banner pilpres

Lomba Tari Bidu Ramaikan Bulan Kitab Suci Nasional di SMKK Kusuma Atambua

By on October 3, 2012 | 1,119 views
Kredit Foto : Fransiskus Pongky Seran

Kredit Foto : Fransiskus Pongky Seran

Ada yang unik dari perayaan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) yang diselenggarakan siswa Sekolah Menengah Kejuruan Katolik (SMKK) Kusuma Keuskupan Atambua Bulan September ini.

Selain gelaran tahunan berupa lomba-lomba seperti debat bahasa Inggris, majalah dinding serta lomba baca kitab suci yang dilakukan hampir sepekan penuh dan disiapkan sejak awal September, para siswa juga melombakan tarian daerah khas kabupaten Belu dan beberapa tarian daerah Nusa Tenggara Timur lain seperti Ngada Bajawa.
         
Satu tarian wajib asli Kabupaten Belu yang disebut Tarian Bidu dilombakan dengan bebagai tema oleh para siswa kelas X dan XI SMKK Kusuma Atambua yang datang dari 4 program jurusan yakni Akomodasi Perhotelan, Usaha Perjalanan Wisata, Tata busana dan Tata boga.
         
Para siswa kelas XI Busana menampilkan tarian Bidu dengan tema menenun kain. Para juri dan siswa dibius dengan gerakan gemulai para siswa yang tampil dengan pakaian adat khas Belu. Tarian Bidu merupakan tarian yang sering diperagakan dalam menyambut tamu, menyambut para pembesar, pernikahan dan berbagai acara penting lainnya.

Sementara itu, para siswa kelas XI Busana menampilkan Tarian Bidu dengan tema menenun kain. Ini karena menenun kain merupakan sebuah warisan budaya leluhur orang Belu yang perlu diwariskan ke generasi berikutnya.
         
Sementara itu kelas X tata busana menampilkan Tarian Bidu dengan tema menumbuk padi yang menggambarkan kegiatan para wanita desa saat menyiapkan dan menumbuk padi. Adapula kelas-kelas lain menampilkan tarian Bidu dengan tema berbeda seperti ungkapan syukur panenan dan pergaulan kaum muda serta tarian Jai dari daerah Bajawa Ngada Flores.

“Nilai-nilai yang terkandung dalam tarian daerah ini kaya akan makna seperti estetika, humanistik, kekayaan intelektual dan nilai sosial. Apabila dikaitkan dengan kitab suci dan Kristus maka tarian daerah ini merupakan bentuk ungkapan syukur yang hadir di dalam kreasi tarian” ungkap Suster kepala SMKK Kusuma Atambua, Sr. Arnolda SSpS.

Suster Armolda menambahkan bahwa melalui tarian daerah, anak-anak bisa berkreasi dan memaknai kitab suci dalam kreasi tarian daerah.

“Kesenian daerah Belu perlu dilestarikan karena merupakan jati diri dan identitas kita. Melalui kegiatan ini kami diberi kesempatan untuk memaknai kitab suci melalui kreasi tarian daerah” ungkap Dewi Maria Agustina Soi dari kelas XI tata busana. Putri kedua dari 6 bersaudara ini menambahkan bahwa dirinya bangga sebagai orang Belu.

SMKK Kusuma Atambua saat ini bernaung di bawah Yayasan Regina Angelorum yang dikelola oleh para suster abdi Roh Kudus SSpS.

Lembaga pendidikan katolik ini memiliki 4 jurusan keahlian yakni tata boga, tata busana, usaha perjalanan wisata serta akomodasi perhotelan dengan jumlah tenaga guru sebanyak 25 orang.

Pada tahun akademik 2012/2013 terdapat 164 siswa dengan perincian siswa kelas X sebanyak 58 siswa, siswa kelas XI sebanyak 48 siswa dan siswa kelas XII sebanyak 58 siswa.

 

Print Friendly
avatar

About Fransiskus Pongky Seran

Wartawan, tinggal di Atambua, Nusa Tenggara Timur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>