Sebuah kesaksian iman tentang upaya bertegar diri disampaikan oleh Sdri. Deasy Junaedi yang mengizinkan syering pribadinya ini bisa ditayangkan di Sesawi.Net. Redaksi berterima kasih Sdr. Deasy yang telah mengirimkan foto dan CV-nya kepada kami.
————————
NAMA saya Deasy. Umur 35 tahun. Saya adalah seorang tunanetra (low vision) dengan sisa penglihatan sekitar 5%. Saya mengalami ketunanetraan ini sebagai efek penyakit mata degeneratif yakni retinitis pigmintosa dimana luas pandang menyempit dan kemudian penglihatan mengalami penurunan secara bertahap.
Selama duduk di bangku sekolah, saya tidak mengalami banyak kesulitan. Saat itu saya hanya mengalami kesulitan melihat pada sore hari yang oleh banyak orang sering disebut penyakit rabun ayam. Saya pun berhasil menyelesaikan pendidikan sampai kuliah sampai tingkat diploma 3 di Akademi Sekretari Tarakanita pada tahun 1998. Namun saat itu, saya belum mengetahui kalau saya memiliki penyakit mata retinitis pigmentosa yang bisa menyebabkan kebutaan.
Setelah lulus kuliah, saya sempat bekerja di sebuah perusahaan selama satu tahun. Lalu saya pindah kerja ke sebuah sekolah swasta katolik, namun memasuki tahun ke-3 bekerja di sana, penglihatan saya tiba-tiba berkabut di sebelah mata. Singkat kata, dokter memvonis saya terkena retinitis pigmentosa dimana penyakit ini belum ada obatnya, tidak bisa disembuhkan, tidak bisa dioperasi dan mengakibatkan kebutaan.
Ditolong Tuhan
Tapi Tuhan Yesus tidak pernah meninggalkan saya sendirian, meskipun saya baru dua tahun menjadi katolik. Saat itu, saya sangat bersyukur berada di tempat yang tepat dan bersama orang-orang yang peduli dan penuh kasih.
Mereka senantiasa menguatkan saya dan mengajarkan saya untuk selalu berdoa dan percaya pada Tuhan Yesus. Dan itu memang terbukti. Setelah bekerja beberapa tahun dan mengalami PHK di tahun ke-7 saya bekerja karena penglihatan saya makin memburuk, saya tidak putus asa dan menyerah begitu saja.
Saya akhirnya menemukan komunitas tunanetra dan memelajari banyak hal baru, seperti belajar menulis dan membaca huruf braile, belajar orientasi mobilitas menggunakan tongkat dan belajar menggunakan komputer yang diinstall program bersuara. Email ini pun saya tulis sendiri menggunakan komputer yang sudah diinstall brogram tersebut.
Tuhan menjawab permohonan saya
Puji Tuhan. Dua tahun kemudian, Tuhan menjawab doa saya. Yakni, saya bisa mendapatkan kesempatan bekerja di sebuah perusahaan swasta sebagai front officer. Saat itu, saya seringkali bergumul dengan diri sendiri jika ada orang yang mempermainkan, bahkan tidak mempercayai saya lantaran bola mata saya terlihat normal.
Semua pergumulan dan kesedihan ini hanya bisa saya ucapkan dalam doa.
Saya akui memang sulit menerima kenyataan ini, kalau ada banyak hal yang tidak lagi bisa saya lakukan. Ditambah lagi bila saya harus memberikan penjelasan mengenai kebutaan kepada orang-orang di sekitar dimana saya sendiri juga belum bisa menerima sepenuhnya.
Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti setelah bekerja selama 15 bulan.
Pada desember 2011, papa saya meninggal dunia di usianya yang ke 72 tahun. Sejak itu saya tinggal bersama mama, kakak perempuan yang sudah menikah dan anak lelakinya yang berusia 10 th.
Meskipun saya memiliki keterbatasan penglihatan, jauh di dalam hati, saya memiliki harapan dan keinginan untuk mandiri, bekerja dan memiliki penghasilan sendiri.
Saya selalu teringat yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, ”Mintalah maka akan diberikan k epadamu, carilah maka kamu akan mendapatkan dan ketuklah maka pintu akan dibukakan bagimu”, melalui milis ini saya berharap mungkin ada dari sahabat seiman yang tergerak hatinya untuk memberikan kesempatan kerja ataupun untuk membina/mengajarkan
ketrampilan yang bisa membantu saya agar mandiri secara finansial.
Besar harapan saya mendapat respon positif dari para sahabat seiman. Demikian sharing yang ingin saya bagikan kepada teman-teman seiman dimana pun berada. Tetaplah semangat dan berusaha dalam nama Tuhan Yesus.
Tuhan memberkati.
Salam, Deasy
dear Deasy, apabila anda tinggal di sekitar DKI Jakarta, sudahkan anda menjadi anggota Biro Pelayanan Penyandang Cacat (BPPC), KAJ. disana anda akan mendapatkan banyak penguatan dan pelatihan agar dapat mandiri. Alamat Jalan Kathedral No. 5, Jakarta. Telp.3813307,3440172,3454159. Tuhan memberkati.
Paulus Sunarto
June 25, 2012 at 13:48
mba Desy coba buka di http://www.ansuska.com penyakit mata retina pigmentosa masih bisa diselamatkan..
hanny
October 7, 2012 at 23:33