Paus Benedictus XVI Mundur: Wawancara Terakhir Paus dengan Penulis Biografinya (16)

By on February 22, 2013 | 2,902 views
Peter Seewald dan Paus

seewald-benedict_HR

PAUS dan kondisi kesehatannya:

«Saya adalah akhir dari yang lama dan awal dari yang baru »

« Pendengarannya menurun. Dia tidak bisa melihat dengan mata kirinya. Tubuhnya semakin kurus: penjahit mengalami kesulitan dalam menyelesaikan jubah yang baru »

Mata kiri buta

Pertemuan terakhir kami terjadi 10 pekan yang lalu. Waktu itu Paus menerima saya di Istana Apostolik untuk melanjutkan pembicaraan kami yang ditujukan untuk penulisan biografinya. Pendengarannya menurun, mata kirinya tidak bisa melihat lagi, tubuhnya semakin kurus, sehingga penjahit mengalami kesulitan dalam menyelesaikan jubah yang baru.

Ia menjadi lebih lemah, bahkan lebih ramah dan rendah hati, dari kesemuanya ia menjadi pendiam. Ia tidak tampak sakit, tetapi kelelahan yang telah menguasai seluruh dirinya, tubuh dan jiwa, semua tidak bisa lagi diabaikan.

Kami membicarakan tentang saat dirinya membelot dari pasukan Hitler; tentang hubungannya dengan kedua orangtuanya; tentang CD yang digunakannya untuk belajar banyak bahasa; tentang tahun-tahun fundamental-nya di Mons doctus*, sebuah bukit berisikan ajaran-ajaran di Freising di mana sejak 1000 tahun lamanya para Pemimpin Spiritual di sana diperkenalkan kepada Misteri Iman.

Di sini ia telah memulai kotbah-kotbah awalnya di hadapan murid-murid sekolah, sebagai pastor paroki ia telah membantu para pelajar dan di dalam kedinginan ruang pengakuan dosa. Di katedral ia telah mendengarkan penderitaan orang-orang. Pada bulan Agustus tahun lalu, selama wawancara di Castel Gandolfo yang berlangsung satu setengah jam, saya bertanya kepadanya berapa besar dirinya terpukul oleh kejadian Vatileaks.

“Saya tidak jatuh ke dalam semacam keputusasaan atau nyeri yang universal – katanya – hanya bagi saya hal itu tampak tak terpahamkan. Bahkan menunjuk kepada pelakunya (Paolo Gabriele), saya tidak mengerti apa yang bisa diharapkan. Saya tidak mampu memahami psikologi-nya”.

Bagaimana pun, ia mengaku bahwa kejadian ini tidak membuatnya kehilangan kompas juga tidak merasa lelah atas peranannya, “karena hal itu dapat kapan pun terjadi”. Yang penting baginya adalah bahwa di dalam elaborasi kasus itu  “di Vatikan terjamin kemerdekaan dari keadilan, dimana raja tidak mengatakan: sekarang aku akan mengatasinya!”.

Belum pernah saya melihat dirinya begitu lelah, begitu terforsir tenaganya.

POPE BENEDICT RECEIVES HIS NEW BOOK FROM GERMAN JOURNALIST  PETER SEEWALDBuku terakhir

Dengan tenaganya yang tersisa ia telah menyelesaikan bagian ketiga dari karyanya mengenai Yesus, “ini buku saya yang terakhir”, begitu yang katanya kepada saya dengan tatapan yang sedih pada saat bersalaman.

Joseph Ratzinger adalah seorang manusia yang tak tergoyahkan, seseorang yang selalu mampu bangkit kembali dengan cepat.  Sementara dua tahun lalu, meskipun ada gejala-gejala awal usia lanjut, ia masih tampak lincah, hampir seperti orang muda, sekarang ia merasakan setiap  pengikat kertas kerja baru yang mendarat di mejanya oleh Sekretaris Negara sebagai suatu pukulan.

Saya bertanya kepadanya, “Apa yang masih dapat kita harapkan dari Yang Mulia, dari kepausan Anda?”.

“Dari saya? Dari saya tidak banyak. Saya seorang lanjut usia dan kekuatan saya telah banyak berkurang. Saya pikir telah cukup apa yang telah saya lakukan”.

Anda berpikiran untuk mengundurkan diri?

“Ini tergantung dari seberapa besar energi fisik saya memaksa saya melakukan hal itu.”

Pada bulan yang sama ia menulis kepada salah seorang muridnya bahwa pertemuan mereka selanjutnya akan menjadi yang terakhir kalinya.

Hujan turun di Roma waktu kami bertemu untuk pertama kalinya pada bulan November 1992 di Gedung Kongregasi Ajarann Iman.

