Sabda Hidup: Kamis, 12 Januari 2017

0
598 views

Aelredus, Bernardus dr Carleone, Antonius Maria Pucci

warna liturgi Hijau

 

Bacaan

Ibr. 3:7-14; Mzm. 95:6-7,8-9,10-11; Mrk. 1:40-45. BcO 2:17-29

Bacaan Injil: Mrk. 1:40-45.

40 Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” 41 Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” 42 Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. 43 Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras: 44 “Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.” 45 Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru.

Renungan:

SUATU hari seorang ibu tampak resah. Ia resah karena anaknya tidak meminta uang saku kepadanya. Tunggu ditunggu sang anak tidak kunjung meminta maka sang ibu pun bertanya, “Kamu tidak meminta uang saku kepada ibu?”. Sang anak pun menjawab, “Enggak bu, ditabung aja, kemarin saya dapat honor dari penelitian sehingga uangku masih cukup.”

Pengalaman di atas berbeda dengan pengalaman si kusta dalam Injil Mrk. 1:40-45. Si kusta memohon kepada Yesus, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku” (Mrk 1:40). Si kusta percaya bahwa Yesus mampu menyembuhkan dirinya. Ia percaya Yesus punya kuasa untuk itu. Maka kalau Ia mau Ia pasti bisa menyembuhkannya. Keyakinan si kusta ini pun ditanggapi secara positif oleh Yesus, “Aku mau, jadilah engkau tahir” (Mrk 1:41).

Permintaan akan disambut dengan pemberian. Tidak ada permintaan ya tidak ada pemberian, walau seringkali orang tua dan tentunya Tuhan tanpa diminta pun tetap memberi. Maka rasanya di hadapan Tuhan yang selalu terbuka hati-Nya kita selalu meminta kemurahan hati-Nya. Kita percaya Tuhan mempunyai, kalau Ia mau Ia pasti akan mengabulkan permintaan kita.

Kontemplasi:

Bayangkan kisah dalam Injil Mrk. 1:40-45. Bandingkan dengan pengalamanmu.

Refleksi:

Bagaimana percaya pada kuasa Tuhan dan menggerakkan hati-Nya?

Doa:

Bapa aku percaya Engkau sumber kekuatanku. Topanglah diriku agar mampu mengabdi kepada-Mu. Amin.

Perutusan:

Aku percaya Tuhan akan menegakkan langkahku dan menuntun jalanku. -nasp-

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)