Catatan Bersahaja Omah Kuldi: Simbol Ayam Jantan di Pucuk Menara Gereja

0
347 views
Ilustrasi (ist)

SEBELUM sinar matahari menusuk jendela timur Omah Kuldi, suara ayam berkokok telah menggema. Kokok ayam ini seringkali menjadi pembuka suara yang lain; ayam kate, ayam mutiara, burung parkit. Kokok ayam ini seperti pewartaan kabar sukacita bahwa pagi telah datang, menggantikan malam. Terang telah bersinar mengusi kegelapan.

Di hari pertama tahun baru Cina ini, ada baiknya kita belajar tentang simbol ayam, khususnya dalam tradisi Gereja kita. Dalam Injil, adegan ayam jantan berkokok sangat familier. Maka selanjutnya dalam tradisi Kristiani, ayam jantan ini menyimbolkan penerimaan orang berdosa pada pengampunan Allah melalui Yesus Kristus.

Di Katakombe Roma simbol ayam ini juga muncul. Fresko abad ke tiga tentang Yesus ditemukan dalam katakombe Calliktus. Di situ digambarkan Yesus sebagai gembala baik dan ada ayam jantan di kakiNya.

Dalam Injil Matius, Yesus mengatakan kepada para muridNya kalau mereka akan menginggalkanNya sendiri karena kematian yang akan menjemputNya.

Segera “Petrus menjawabNya: “Biar pun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.”

Yesus berkata kepadanya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal aku tiga kali”.

Kata Petrus kepadaNya, “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.”

Semua murid yang lain pun berkata demikian juga (Mat 26: 33-35).

Petrus sungguh menolak relasinya dengan Yesus tiga kali. Dalam Matius 26:69-75 dikisahkan dengan detail bagaimana Petrus duduk di luar halaman. Lalu datanglah seorang hamba perempuan dan berkata, “Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus orang Galile itu”. Tetapi Petrus menyangkal di depan semua orang itu. Sesudah itu ia pergi ke pintu gerbang. Seorang hamba lain melihat ia dan berkata kepada orang-orang di situ kalau Petrus itu selalu bersama Yesus.

Kembali Petrus menyangkal dengan bersumpah, “Aku tidak kenal orang ini”. Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ datang mengerumuni Petrus dan berkata, “Engkau pasti salah satu dari mereka. Itu nampak dari gaya bahasamu”.

Lalu apa yang dilakukan Petrus. Ia mulai mengutuk dan bersumpah, “Aku tidak kenal orang itu” Sesudah itu, terjadilah moment tak terduga itu……pada saat itu berkokoklah ayam. Petrus teringat kata-kata Gurunya tidak lama sebelumnya. Ia pergi keluar, menangis dengan sedih.

Petrus adalah orang yang terluka. Ia pergi keluar, menangis namun ia berani kembali kepada Yesus dan bertobat hingga memperoleh rahmat. Berbeda dengan Yudas. Ia berdosa, menangis, mengutuki diri tapi tidak berani kembali kepada Yesus. Ia pergi sendiri ke luar kota dan bunuh diri. Penyesalan yang destruktif.

Pesannya amat kuat: belas kasih Allah itu merengkuh semua orang yang berani bertobat. Kisah penyangkalan Petrus kepada Yesus dan berkokonya ayam ini dicatat oleh semua Injil.

Dalam De Ordine, St Agustinus, Uskup Hippo menggambarkan ayam jantan itu sebagai berikut: “In every motion of these animals unendowed with reason there was nothing ungraceful since, of course, another higher reason was guiding everything they did.”

Beberapa masyarakat tradisional mempercayai bahwa pengurbanan ayam jantan sebagai ganti pengurbanan laki-laki karena dipercaya bahwa ayam jantan yang dikurbankan “bears the sins of the man.”

Ide yang kurang lebih sama bisa kita temukan dalam Yudaisme. Kata Ibrani gever bisa berarti “laki-laki” dan “ayam jantan”. Oleh karenanya hukuman pada ayam dapat menggantikan hukuman pada laki-laki yang selayaknya dihukum. Upacara kapparot biasa dipraktikan oleh orang Yahudi sebelum Perayaan Yom Kippur.

Pertama, pendarasan ayat entah dari Yesaya 11: 9, Mazmur 107: 10, 14, 17-21 atau dari Ayub 33:23-24. Kemudian ayam jantan (untuk laki-laki) atau ayam betina (untuk perempuan) dipegang di atas kepala orang itu kemudian diayun-ayunkan di lingkaran tiga kali dengan mengucapkan kata-kata ini”: “Inilah pertukaranku, penggantiku, pertobatanku; ayam jantan (ayam betina) ini akan mati namun aku akan tetap hidup baik, panjang usia dan damai.”

Dalam kisah penciptaan di Suku Yoruba, ayam jantan melayani Pencipta dengan mencakar tanah agar membuat tanah menjadi kering. Ayam jantan bisa dikatakan sebagai simbol Kristus yang membuat segala sesuatu menjadi baru dalam diri Kristus. “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia” (Yoh 1:3-4).

Simbol kuno

Ayam jantan adalah simbol kuno.

Sebelum kelahiran Yesus, ayam jantan selalu diasosiasikan dengan matahari, simbol Pencipta karena ia berkokok sebelum fajar tiba. Dalam arti ini, ayam jantan adalah simbol matahari. Ini sesuai dengan tradisi nenek moyang Abraham yang menggambarkan Pencipta itu dengan gambaran maskulin. Di kuil matahari di Jepang, ayam jantan dibiarkan berkeliaran di tanah sama seperti di Balai Budaya Rejosari semua ayam selalu dengan merdeka berkeliaran mencari penghidupan.

Gambaran ayam jantan dengan cahaya bisa menjelaskan kenapa banyak tempat lampu minyak dari tanah liat memiliki gambaran ayam jantan. Lampu minyak dengan bentuk ayam ini banyak ditemukan di Afrika Selatan sejak abat ketiga.

Di Eropa banyak gereja memiliki simbol ayam jantan di puncak menaranya. Baik pada bangunan gereja Katolik maupun Protestan. Bagi gereja Katolik, ayam jantan menyimbolkan St. Petrus yang dipandang sebagai paus pertama.

Di Norwegia banyak ukiran ayam jantan di puncak gereja-gereja kayu. Di beberapa gereja tua di Belanda ada baling-baling yang berupa ayam jantan emas. Ayam jantan emas dikatakan sebagai simbol Yesus Kristus yang mengalahkan kuasa kegelapan dan membawa pengampunan dosa serta mewahyukan hari baru dengan kuasa kebangkitanNya.

Selamat tahun baru Imlek 2568. Gong xi fat choi. (jb.haryono)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here