banner pilpres

Uskup Agung Semarang: “Hosti Berdarah” Ajarkan Pentingnya Sikap Hormat pada Ekaristi Sakramen Mahakudus

By on April 17, 2012 | 28,450 views
hosti 2

MENCERMATI luasnya sirkulasi berita tentang peristiwa “hosti berdarah” di Gereja Katolik Santo Fransiskus Xaverius Kidul Loji, Yogyakarta, Uskup Agung Semarang Mgr. Johannes Pujasumarta Pr menegaskan, peristiwa itu semakin menguatkan perlunya umat katolik menaruh hormat kepada ekaristi dan hosti.

“Saya pribadi belum sempat meninjau lokasi Gereja Kidul Loji,” tulis Mgr. Pujasumarta kepada Redaksi Sesawi.Net hari Selasa (17/4) pagi.

Namun, kata Monsinyur lebih lanjut, pihaknya juga telah mendengar tentang peristiwa itu itu dari mulut Vikep DIY Romo Saryanto Pr yang kemudian “dibahasakan” secara literal oleh Penanggungjawab Komisi Komsos KAS yakni Romo Noegroho Agoeng Pr.

Detil “cerita” kronologis peristiwa  “Hosti Berdarah” sebagaimana dikisahkan oleh Romo Saryanto Pr dan kemudian dibahasakan secara literal oleh Romo Noegroho Agoeng Pr  itu  juga telah dikirim ke Redaksi Sesawi.Net, Senin (16/4) petang kemarin.

Yang penting, tandas Mgr. Puja, kita sekalian harus menemukan hikmah atas peristiwa itu. “Dan bagi saya, itu tak lain agar kita semakin hormat pada Ekaristi Sakramen Mahakudus,” kata Uskup Agung Semarang ini.

Artikel terkait :

“Hosti Berdarah” di Gereja Santo Fransiskus Xaverius Kidul Loji, Yogyakarta

http://www.sesawi.net/2012/04/17/peristiwa-hosti-berdarah-dalam-percakapan-dua-pastur/

Foto “Hosti Berdarah” di Gereja Kidul Loji Yogyakarta (2)

Mengapa Harus Heboh dengan ‘Hosti Berdarah’?

Perayaan Iman itu Bernama Adorasi Ekaristi

 

 

Print Friendly
avatar

About Mathias Hariyadi

@MHSesawiNet http://mytitch.blogspot.com; http://kbkkindonesia.com mhariyadi@sesawi.net mhariyadi@yahoo.com

9 Comments

  1. avatar

    Prabowo Shakti

    April 18, 2012 at 13:30

    Peristiwa hosti berdarah di Gereja Kidul Loji, Yogyakarta mengingatkan kita akan Mukjizat Ekaristi di koata Lanciano, Italia. Di Lanciano, justru pastor yang akan membawakan misa meragukan apakah hosti yang dikonsekrasikan oleh pastor itu benar-benar menjadi tubuh dan darah Kristus? Di tengah keraguan itu, Tuhan menjawab dengan merubah hosti yang dikonsekrasikan menjadi segumpal daging dan darah…

    Mirip di Kidul Loji, hanya hosti dipegang oleh Prodiakon.

    Kedua peristiwa tersebut membawa pesan kepada kita sebagaimana diungkapkan oleh Uskup Agung Semarang Mgr. Johannes Pujasumarta Pr menegaskan, peristiwa itu semakin menguatkan perlunya umat katolik menaruh hormat kepada ekaristi dan hosti.

    Shalom

  2. avatar

    Ignatius

    April 18, 2012 at 19:24

    Seperti yang dinasehatkan oleh Romo Uskup Semarang yang menyatakan bahwa ‘pentingnyq sikab hormat pada Ekaristi Sakramen Maha Kudus’. Jadi, kalau tubuh Kristus itu berdarah-darah dapat diartikan luka. Luka itu disebabkan karena apa? Yang melukai adalah kita-kita umat berdosa ini, misalnya menerima komuni dengan cara yang tidak pantas, malam minggu melakukan perselingkuhan, minggu pagi belum mengaku dosa sudah menerima komuni. Minggu terima komuni senin s/d sabtu melakukan korupsi di tempat kerja. Sudah mengaku dosa tetapi pekerjaan kotor dilakukan lagi dan dilang-diulang lagi, pergi ke Gereja tetapi sarapan/makan terlebih dahulu kemudian menerima komuni, dan banyak contoh-contoh lainnya.
    Khususnya di gereja Kidul Loji, pernah terjadi pelecehan terhadap komuni kudus/sakramen maha kudus. Peristiwanya adalah komuni Kudus itu diterimakan dengan cara yang sangat kasar, yaitu hosti tersebut disodorkan ke perut umat yang menerima komuni dengan lidah. Dan romo tadi sambil berteriak mengatakan ‘pakai tangan’!!!, ‘pakai tangan’!!!. Selanjutnya romo itu dalam menerimakan sakramen Maha Kudus tidak mau mengucapkan ‘TUBUH KRISTUS’ tetapi hanya diam saja.??? Apakah ini bukan dosa sakrelegi yang dilakukan oleh gembala tersebut?
    Betapa menyedihkan peristiwa ini karena dilakukan oleh seorang gembala. Akhirnya,umat tersebut nekat melaporkan peristiwa itu kepada Bapa Uskup Semarang dengan tembusan Kedutaan Besar Tahta Suci Vatikan di Jakarta.
    Apakah peristiwa tidak dihormatinya tubuh Kristus yang notabene dilakukan dengan sengaja oleh seorang gembala, ada hubungannya dengan peristiwa ‘Hosti berdarah’ ini? Namun demikian, saya berdoa semoga Tuhan berkenan mengampuni dosa yang dilakukan oleh Romo tersebut. Karena dosa sakrelegi termasuk dosa yang berat.
    Janganlah Yesus disalibkan lagi..Amin.