Jabat tangan-nya bukan sesuatu yang meretakkan jari tangan, suaranya cukup tidak biasa untuk seorang “kardinal panzer”, ringan dan lembut. Saya menyukai cara dia berbicara tentang masalah-masalah kecil, dan terlebih tentang masalah-masalah besar; ketika dia mendiskusikan konsep kita mengenai kemajuan dan meminta kita untuk merenungkan apakah orang sungguh-sungguh dapat mengukur kebahagiaan manusia sesuai dengan produk domestik bruto.

Tak pernah berkata buruk

Selama bertahun-tahun dirinya mengalami ujian berat.  Dia digambarkan sebagai seorang penganiaya sementara dirinya-lah yang dianiaya, sebagai kambing hitam untuk setiap masalah ketidakadilan, sebagai simbol dari “inkuisitor agung”, suatu definisi yang tidak tepat.

Namun tak seorang pun pernah mendengar dia mengeluh. Tak seorang pun mendengar dari mulutnya satu kata yang buruk, sebuah komentar negatif tentang orang lain, bahkan tentang Hans Küng.

Empat tahun kemudian, kami menghabiskan beberapa hari bersama-sama, untuk membahas rancangan buku tentang iman, Gereja, selibatus dan insomnia. Partner saya itu tidak berjalan mengelilingi ruangan, seperti yang biasa dilakukan para Guru besar. Tidak ada sedikit pun di dalam dirinya jejak kesombongan, tidak juga praduga. Saya terkagum dengan keunggulannya,  sebuah pikiran yang tidak sejalan dengan zaman, dan saya agak terkejut mendengar jawaban yang relevan terhadap masalah-masalah pada jaman kita, yang tampaknya hampir tak terpecahkan, diambil dari harta besar kitab Wahyu, dari visi para Bapa Gereja dan dari refleksi-refleksi dari penjaga iman yang saat itu sedang duduk di hadapan saya.

Pemikir radikal

Ia adalah seorang pemikir yang radikal – ini adalah kesan saya – dan seorang beriman yang radikal, namun, yang dalam iman-nya yang radikal itu ia tidak menggunakan pedang, melainkan senjata lain yang jauh lebih kuat: kekuatan dari kerendahan hati, kesederhanaan dan kasih. Joseph Ratzinger adalah seseorang dari paradoks-paradoks. Bahasa yang lembut, suara yang kuat. Kelembutan dan ketegasan. Berpikir besar tetapi memberi perhatian terhadap hal-hal kecil. Mewujudkan sebuah kepandaian baru untuk mengenali dan mengungkap misteri iman, ia adalah seorang teolog, namun membela iman rakyat terhadap agama para Guru besar, sedingin abu.

Seperti dirinya yang berkeseimbangan, demikian pula ia mengajar; dengan keringanan khasnya sendiri, dengan keanggunannya, kemampuannya untuk menembus yang membuat ringan apa yang serius, tanpa menghilangkan misterinya dan tanpa menyepelekan kesuciannya. Seorang pemikir yang berdoa, yang baginya misteri-misteri Kristus merupakan kenyataan yang menentukan dari penciptaan dan sejarah dunia, seorang pengasih manusia yang ketika ditanya berapa banyak jalan menuju kepada Allah, tidak perlu berpikir panjang untuk menjawab: “Sebanyak jumlah manusia.”

Paus dan bukunyaBuku Kristologi

Ia adalah seorang Paus yang kecil yang menulis dengan pensil karya-karya yang besar. Tak seorang pun sebelum dirinya, seorang teolog Jerman terbesar sepanjang masa, yang telah meninggalkan bagi umat Allah selama masa kepausannya, sebuah karya yang mengesankan tentang Yesus, atau yang telah menyusun kristologi.

Para kritikus berpendapat bahwa pemilihan dirinya adalah sebuah pilihan yang salah. Kebenarannya adalah bahwa tidak ada pilihan yang lain. Ratzinger tidak pernah mencari kekuasaan. Ia menjauhi permainan intrik di Vatikan. Selalu menjalani kehidupan bersahaja seorang biarawan, kemewahan itu asing baginya dan lingkungan dengan kenyamanan daripada yang sungguh diperlukan adalah suatu hal yang tidak menarik baginya.

Memupus praktik feodalisme

Tetapi baiklah kita bicarakan hal-hal kecil saja, yang sering kali lebih berarti daripada pernyataan-pernyataan besar, dari konferensi-konferensi dan dari program-program. Saya menyukai gaya kepausannya; langkah pertamanya yaitu membuat surat kepada komunitas Yahudi; bahwa ia telah menggantikan tiara,  yang juga merupakan simbol kekuatan duniawi dari Gereja, dengan mitria pada lambang kepausannya; bahwa ia meminta pada  Sinode para Uskup untuk berbicara juga kepada para tamu dari agama-agama lain – ini juga adalah hal yang baru.

