Catatan Bersahaja Omah Kuldi: “Luhuring Duta Hambangun Gesang”

0
146 views
Misa inkulturasi dengan taian khas Dayak di Stasi Selangkut Raya, Paroki Sepotong, Keuskupan Ketapang. (Mathias Hariyadi)

EVANGELISASI di Indonesia selama ini berfokus pada karya pendidikan, kesehatan, panti asuhan dan karya sosial. Meski para uskup Asia yang tergabung dalam FABC mendorong bertumbuhnya tripple dialogue (dialog budaya, dialog agama dan dialog kemiskinan) namun tema ini masih menimbulkan pertanyaan ketimbang kesepakatan untuk bergerak dan bermisi.

Meski istilah inkulturasi telah beberapa dekade muncul dalam evangelisasi, masih banyak orang bertanya kenapa Gereja Katolik memberi perhatian pada budaya. Orang bertanya kenapa Gereja  membangun Balai Budaya Rejosari (BBR)?

Apakah dialog budaya itu berarti Gereja hanya mengurusi barang-barang, joglo, gamelan, wayang, tarian, buku-buku kuno, artefak antik? Apakah misi Gereja tidak memfokuskan manusia, tapi mengurusi barang-barang tua masa lampau?

Kalau Gereja memberi fokus pada kebudayaan apakah artinya imamnya mesti ahli budaya? Itu karena setiap umat Katolik adalah misioner, apa yang bisa umat lakukan untuk mewujudkan dialog budaya? Ada orang yang berkesan bahwa menangani Balai Budaya berarti menjadi ahli dalam budaya dimana ia hidup. Bukankah imam adalah misionaris atau duta? Bukankah imam adalah pewarta kabar sukacita Injil?

Apa hubungannya dengan budaya?

Tentu tidak benar jika penginjil harus ahli dalam bidang budaya. Perhatian utama dalam evangelisasi Gereja kita adalah pribadi manusia.

Tarian khas Dayak masuk dalam liturgi Gereja di Stasi Tanjung Beringin, Paroki Keluarga Kudus Sepotong. (Mathias Hariyadi)

Duta Kristus

Baik kiranya ditegaskan di sini kalau tugas utama seorang misionaris  atau duta Kristus itu ada dua hal.

Yang pertama peka pada Sang Pengutus yakni Kristus dan pesan2Nya. Yang kedua peka pada manusia baik sbg pribadi maupun komunitas.

Tentu tak terbantahkan lagi kalau kepedulian pada pribadi manusia berarti kompetensi secukupnya pada kebudayaannya. Dan yang juga sentral tatkala sang duta itu peduli pada manusia dan kebudayaannya berarti ia jg sampai pada jiwa komunitasnya.

Bagaimana kita bisa mendekati jiwa komunitas (soul of the community)? Bagaimana kita mengidentifikasikannya? Jiwa pribadi dan komunitas itu nampak dalam nilai-nilai yang mereka senangi. Mungkin sebagai manusia kita punya kodrat yang kurang lebih sama. Namun kt juga menyadari bahwa manusia itu punya preferences dan prejudice. Demikian juga komunitas  punya prioritas kolektif, orientasi mental, ketakutan, ambisi, dan keluhurannya sendiri. Mereka punya cara pandang dan mindset-nya sendiri.

Kiranya penting disampaikan bahwa inkulturasi itu bukanlah isi Injil. Diskusi tentang kultur tidak bs menggantikan pesan injil. Tugas utama misionaris  adalah mempersonifikasikan Sabda Allah dan menyampaikannya secara setia padaa komunitas. Sabda Allah itu mesti diterjemahkan dalam bahasa yang bisa dimengerti dan diartikulasikan dalam idiom kultural dimana misionaris diutus.

Namun demikian misionaris itu sendirilah yang pertama harus rajin menerapkan pesan dan kebenaran Injil itu dalam dirinya sendiri, dalam seluruh integritas hidupnya, dalam seluruh usaha dan kesadarannya. Lebih dari itu,  sang misionaris harus menyampaikan Kristus yang telah ia jumpai dan ia hidupi hingga orang lain pun akhirnya mengalami sendiri perjumpaan dengan Kristus sendiri face to face.

Balai Budaya Rejosari

Salah satu moto di Balai Budaya Rejosari  (BBR) adalah luhuring duta hambangun gesang. Keluhuran budi sang duta membangun kehidupan. Keluhuran duta kehidupan adalah wujud konkrit membangun budaya.

Agar luhur budi dayanya, sang duta (misionaris) mesti berani masuk ke dalam budaya di mana ia tinggal. Misionaris mesti peduli dan peka pada budaya dimana Injil diwartakan.

Salah satu acara budaya di Balai Budaya Rejosari (Dok. BBR)

Seperti Kristus ia mesti turun ke bawah (descending way). Ia harus berani mengalami kenosis, menghampakan diri seperti Kristus. Meski ia tidak mungkin sukses total dalam menghilangkan budaya aslinya, namun ia harus berani masuk dalam budaya baru dimana ia diutus, beradaptasi dengan sgala nilai, sikap, persepsi, mengadopsi bentuk tradisi yang baru, cara berelasi, gaya bertingkah laku.

Ia harus lahir baru dalam budaya baru. Ia harus bergelora dengan orang-orang baru. Ia harus menjadi satu dengan komunitas baru. Seperti Paulus, ia menjadi Yahudi bag orang Yahudi, menjadi Yunani bagi orang Yunani dan segalanya bagi semuanya orang.

Dalam budaya baru itu, ia mesti peka pada sensibilitas masyarakat, peka pada reaksi-reaksi mereka, mampu menerjemahkan cara-cara merespon. Ia harus rendah hati di komunitas yang baru itu. Ia mesti mau mendengarkan, mau belajar, mau memperbaiki diri sendiri.

Bukankah a good missionary is a permanent learner? Ia mesti jangan puas diri ketika sudah mampu menguasai bahasa setempat atau pemahaman eksternal tentang kebudayaan.

Lebih dari sekedar puas diri pada yang eksternal, ia harus terus menerus mencari jiwa komunitas yang ia layani. Ia hrs merefleksikan realitas eksistensial yang mewahyukan dunia batin orang-orang, sikap-sikap mereka, interese mereka, serta jeroan dari komunitas.

Duta adalah orang yang mau dan mampu menghormati manusia, meski yang tidak berpendidikan,tidak kaya dan tidak berkuasa. Ia tidak memberi nilai hanya karna kecakapan yang lahiriah dan sementara. Ia memandang manusia karena di situlah the genius of the community bergelora. Ia harus mau terbuka pada revisisi. Ia bersemangat untuk berbagi tp jg bahagia untuk belajar. Ia mampu melangkah maju pada jiwa komunitas dengan sense of respect, awe and wonder.

Hidup sang duta sendiri harus ditandai dengan sikap lepas bebas. Ia harus hati-hati agar sikap dan kecenderungan negatif budaya aselinya tidak menghalangi cara mewartakan Injil, tidak menghalangi pertumbuhan dan pengembangan kultur lokal.

Ia harus membangkitkan original genius of the community dengan me-regenerasi kuasa Injil. Akhirnya tujuan akhirnya adalah membawa jiwa komunitas berjumpa sendiri dengan Kristus.

Duta yang demikian pasti akan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi inkulturasi ketimbang ahli budaya yang tidak pernah berguna bagi komunitas dan masyarakat banyak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here