  3. avatar

    George Lubis

    April 18, 2012 at 23:24

    Saya berharap setiap orang Katolik menerima Hosti Kudus dengan berlutut dan langsung di lidah, ini menunjukkan penghormatan pada Hosti Kudus dan juga mencegah Hosti terjatuh.

  4. avatar

    ig. mujiwin

    April 19, 2012 at 09:26

    aku semakin sadar bahwa dosa-dosa saya (manusia) dapat membuat / menjadikan Tuhan menampakkan kemualiannya. amin puji tuhan

  5. avatar

    Ingrid Djuliawati Agusirwan huber

    April 19, 2012 at 14:20

    ** DIA terjatuh dalam genggaman**

    by Djuliawati Agusirwan ( Liam Ing Hoa )

    DIA terjatuh dalam genggaman
    DIA menghilang dalam pandangan
    mewujudkan diriNYA
    SANG MAHA KUDUS

    DIA mewangi
    dalam kesucianNYA
    membahana menyatakan
    kekudusanNYA

    DIA dalam rupa hosti kudus
    menghilang
    namun
    menyata dalam cintaNYA
    menguatkan langkah
    menguatkan iman
    dalam panggilan
    cinta surgawi

    DIA tak menyalahkan
    siapapun
    namun
    DIA mewujud nyata
    dalam cinta yang indah
    dalam cinta yang mewujud
    sebagai
    bukti
    akan panggilan surgawi

    Mari kita menyembahNYA
    dalam
    kepenuhan rasa hormat
    tanpa
    meragukan
    hosti itu adalah tubuhNYA
    yang suci
    bagi kita

    terimakasih ya YESUS
    KAU nyatakan
    kesucian MU
    di bumi pertiwi
    INDONESIA

  6. avatar

    H.Soekardjo KBI Tegal, Jawa Tengah

    April 19, 2012 at 19:35

    Mbok bilih sae menawi kita tansah urmat dateng sakramen Maha Suci, Aja main-main karo salira lan Rah ndalem Gusti.Gusti amberkahana dateng tiyang tani ingkang tansah nandang kasekengan.Paguyuban Tani Reksa Sanjaya, Muntilan.

  7. avatar

    Alex PW

    April 21, 2012 at 09:35

    Ekaristi adalah puncak hidup orang Katolik namun masih banyak umat yang dalam kehidupan sehari hari belum melakukan proses menuju puncak secara pantas maka seharusnya juga belum pantas menuju puncak,itulah yang membuat Tubuh Kristus semakin terluka.

  8. avatar

    ignatius

    April 21, 2012 at 13:29

    CARA MENERIMA KOMUNI DENGAN LIDAH

    Sebagaimana dianjurkan Bapa Suci Paus Benedictus XVI agar menerima komuni dengan lidah dan berlutut, ternyata cara ini belum dapat dilaksanakan kecuali pada misa di Vatican, di mana umat yang menerima komuni langsung dari Sri Paus pelaksanaannya ternyata dengan berlutut dan dengan menggunakan lidah. Hal ini dapat dilihat pada perayaan misa baik Paskah maupun Natal di televisi. Kenapa sampai saat ini cara seperti ini di Indonesia tidak dijalankan, bahkan sering umat yang menghendaki menerima komuni dengan lidah sering ditolak dengan kasar. Contohnya pernah terjadi pada misa kudus di Gereja Kidul Loji Yogyakarta. Sebagai akibatnya terjadi pelecehan terhadap komuni kudus/sakramen Maha Kudus oleh seorang imam setempat. Apakah ini ada nhubungannya dengan peristiwa hosti berdarah yang terjadi di Gereja Kidul Loji? yang artinya periatiwa sakral penerimaan komuni kudus tidak dijalankan dengan pantas/ tidak dihormatinya sakramen Maha Kudus.Apalagi juga sering terjadi KETERLAMBATAN misa, bahkan pernah terjadi Misa pertama hari Minggu terlambat 15 menit??? Maka marilah kita bertobat, terutama sekali untuk Gereja Franxiscus Xaferius Kidul Loji Yogyakarta.
    Mengapa tubuh Kristus terluka dan harus disalibkan lagi? Marilah kita memuliakan dan menghormati tubuh Kristus.

  9. avatar

    L. Hino Bagas Saputro

    April 22, 2012 at 08:42

    Saya mendukung apa yang disampaikan Romo Uskup, sering kali setiap Minggu kita melihat sikap yang “tidak tepat” di dalam ekaristi dan menyambut Hosti.

    Saya berpendapat peran orang tua maupun kesadaran pribadi bagi yang sudah dewasa sangat penting. Hal ini harus diupayakan secara terus menerus disetiap keluarga, pertemuan lingkungan dsb tanpa sikap “wigah-wigih” HARUS TEGAS.

    Seperti hari ini saya melihat ada umat yang datang pada saat “persembahan” tanpa rasa sesal dan malu (?)…. dan ikut menerima hosti.

    Padahal Romo … sudah selalu mengingatkan akan hal ini.

    Semoga apa yang terjadi di Kidul Loji semakin menyadarkan kita akan hal hal yang sepantasnya kita lakukan.

    Berkah Dalem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>