“John Wick: Chapter 2”, Susahnya Bertobat dari Kobangan Kejahatan

0
260 views
Keanu Reeves sebagai John Wick --the Boogey Man --Hantu pembunuh.

DI luar kisah panjang penuh kejutan dan aksi kepruk berikut dar-der-dor, film anyar kategori noir dengan titel John Wick: Chapter 2 ini berkisah tentang aspek fundamental dalam hidup manusia: bertobat. Saya memang tidak terlalu tertarik mengupas pada aksi super hero John Wick –mantan pembunuh bayaran yang tak terkalahkan ketika membasmi para musuhnya. Melainkan saya lebih suka mengupas nafas kehidupan yang menyentuh kedirian kita sebagai manusia religius. Dan itu tak lain adalah perubahan hati, sikap batin untuk meninggalkan ‘jalan lama’ menuju ‘jalan baru’ yang menjanjikan kebahagiaan.

Kaum religius dan dunia agama menyebutnya dengan apik: bertobat atau pertobatan.

John Wick (Keanu Reeves) adalah sosok mantan pelaku kriminal kelas kakap yang ingin meninggalkan ‘jalan lama’ yakni kobangan lumpur kejahatan penuh baku hantam dan bergelimangan darah segar. Ia melakukan apa yang sering kita sebut metanoia yakni balik arah 180 derajad dari kehidupan lamanya dan menjalani ‘hidup baru’ sebagai orang baru dengan semangat baru pula: berdamai dengan dirinya sendiri, mengampuni masa lalunya, dan meraih bahagia merengkuh hidup baru.

Ke Roma untuk membunuh Giana –sebuah perjalanan kejahatan karena terikat oleh ‘perjanjian darah’ di antara para gembong mafia kejahatan di New York.

 

John Wick sudah insaf dan ingin melakoni metanoia itu. Maka, ia mengubur dalam-dalam koleksi senjatanya di bunker di rumahnya. Namun, langkah baik ini di tengah jalan menemui halangan, ketika isterinya Helen (Bridget Moynahan), anjing kecilnya dibunuh keponakan tokoh mafia Rusia bernama Abram Tarasov, dan kemudian mobil favoritnya Ford Mustang dicuri pelaku. Inilah inti masalah di sekuel pertama dengan judul sama.

Sekuel kedua, lagi-lagi niatnya mengubur kisah lamanya berkubang dalam lumpur kejahatan dan darah segar terhenti, ketika dia dipaksa oleh mantan kawannya di panggung kejahatan Santonio D’Antonio (Riccardo Scamarcio) membunuh adik kandungnya dengan maksud merebut panggung kehormatan di jajaran jaringan Petinggi Mafia.

Karena terikat ‘perjanjian darah’ –semacam kesepakatan umum di kalangan Petinggi Mafia tersebut— Wick tak terkutik. Belum lagi atas desakan Winston  (Ian McShane) -petinggi jajaran mafia—ini juga mengatakan hidupnya akan terancam,kalau ia menolak permintaan tersebut. Maka,  ia melanglang ke Roma dan akhirnya berhasil memaksa Giana bunuh diri dan kemudian mengeksekusinya dengan satu tembakan di kepala.

Anjing buldog menjadi kawan sejatinya bagi John Wick –manusia kesepian yang sejatinya hendak bertobat meniti jalan hidup baru meninggalkan jalan lama penuh kobangan darah.

Lingkaran setan kejahatan

Rupanya, kejahatan pembunuhan tidak berhenti di sini. Bunuh-membunuh menjadi irama penting dalam film besutan sutradara Chad Stahelski. Proses pengolahan diri metanoia berhenti total, karena dunia John Wick kini kembali digenangi darah segar. Persoalan menjadi semakin rumit, usai kepala John Wick dihargai  tujuh dollar AS. Lalu, setelah membunuh D’Antonio di lounge New York Continental Hotel –sesuatu yang terlarang terjadi di situ.

Di ujung cerita, lagi-lagi Wick kini berseberangan dengan Winston. Yang dulu kawan, kini menjadi lawan. Yang dulu membantu, kini memburu kematiannya.

John Wick: Chapter 2 lagi-lagi bagi saya merupakan cerminan hidup kita sebagai manusia yang lemah terhadap jaringan kuat ‘peta kejahatan’ bernama lingkaran setan dunia hitam. Sekali kita terjerembab masuk ke dalamnya, susahlah kita keluar. Kalau pun kita berhasil keluar karena ingin bertobat dan meninggalkan masa lalu yang kelam, bayang-bayang kejahatan di masa lalu tetap saja mengintai hidup kita.

Lihat saja roman muka John Wick sepanjang sekuel pertama dan kedua. Hidup bahagia bersama Helen –mendiang isterinya—hanya ditampilkan sebagai flashback semata. Selebihnya, Wick menjadi manusia kesepian, hidupnya sombre (muram, lesu, buram), dan malangnya –dia hanya bisa bersahabat dengan hewan piaraannya: anjing.

Nyawanya terancam oleh jaringan mafia New York, setelah ia membantai D’Antonio di lounge New York Continental Hotel –sesuatu yang terlarang dilakukan oleh anggota mafia di hotel milik Winston ini.

Metanoia –sebagaimana kita tahu di dunia spiritualitas kristiani—adalah jalan panjang yang harus kita tempuh sepanjang kita meniti hidup penuh kelemahan ini.  Kali ini, metanoia itu digambarkan secara terang-benderang dalam film John Wick: Chapter 2 dalam perspektif noir-sombre (hitam kelam, suram, buram). Film yang menarik, bukan saja aksi kepruk melainkan berkisah tentang perjalanan rohani manusia yang dulu jahat dan kini ingin hidup baik namun di tengah jalan menjadi ‘jahat’ lagi karena kondisi yang tak mampu ditolaknya.

Dengan demikian, John Wick: Chapter 3 layak juga kita tonton beberapa tahun mendatang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here