Dengan Benediktus XVI untuk pertama kalinya seorang pemimpin telah mengambil bagian dalam debat, tanpa sikap sombong yang memandang orang dari atas ke bawah, melainkan memperkenalkan kolegialitas yang ia perjuangkan dalam Konsili.

Tolong koreksi saya, katanya, saat ia mempresentasikan bukunya tentang Yesus, yang tidak ingin mengumumkan sebagai sebuah dogma atau membubuhkan stempel otoritas tertinggi. Penghapusan ciuman tangan adalah yang paling sulit untuk diterapkan. Pernah ia menahan lengan seorang mantan muridnya yang membungkuk untuk mencium cincinnya itu, dan mengatakan, “mari kita bersikap dengan normal.”

Banyak pengalaman-pengalaman pertama. Untuk pertama kalinya seorang Paus mengunjungi sebuah sinagoga Jerman (dan selanjutnya banyak sinagoga di dunia daripada semua paus sebelum dia dikumpulkan bersama). Untuk pertama kalinya seorang Paus mengunjungi biara Martin Luther, sebuah tindakan bersejarah yang berbeda.

Ratzinger adalah seseorang yang bertradisi, dengan kerelaan ia bergantung dengan apa yang telah ditetapkan, namun mampu membedakan apa yang sungguh abadi daripada apa yang yang muncul dan berlaku hanya untuk suatu periode tertentu. Dan jika diperlukan, seperti dalam kasus Misa Tridentin, menambahkan yang lama ke yang baru, supaya bersama-sama mereka tidak mengurangi ruang liturgi, melainkan mengembangkannya.

Dia tidak melakukan segalanya dengan benar, tetapi mengakui kesalahan, bahkan kesalahan (seperti skandal Williamson), di mana ia tidak bertanggung jawab. Tidak ada kegagalan yang lebih dideritanya daripada imam-imamnya, meskipun sejak dari prefek ia sudah memulai semua tindakan yang memungkinkan untuk menemukan pelanggaran seksual yang mengerikan dan menghukum yang bersalah.

Benediktus XVI  pergi, tetapi warisannya tetap.

Penerus dari Paus yang amat rendah hati di era modern ini akan mengikuti jejaknya. Seseorang dengan dengan karisma lain, dengan gaya sendiri, tapi dengan misi yang sama: tidak mendorong kekuatan sentrifugal, tetapi mereka yang terus bersama-sama menjalankan warisan iman, yang tetap pemberani, memberitakan pesan dan membuat kesaksian yang sejati.

Berani mundur

Bukan suatu kebetulan bahwa Paus yang mengundurkan diri itu telah memilih Hari Rabu Abu menjadi liturgi besar-nya yang terakhir. Lihatlah, dia ingin membuktikan, di sinilah saya ingin membawamu dari awal, ini adalah jalannya. Sadarkanlah dirimu, bergembiralah, bebaskan dirimu dari pemberat, jangan biarkan dirimu dimakan oleh semangat waktu, jangan buang-buang waktu, lepaskan dirimu dari sekularisme! Menguruskan badan untuk menaikkan berat adalah program Gereja masa depan.

Menyangkal lemak untuk mendapatkan vitalitas, kesegaran rohani, bukan dari inspirasi dan daya tarik terakhir. Dan keindahan, daya tarik, akhirnya juga kekuatan, untuk dapat mengatasi sebuah tugas yang menjadi begitu sulit.

“Bertobatlah”, demikian ia berkata dengan kata-kata dalam Alkitab ketika ia menandai dahi para kardinal dan imam dengan abu, “dan percayalah pada Injil”.

“Apakah Anda  akhir dari yang lama – saya bertanya kepada Paus dalam pertemuan terakhir kami – atau awal yang baru? ».

Jawabannya adalah: “Keduanya.”

Peter Seewald
(Terjemahan oleh: Shirley Hadisandjaja Mandelli )
Sumber: 2013 Focus dan Corriere della Sera

*Mons doctus adalah sebuah bukit yang dahulu pernah menjadi pusat Biara Benediktin.

Photo credit: Penulis otobiografi Paus, Peter Seewald, tengah mewawancari Paus Benedictus XVI dan selang beberapa waktu kemudian menyerahkan bukunya kepada Paus (Ist)

Print Friendly

avatar

About Shirley Hadisandjaja Mandelli

Warga negara Indonesia tinggal menetap di Milano, Italia

One Comment

  1. avatar

    daftarharga3e3

    February 22, 2013 at 15:05

    terima kasih pencerahannya bagus sekali kang thanks…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>