Romo J. Adi Wardaya SJ: Kembali Memaknai Ekaristi (2)

By on December 8, 2011 | 1,537 views
misa9

SEKARANG ini, kita sangat dipengaruhi oleh mentalitas abad pertengahan di atas, sehingga kita mengalami kesukaran untuk merasakan cerita perjamuan terakhir.

Sabda Yesus: “Inilah tubuhKu” telah berabad-abad hanya dihubungkan dengan roti. Kalau sekarang kita mencoba mendengarkan kata-kata itu dengan semangat ekaristi sebagai aksi bersama, akan muncul getaran yang berbeda dari yang selama ini kita yakini.

“TubuhKu”

Istilah “tubuhKu” menunjuk kepada kepatuhan utuh orang yang berbicara, yakni Yesus yang rela sampai mati patuh kepada kehendak Allah untuk menyelamatkan manusia. ‘Tubuhku yang diserahkan bagimu’ melambangkan seluruh tindakan: memberkati, memecahkan dan membagi-bagikan roti. Sedangkan kata ”inilah’ menunjuk pada seluruh perbuatan Yesus, bukan roti itu saja.

Maka Tradisi Gereja Purba tidak mempermasalahkan perubahan roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Yesus, tetapi lebih memperhatikan umat beriman. Bukan apa yang terjadi dengan roti dan anggur melainkan “apa yang terjadi dengan umat beriman yang merayakan perjamuan dengan roti dan anggur?”

Mereka yang mengambil bagian dalam perjamuan harus menjadi “roti dan anggur bagi sesama”, seperti Yesus sendiri adalah roti dan anggur yang diserahkan pada umat. Karena iman Gereja Purba bersifat normatif bagi iman kita sekarang, maka tidak tersedia  pilihan lain bagi kita kecuali harus membangun Gereja agar semakin hari semakin menjadi roti bagi umat manusia.

Niat ini harus selalu diperbaharui bila umat bersama-sama merayakan ekaristi, dan dengan demikian kesadaran akan makna ekaristi juga akan semakin diperdalam (Boff, 23-30).

Mengenang Yesus berarti mengakui Dia sebagai ‘man for others’, yakni orang yang secara tegas dan tuntas patuh kepada kehendak Allah untuk membebaskan manusia dari cengkeraman rezim dosa. Penjajahan dosa dewasa ini tampil dalam tatanan dan sistem yang menghisap habis-habisan manusia dan alam semesta.

Setiap pengikut Yesus tidak cukup mengamini gagasan itu tetapi juga mengamankan­nya dari rongrongan ambisi tersembunyi dalam diri kita maupun ancaman dari luar. Kemudian dengan semangat bekerja tanpa mengharapkan imbalan dan berjuang tanpa mengeluh kesakitan kita mencoba agar gagasan itu menjadi kenyataan.

Saat ini kita wajib menggali kembali akar tradisi asli dari Alkitab, sehingga ekaristi lebih menjadi ‘tindakan’ seperti dilakukan oleh Gereja Purba. Seluruh tindakan dalam hidup kita persembahkan ke altar.

Maka ketika imam berkata : Inilah tubuh Kristus dan kita menjawab amin, artinya kita mengamini kenyataan diri kita itu. Dengan demikian ekaristi berdaya-guna untuk membangun hidup kita sebagaimana dikehendaki Yesus.

Akhirnya mulai sekarang harus dibangun komu­nitas ekaristi (Paoli, 25-28), yakni komunitas yang dihimpun melalui ekaristi yang asli. Komuni­tas itu senantiasa berusaha menafsirkan ceritera tentang Yesus dalam kenyataan sehari-hari (Gustafson, 56-58). Ibadat yang kehilangan ceriteranya akan cepat berubah menjadi upacara rutin dan mandul. Bila sudah demikian tidak mungkin membuat komitmen yang tulus.  (Selesai)

K e p u s t a k a a n

Balasuriya, Tissa:  The Eucharist and Human Liberation, London: SCM Press Ltd, 1977.

Berger, Peter L: Kabar Angin dari Langit,  Jakarta : LP3ES, 1992.

Boff, Leonardo:  Ecclesiogenesis. the Base Communities Re-invent the Church, Quezon City : Claretian Publications, 1986.

Galilea, Segundo: The Reign of God and Human Liberation, Quezon City: Claretian Publications, 1987.

Grassi, Joseph A: Broken Bread and Broken Bodies, New York : Orbis Books, 1985 .

Gustafson, James M: Treasure in Earthen Vessel, New York: Harper & Row Publisher, 1961.

Hellwig, Monica K: The  Eucharist and the Hunger of the World. New York : Paulist Press, 1976.

Mesa , Jose M. de:  In Solidarity with Culture, Quezon City: Maryhill School of Theology no. 4, 1987.

Nolan, Albert:  Jesus before Christianity, Quezon City: Claretian Publications,1985.

Paoli, Arturo:  Gather Together in My Name, Quezon City: Claretian Publications, 1987.

 To share food and share drink is to share each other’s fate and blessing

 

Print Friendly

avatar

About Mathias Hariyadi

@MHSesawiNet http://mytitch.blogspot.com; http://kbkkindonesia.com mhariyadi@sesawi.net mhariyadi@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>