“Silence”, Jesuit Pantang Mundur Lakukan Penyebaran Iman

0
1,221 views
Aktor muda Andrew Garfield memerankan sosok pastor muda Jesuit yang berani meninggalan zona nyaman di Macau dan pergi ke negeri antah berantah di Jepang. (Ist)

BANYAK orang dengan sangat antusias memuji film drama historik berjudul Silence yang dibesut sutradara Martin Scorcese. Mereka melihat kelebihan film yang sangat panjang (161 menit) ini dari berbagai perspektif: bahasa simbol, suasana mencekam, pemandangan kontroversial ketika nyawa manusia dibuat mainan untuk kemudian hidup manusia dimatikan karena menolak perintah untuk mengingkari iman kristiani mereka.

Tapi tak banyak kritikus film sedikit ‘nakal’ untuk –misalnya– mempertanyakan atau mencoba menggali lebih dalam mengapa orang-orang Jepang kristiani itu mampu bertahan menyikapi pilihan iman mereka akan Yesus Kristus. Lalu juga, mengapa dua pastor Jesuit muda asal Portugal yakni Pastor Sebastião Rodrigues SJ (Andrew Garfield) dan Pastor Francisco Garupe SJ (Adam Driver) sama-sama bernyali rela meninggalkan zona nyaman tinggal di Kolese St. Paulus (Macau) untuk kemudian berlayar menuju Jepang, tepatnya mendarat di Tomogi?

Spirit khas Jesuit

Menelisik kondisi psikis kedua pastor Jesuit muda itu yang seakan mampu ‘tahan banting’ terhadap aneka penderitaan dan siksaan yang bahkan mengancam keselamatan jiwanya itu, marilah kita bertanya: mengapa hal itu bisa terjadi? Atas pertanyaan tersebut, kiranya sumber energi batin darimana muncul persistensi iman dan endurance kedua padri Jesuit itu tak lain berasal dari exercitia spiritualia yang menjadi spirit kejesuitan mereka.

Bagi St. Ignatius –pendiri Ordo Serikat Jesus (SJ) atau yang kemudian dikenal sebagai les jésuites alias pengikut Jesus), Latihan Rohani bukanlah jenis buku berisi ‘mantra-manta rohani’ yang perlu dibaca. Sama sekali bukan seperti itu.

Bertahan dalam suka dan duka hidup di bawah tanah mempraktikkan iman mereka secara liturgis.

Sesuai namanya,  Latihan Rohani  justru hanya merupakan  serangkaian ‘metode’ untuk proses olah diri. Inilah proses panjang mengolah rasa dan batin dengan mana  setiap Jesuit diharapkan bisa mengalami dirinya telah dibimbing oleh Roh Tuhan melalui pengalaman desolasi dan konsolasi untuk kemudian merasakan munculnya kehendak yang sangat-sangat kuat untuk mau mengikuti Jesus dan menjadi murid-Nya.

Dalam program olah diri dan batin memakai metode Latihan Rohani itulah, para Jesuit mana pun dan dari belahan dunia mana pun pasti  diajak oleh spiritualist-nya untuk melakukan meditasi tentang Panggilan Raja untuk kemudian memilih mengikuti Panji Kristus, meski pada dasarnya tetap merasa dirinya tidak pantas karena kedosaan. Melalui praktik doa berupa latihan-latihan rohani itu pula, para Jesuit melakukan serangkaian kontemplasi mengenai beberapa spot peristiwa kehidupan Yesus: pengajaran, disiksa, mati, namun kemudian mampu bangkit dari alam maut (Paskah) dan kemudian pengalaman para Rasul menerima Roh Kudus (Pentakosta).

Menemukan Tuhan dalam segala sesuatu dan AMDG

Di ujung akhir Retret Agung selama 30 hari dengan metode Latihan Rohani itu, para  Jesuit akhirnya diajak mengkontemplasikan Misteri Cinta dimana cinta itu lebih bermakna bila ditindaklanjuti dengan perbuatan daripada hanya diucapkan dengan kata-kata. Pendek kata, pengalaman batin olah diri melalui mekanisme latihan-latihan rohani itu pula, para Jesuit diajak mampu menemukan Tuhan dalam segala hal dan bahwa Tuhan itu hadir di setiap kesempatan dan kondisi apa pun.

Apa yang dicari para Jesuit bukanlah kemegahan  dan kebanggaan diri, melainkan agar nama Tuhan dan kemuliaan-Nya semakin besar dirayakan dalam kondisi apa pun.  Persis di sinilah semangat Ad Maiorem Dei Gloriam –biasa disingkat  AMDG— yang harus menjiwai setiap Jesuit dalam berkarya, berpikir, dan bertindak.

