Ahli Bencana dari Jepang: Gedung Sekolah di Indonesia Perlu Didesain Sebagai Penampungan

By on March 1, 2012 | 2,506 views
sekolah

Gedung sekolah di Indonesia perlu didesain sebagai “shelter” atau tempat penampungan para pengungsi ketika terjadi bencana, kata pakar kebencanaan dari Aoyama Gakuin University, Tokyo, Jepang, Stefano Toshiya Tsukamoto.

“Pemerintah Indonesia disarankan mengikuti langkah yang dilakukan pemerintah Jepang yang menggunakan gedung sekolah sebagai ’shelter’ bagi pengungsi, jika terjadi bencana,” katanya pada diskusi “Manajemen Bencana dan Partisipasi Masyarakat” di Yogyakarta, Kamis.

Oleh karena itu, menurut dia dalam diskusi yang diselenggarakan Institute of International Studies (IIS) Universitas Gadjah Mada (UGM), perlu dirancang bangunan sekolah yang tahan gempa dengan fasilitas sanitasi yang lebih baik.

“Konsep manajemen bencana yang diterapkan di Jepang itu belajar dari pengalaman bencana gempa di Kobe pada 1995. Sekarang di Jepang gedung sekolah digunakan untuk tempat penampungan pengungsi, selain mengajarkan simulasi bencana,” paparnya.

Ia mengatakan, bangunan sekolah yang kuat bukan hanya untuk tempat “shelter”, tetapi juga melindungi keselamatan anak-anak saat terjadi gempa. Di Jepang, sekolah-sekolah dibangun agar bisa resisten terhadap gempa.

“Model penanganan pascabencana di Indonesia yang masih menempatkan pengungsi tinggal di bawah tenda itu sangat tidak nyaman. Oleh karena itu, perlu dicarikan gedung yang baik dan nyaman, yakni gedung sekolah,” ujarnya.

Menurut dia, kondisi Indonesia tidak berbeda jauh dengan Jepang sebagai negara yang rawan terkena bencana mulai dari bencana gempa bumi, tsunami hingga erupsi gunung berapi.

Oleh karena itu, pemerintah perlu memprioritaskan partisipasi masyarakat dalam program manajemen pascabencananya.

“Manajemen bencana tidak harus selalu diartikan sebaga proses ’top-down’, di mana pemerintah menjadi aktor yang berperan dalam penentuan kebijakan manajemen bencana dan mengimplementasikan pada masyarakat,” ucapnya.

Ia menuturkan, partisipasi masyarakat merupakan solusi atas kesulitan yang selama ini selalu timbul dalam metode manajemen pascabencana yang tidak menyertakan keterlibatan masyarakat itu sendiri.

“Permasalahan yang biasanya timbul adalah adanya kesenjangan dalam program manajemen bencana itu sendiri,” katanya.

Dosen Jurusan Hubungan Internasional Fisipol UGM Muhadi Sugiono mengatakan, masyarakat Jepang memiliki karakter yang kuat dalam menghadapi bencana dan pascabencana.

“Mereka bisa hidup erat satu sama lain. Hal itu berkat kemampuan politik pemerintah dalam menyiapkan masyarakat agar siap dengan bencana,” katanya.

Print Friendly
avatar

About admin

Admin portal berita katolik Sesawi.Net ini adalah seorang wartawan, eks Jesuit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>