Pijar Vatikan II di Tahun Iman: Kita dan Tragedi Kerusuhan Mei 1998 (20A)

By on June 2, 2013 | 2,538 views
Kerusuhan Mei 1998

Kerusuhan Mei 1998TENTANG Tragedi Kerusuhan Mei 1998 yang telah mencoreng dan menistakan bangsa ini, orang tentu saja boleh bicara apa saja. Bukankah bangsa ini sudah akrab dengan pembunuhan, penganiayaan, teror, intimidasi, penyiksaan, perkosaan, penculikan, pembakaran, mutilasi, kuburan masal, dan kata-kata lain yang menyeramkan?

 

Tengok saja apa yang pernah terjadi di Timor Timur, Aceh, Ambon, Poso, Sanggau-Ledo, dan banyak tempat lain. Saking biadabnya kejadian-kejadian itu, sampai-sampai banyak orang  berpendapat bahwa bangsa ini memang sudah sepantasnya mendapat hukuman berat dari Tuhan.

 

Sebuah website dari negara tetangga secara provokatif pernah menghubungkan foto-foto korban perkosaan pada Kerusuhan Mei 1998 dengan bencana tsunami  di Aceh. “Tuhan telah menghukum bangsa pemerkosa itu dengan dengan tsunami dahsyat. Kutukan yang setimpal,” begitu kata mereka.

 

Saya jadi ingat, dulu saya punya teman asrama dari Angola dan Liberia. Sesudah kita kalah referendum, Timtim lepas, Dili lalu dibumihanguskan, banyak yang mati terbunuh termasuk Romo Karim Albrecht SJ, Romo Tarcisius Dewanto SJ dan beberapa biarawati Suster Canossian. Teman kami itu begitu benci kalau melihat orang Indonesia. Mereka menganggap, kami ini orang-orang biadab seperti para pembunuh sahabat-sahabat mereka sesama jajahan negara Portugis.

 

Melawan sejarah lupa

Apakah kita ini memang bangsa yang kejam dan biadab seperti anggapan orang-orang itu? Mari kita menundukkan diri dan bertanya. Silahkan berpendapat. Silahkan berargumen. Yang pasti, bagi para korban Kerusuhan Mei 98, Timtim, Aceh, Ambon, Poso, Sanggau Ledo, kita ini memang kejam.

 

Tentang Tragedi Mei 98, harian Kompas, 7 tahun yang lalu menurunkan sebuah artikel dengan judul: “Kerusuhan Mei 1998: Kejahatan Negara Tanpa Pertanggungjawaban”.

 

Penulis artikel itu, Vincentia Hanni S, berani menyebut bahwa Kerusuhan Mei  98 adalah kejahatan negara. Artikel itu memberi intro yang menghentak:

 

Delapan tahun lewat, Jakarta terbakar. Banyak orang mati terpanggang hidup-hidup, sejumlah perempuan diperkosa. Tim Gabungan Pencari Fakta mencatat, 288 korban meninggal, 101 korban luka, 92 perempuan menjadi korban perkosaan, dan ribuan rumah rusak terbakar. Kerugian fisik diperkirakan mencapai Rp 2,5 triliun. Tapi, kini, delapan tahun reformasi telah lewat, seolah semua itu hendak dilupakan negara. Sengaja hendak dilupakan semua penderitaan korban dan keluarganya. Padahal, dalam memori kolektif korban atau keluarga korban, tragedi itu tak akan pernah bisa lepas dan tetap menjadi mimpi buruk mereka.

Selanjutnya, artikel yang ditulis tahun 2006 itu, mengisahkan kejadian memilukan berikut ini:

 

Ruyati (59), warga Penggilingan, Jakarta Timur, adalah salah satu yang tak pernah bisa menghapus mimpi buruk itu.

 

14 Mei 1998, Ruyati benar-benar galau. Ia dan suaminya, Darmin (64), tak henti-henti menangis saat mendengar putra sulung mereka, Eten Karyana (32), menjadi korban terbakar hidup-hidup di Yogya Department Store.

 

Ia semakin yakin saat melihat sebuah stasiun televisi menayangkan sebuah kartu tanda penduduk milik Eten yang masih utuh, tak terbakar. Leman Sulaeman, menantunya, pun bergegas pergi ke RSCM. Tepat 15 Mei 1998 pukul 16.00, Leman kembali ke rumah. Leman berdiri di depan pintu rumah, membawa sebuah kardus mi instan.

 

Leman tak berkata apa-apa, tetapi air mata deras mengalir di pipinya. Leman pun berjalan maju dan menyerahkan kardus itu kepada Darmin. Kardus pun dibuka. Isinya, abu dari jasad Eten Karyana.

 

Ruyati menjerit histeris, “Ya Allah, astagfirullah, kenapa bisa begini….”

 

Ruyati pun pingsan, tak bisa menahan kesedihan yang teramat sangat. Pasangan Ruyati-Darmin tak pernah menyangka, putra sulung yang menjadi tulang punggung keluarga itu kembali dalam bentuk abu. “Ternyata perkiraan kami salah. Saya tidak pernah bisa membayangkan bagaimana kesakitan yang ia alami,” ujar Ruyati.

 

Trauma sejarah

Seperti Ruyati dan Darmin, banyak orang juga tidak akan pernah melupakan Tragedi Mei 98.

 

Bagi yang anggota keluarganya terbunuh, tertembak, diperkosa, dibakar, dianiaya, dilecehkan, ditelanjangi di depan umum, Tragedi Mei 98 akan terus menjadi hantu seumur hidup. Bagi yang kehilangan harta karena rukonya dibakar, tokonya dijarah, rumahnya dirampok “berjamaah”, Kerusuhan Mei akan terus menjadi noda hitam dalam hidup mereka.

 

Mereka merasa diperlakukan semena-mena. Usaha, kerja, tabungan, tempat berteduh, habis dalam sekejap. Sangat tidak! Tidak heran, kalau banyak dari mereka yang lalu memilih lari meninggalkan negara ini. Banyak yang tak mau kembali lagi ke Indonesia. Banyak yang tak mau lagi mengakui negeri ini sebagai tanah airnya.

 

Seorang mahasiswa Atmajaya Jakarta, yang kemudian menjadi imam diosesan KAJ, sampai diperlakukan agak khusus oleh Uskup Agung Jakarta. Adiknya yang pulang dari kantor terjebak dalam aksi kerusuhan massa. Ia diseret turun dari mobil dan dipukuli sampai mati. Mobilnya dibakar. Mei 98 menjadi trauma dan tragedi berat untuk rekan imam ini.

 

Uskup kemudian mengirim teman ini untuk belajar psikologi di Filipina dan Amerika. Diharapkan ia bisa menolong dirinya sendiri dan menyembuhkan luka batinnya karena trauma Tragedi Mei 98  telah  merenggut nyawa adiknya. (Bersambung)

Photo credit: Suasana Kerusuhan Mei 1998 (ist)

Print Friendly

avatar

About A. Kunarwoko

Lahir dan besar di Muntilan, “Bethlehem van Java” – kota kelahiran misi Katolik di Pulau Jawa. Pernah belajar Teologi Dogmatik di Universitas Urbaniana dan Universitas Angelicum Roma. Pemerhati masalah penggembalaan dalam Gereja dan pendidikan iman dalam keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>