Ditantang mengingkari iman dengan taruhan nyawa.

Ingin menemukan Tuhan dalam segala hal serta senantiasa berbekal semangat khas Jesuit yakni AMDG itulah yang kiranya membawa kedua padri Jesuit muda asal Portugal itu berani mendarat di Jepang –sebuah dunia antah berantah saat itu— meski motif awalnya hanya ingin menemukan patron mereka yakni Pastor Cristóvão Ferreira SJ (Liam Neeson). Mereka tertantang masuk ke Jepang setelah beredar kabar bahwa guru mereka telah mengingkari iman hanya karena ‘takut mati’.

Drama historis

Bahan dasar film Silence ini diadopsi dari sebuah novel dengan judul sama karya penulis Shūsaku Endō. Meski diangkat dari sebuah novel yang sangat terkenal, namun kita tidak tahu persis apakah konten novel besutan  Shūsaku ini benar-benar diangkat dari sejarah riil di Jepang ketika rombongan para misionaris Jesuit datang untuk misi penginjilan.

Umat kristiani perdana pada era misi perdana di Jepang. (Ist)

Yang pasti, bibit-bibit awal kristianitas di Jepang yang tumbuh di kemudian hari  itu terjadi berkat karya misioner yang ditaburkan oleh Misionaris Agung: St. Fransiskus Xaverius. Ia merupakan satu dari Para Imam Jesuit Pertama (Primi Patres) yang hidup sezaman dengan Santo Ignatius de Loyola pada abad ke-16.

Dengan demikian, kita mesti melihat konten film Silence besutan Scorcese ini bisa jadi sengaja telah ‘dikemas’ untuk sebuah paket tontonan menarik dan menyedot emosi penonton. Maka di film ini, kita seakan harus dibuat bisa trenyuh hati, saat  menyaksikan umat katolik perdana di Jepang yang hidup di bawah tanah karena dikejar-kejar penguasa: mereka itu dibiarkan tenggelam di laut, kepalanya dipancung karena menolak mengingkari iman mereka akan Yesus Kristus.

Rela mati ditenggelamkan di laut demi mempertahankan imannya akan Yesus Kristus. (Ist)

Sekali lagi, darimana datangnya spirit ‘tahan banting’? Semangat atau energi batin mana yang telah mengilhami para Jesuit muda itu sehingga mereka mampu bertahan menghadapi aneka cemoohan dan tindakan tak bermartabat yang dilakukan sosok Samurai yang juga bertindak sebagai inquisitor (penyelidik dan penyidik pemeluk kristianitas)? Rasanya tidak perlu main tunjuk terlalu jauh, karena kehendak ingin menemukan Tuhan dalam segala hal serta semangat AMDG itu senantiasa tinggal di hati mereka.

Karena ingin mengikuti ‘panji-panji’ Kristus, maka penderitaan fisik dan psikis menjadi sarana untuk semakin dekat mengikuti Tuhan yang pernah menderita dan disiksa hingga akhirnya mati disalib. Karena pengalaman rohani akan kebangkitan Tuhan (Paskah) dan bimbingan Roh Kudus (Pentakosta), para Jesuit itu selalu memiliki harapan bahwa Tuhan itu senantiasa dekat dan membimbing mereka.

Itulah mengapa ketika naluri kemanusiaannya dibuat gentar oleh kegetiran hidup, Pastor Sebastião Rodrigues SJ bergeming sediki pun: tetap tak berubah imannya sekalipun kematian mengancam nyawanya.

Doa khas Jesuit “Suscipe” karya St. Ignatius de Loyola.

Bagi saya, film Silence itu ibarat sebuah paparan panjang tentang perjalanan batin manusia beriman. Di tengah hamparan padang gurun dimana musuh dan bahaya maut selalu mengintai, matahati manusia ditantang untuk memilih dua opsi: mengingkari imannya hanya demi sebuah ‘prestasi’ atau ‘hadiah’ tertentu atau tetap kokoh mengimani Yesus Kristus sebagai Tuhan. Inilah pengalaman riil manusia beriman ketika hidupnya dihantam badai desolasi (kekeringan hidup), namun kemudian bisa bangkit kembali karena di hatinya selalu tumbuh harapan akan datangnya ‘rahmat’ Tuhan yang akan menyempurnakan dan menggenapi segala sesuatunya.

Itulah sebabnya dalam doa yang sangat khas Jesuit yakni Suscipe (Terimalah ya Tuhan: kebebasanku, kemerdekaan, etc.), para Jesuit dilatih untuk tidak mudah gentar menghadapi segala tantangan.  Itu karena di sana ada harapan, yakni bahwa “berilah aku Cinta-Mu dan rahmat-Mu, maka hal itu sudah cukup bagiku.”

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here