakti (SWB) di Jl. Pejaten Barat 10, Pasar Minggu, Jakarta Selatan beberapa tahun silam. Saat itu, Didiek SSS resminya sudah menyandang profesi sebagai musisi, khususnya peniup saksofon beraliran jazz. Sementara, sobat lamanya Romo Justinus Sulistiadi Pr, imam diosesan Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), waktu itu menjadi pamong SWB.

Didiek meramu jurus-jurus bermusik dan mendidik para seminaris SWB (Kolese Gonzaga) dalam sebuah kelompok orkestra, namun kali ini “jurus” musik yang ditawarkan Didiek adalah musik klasik. Sementara Romo Sulistiadi sebagai pamong bertugas membekali para seminaris dengan beberapa mata pelajaran utama guna memenuhi kurikulum pendidikan seminari.

Kenangan masa silam

Itu nukilan cerita 10-15 tahun lalu. Namun, jauh ke belakang sana –sekitar 30 tahun silam—ternyata keduanya juga saling kenal di “tanah tumpah darah” mereka yakni di Solo (Surakarta) ketika Romo Sulis dan Didiek masih anak-anak. “Saya tak menyangka, kalau Sulis itu bisa jadi pastur,” kata Didiek SSS menguak masa silamnya dengan Romo Sulis di panggung pentas diskusi tentang adorasi kepada Ekaristi dan Bunda Maria di Paroki Santo Jakobus, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Sabtu (13/8).

“Kalau main layangan atau gambar, Romo Sulis itu sukanya ngluruk (pergi ke kampung lain mencari ‘musuh’ bermain),” kenang Didik nyentil kawan kecilnya. “Selepas lulus SMP tahun 1979”, lanjutnya, “saya lalu merantau ke Jakarta dan tahu-tahu beberapa tahun berselang, Romo Sulis diberitakan masuk seminari. Loh kok bisa ya….?,” gumam Didiek SSS sekali nyentil canda tentang Romo Sulistiadi Pr.

Romo Sulistiadi Pr sendiri hanya bisa klecam-klecem. Sembari  menikmati guyonan canda ala Didiek SSS, Romo Sulis yang ahli main teater ini tetap fokus pada pergelaran acara talk show bertema adorasi kepada Ekaristi dan Maria sebagaimana dihayati oleh almarhum Beato Paus Yohanes Paulus II.

Sebagai narasumber utama dalam acara ini adalah Romo Prof. Dr. Giusseppe Buono PIME, mantan anggota Propaganda Fidei Curia Romana—departemen  khusus di Pemerintahan Vatikan yang menangani pewartaan iman.

[media-credit id=3 align="alignleft" width="683"][/media-credit]

Main “Seks”ophone

Bukan Didiek SSS namanya kalau tampil tidak selalu membawa baby saxophone, instrumen tiup yang kemana-mana menjadi andalannya menjual keahlian bermain musik. Namun di forum perhelatan talk show di Paroki Santo Yakobus Kelapa Gading itu, Didiek tidak tampil menyuguhkan irama jazzy tunes yang menjadi keahliannya bermain saksofon.

Didiek SSS tampil membawakan tembang-tembang rohani. Maklumlah.  Di hadapan khalayak umat katolik se-KAJ penikmat  acara talk show tentang devosi kepada Ekaristi dan Maria itu, ia sengaja memainkan antara lain Ave Maria karya komponis besar Franz Schubert dan Dhèrèk Ibu Dewi Mariyah yang fenomenal.

Tak ayal, ratusan peserta talk show –tak kurang Romo Prof. Dr. Giusseppe Buono PIME bersama lima anggota rombongannya dari Napoli, Italia—ikut terbuai dalam “lamunan” kontemplasi rohani. Baby saxophone Didiek SSS ibarat alunan rohani yang mampu membius imagi pendengar untuk “mengembara” menikmati kekayaan rohani Gereja Katolik melalui karya klasik lagu-lagu gerejani.

“Saya membawakan lagu lawas bertitel Dhèrèk Ibu Dewi Mariyah ini karena satu alasan. Kata Romo Sulis, tembang lawas yang dia akrabi semasa kecil ini bisa membawa dia pada kontemplasi rohani yang begitu dalam. Tak jarang, bisa membuat Romo Sulis menangis haru,” tutur Didiek SSS di atas panggung talk show.

Yang pasti, kata Didiek SSS, “Saya bukan main “seks”ofon melainkan saksofon,” kata adik pemusik jazz papan atas Indonesia (alm) Embong Rahardjo ini di balik panggung kepada Sesawi.Net sembari ber-ha-ha-hi-hi….

[media-credit id=3 align="alignleft" width="1024"][/media-credit]

Pembicara istimewa

Tentu ada alasan personal mengapa Didiek SSS mau tampil di perhelatan rohani  yang  membahas topik devosi-adorasi kepada Sakramen Maha Kudus dan Maria ini.  Lahir dari sebuah forum kerjasama antara Cultura di Vita –lembaga nirlaba bentukan Romo Sulistiadi—bersama Komunitas Spiritualitas Yohanes Paulus II rintisan  Yohana Halimah dari KWI, jadilah sebuah acara talk show dengan tamu istimewa: Romo Giusseppe Buono PIME langsung dari Italia.

Sebagai profesor emeritus bidang misiologi dan bioetika di Universitas Urbaniana di Roma, Romo Buono PIME tentu bukan nama sembarang nama.  Selama bertahun-tahun bertugas di Departemen Propaganda Fidei di Curia Vatican, Romo Buono mengenal dekat pribadi Beato Paus Yohanes Paulus II.

Menghibur sang teman lawas yakni Romo Justinus Sulistiadi sambil menawarkan suasana lain di tengah acara talk show lewat alunan instrumen bernafaskan rohani itulah, misi Didiek SSS memain baby saxophone-nya mengurai Ave Maria dan Dhèrèk Ibu Dewi Mariyah. Respon penonton pun jadi heboh, saat dimainkan Volare tembang country music garapan The Gipsy King hingga memaksa Romo Buono tampil ke atas pentas. Begitu pula, sorak-sorai membahana saat dimainkan repertoar sederhana O, Sole Mio (O, Matahariku), tembang andalan tenor Italia almarhum Luciano Pavarotti. “Saya jadi ingat kota kelahiran saya, Napoli,” kata Romo Buono.

20 tahun imamat

Di balik semua gegap gempita di atas panggung talk show dan pentas pendek alunan musik saksofon Didiek SSS itu, ternyata ada acara penting lain yakni pesta memperingati rahmat istimewa 20 tahun imamat Romo Justinus Sulistiadi Pr. Bersama Romo Sulis, ikut pula merayakan jubelium kedua tahbisan imamat adalah Romo Tunjung Kesuma Pr dan Gunawan Tjahja Pr, Pastor Kepala Paroki Santo Jakobus Kelapa Gading.

Jadilah alunan saksofon Didiek SSS itu menjadi hiburan sekaligus pencipta suasana rohani sepanjang sesi talk show berdurasi hampir 4 jam bertema adorasi kepada Sakramen Maha Kudus dan Bunda Maria ini. Lewat alunan musik, Didiek melayani sesama sekaligus mengindungkan pujian kepada Tuhan.

Mathias Hariyadi, penulis dan anggota Redaksi Sesawi.Net.

Print Friendly

avatar

About Mathias Hariyadi

@MHSesawiNet http://mytitch.blogspot.com; http://kbkkindonesia.com mhariyadi@sesawi.net mhariyadi@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>