Gua Natal di Paroki St. Lukas Pemalang Serukan Cinta Bumi

By on December 19, 2011 | 3,159 views
gua1

Dekorasi natal di gereja Paroki St. Lukas Pemalang pada tahun ini amat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Gua natal dibuat besar, meliputi seluruh panti imam, sehingga altar berada di dalam gua.

Pembuatan gua ini diprakarsai Romo Paroki yang awalnya ngajak “glenak glenik” (red: diskusi kecil) dengan sie dekorasi kepanitiaan Natal. Tidak ada desain yang jelas pada mulanya, sehingga mereka masih tampak bingung.

Dalam sebuah pertemuan komunitas basis III Lingkungan Ignatius, dibicarakan dan dirancang bersama oleh sie dekorasi kepanitiaan natal yakni Bp. Sunarto, Bp. Lorensius Widi Raharjo, Bp. Beni Harsono didukung oleh warga Kombas III Lingkungan St. Ignatius seperti Bp. Budi, Mas Wawan dan kawan-kawan. Pembuatan gua dimulai pada Minggu, 11 Desember 2011 dengan membedah kantong semen dan mendirikan rangka gua dengan menggunakan bambu.

Kantong semen terkumpul dari sumbangan beberapa umat dengan total 653 kantong semen (tigaroda: 414, holcim: 146, Padang: 93). Selanjutnya setiap malam dikerjakan pemasangan ranting pohon dan kertas semen sebagai dinding gua. Mereka bekerja dari pukul 19.00 hingga pukul 23.00 wib.

Tentu siang hari mereka tak bisa mengerjakan, karena bekerja menurut mata pencaharian mereka masing-masing. Ada yang guru SMA, karyawan swasta, pelajar skolah, dll. Kalau hari Minggu mereka bisa bekerja setelah misa pagi Pk. 09.00 Wib.

Setelah dinding gua terbentuk, dilakukan penyemprotan cat dan pemasangan ornamen tulisan Gloria in Exelcis Deo serta pembuatan palungan kanak-kanak Yesus. Hal yang akan lain daripada yang lain ialah penurunan kanak-kanak Yesus dari atas ke palungan.

Biasanya dalam liturgi Natal, kanak-kanak Yesus diarak oleh sepasang suami istri yang menjadi simbol Maria dan Yosep, namun Natal kali ini tidak memakai perarakan kanak-kanak Yesus. Diiringi lagu “O Tuhan Datanglah”, kanak-kanak Yesus akan diturunkan pelan-pelan dari atas dengan tali senar yang kuat, disorot lampu lalu ditempatkan di palungan.

Inilah gambaran turunnya anugerah ilahi dari surga bagi dunia dalam rupa kanak-kanak Yesus, Sang Penebus dosa dan Penyelamat dunia. Ia bukan dari dunia namun rela datang ke dunia demi keselamatan umat manusia.

Pesan lingkungan hidup
Palungan adalah tempat pakan ternak, yang kotor dan sangat sederhana. Sebenarnya tempat itu tidak pantas untuk tahta Kanak-Kanak Yesus, namun atas kehendak-Nya hal yang sederhana menjadi sarana penyelamatan. Palungan berada di atas dunia (globe) dengan segala persoalan dan kelemahannya.

Di bawah globe ditempatkan exhouse fan yang diberi lampu merah, diberi potongan kertas krep merah yang bergerak seperti api membara, yang menggambarkan bumi yang terbakar panas (simbol pemanasan global). Di dalam dunia terdapat banyak perilaku manusia yang jahat, merusak dan bahkan menghancurkan bumi itu sendiri.

Pemanasan global adalah peningkatan suhu rata-rata permukaan bumi. Sejak akhir abad 18 suhu rata-rata global bumi telah meningkat sekitar 0,4 – 0,8°C. Para ilmuwan memperhitungkan bahwa suhu rata-rata bumi akan meningkat menjadi 1,4 – 5,8°C pada tahun 2100. Nilai peningkatannya menjadi lebih besar dibandingkan dengan nilai-nilai peningkatan yang pernah terjadi sebelumnya.

Para ahli mengkawatirkan bahwa kehidupan manusia dan ekosistem alam tidak akan mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim yang sangat cepat. Suatu ekosistem adalah terdiri dari lingkungan biotik dan abiotik di wilayah tertentu. Pemanasan global dapat menyebabkan banyak kerusakan. Sebagian besar ahli berkesimpulan bahwa kegiatan manusialah yang menjadi penyebab utama meningkatnya pemanasan global yang seringkali dikenal dengan efek rumah kaca.

Kegiatan manusia yang menimbulkan pemanasan global adalah pembakaran minyak bumi, batu bara, dan gas alam dan pembukaan lahan. Sebagian besar pembakaran berasal dari asap mobil, pabrik, dan pembangkit tenaga listrik. Pemanasan global yang terus menerus dapat menimbulkan kerusakan-kerusakan. Tanaman dan binatang yang hidup di dalam laut menjadi terganggu. Binatang dan tumbuhan di daratan terdorong untuk berpindah ke habitat yang baru.

Pola cuaca menjadi berubah menyebabkan timbulnya banjir besar, kekeringan, angin kencang, dan badai yang besar. Mencairnya es di kutub mengakibatkan peningkatan tinggi permukaan air laut. Penyakit-penyakit menyerang manusia secara meluas dan terjadi penurunan hasil panen di beberapa wilayah. Jika bumi sebagai tempat tinggal manusia tidak lagi nyaman, maka timbul banyak keresahan, situasi memanas, rentan konflik, ketidakadilan sosial dan tindak kriminalitas di mana-mana.

Kita dapat membantu untuk mengurangi efek pemanasan Global dengan melakukan: penggunaan kendaraan umum dibanding pribadi, memilih kendaraan yang hemat bbm, energi alternatif selain fosil, penggunaan peralatan yang hemat listrik, mengurangi pemakaian kertas, mengurangi penggunaan minyak goreng dan menanam pohon untuk penghijauan.

Dekorasi gua natal tahun ini memuat pesan pastoral lingkungan hidup (ekopastoral). Pesan yang mau disampaikan ialah: Cintailah bumi karena bumi menjadi tempat kehadiran Sang Juru Selamat, yakni Yesus Kristus. Bumi dengan segala persoalannya dipilih sebagai palungan bagi Tuhan.

Demikian pula bumi/dunia kita baik itu masyarakat, Gereja, keluarga maupun pribadi kita masing-masing menjadi palungan bagi Tuhan. Inilah anugerah besar bagi kita. Perayaan misteri Natal sekaligus menjadi undangan untuk bergegas menyambut Dia yang lahir bagi kita. Immanuel, Allah beserta kita.

Print Friendly

avatar

About Mardi Usmanto Pr

Pastor diosisan (praja) Keuskupan Purwokerto; kini menjalani tugas pastoral di Paroki Pemalang, Jawa Tengah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>