Sekilas tentang Uskup Agung Semarang: Mgr. Robertus Rubiyatmoko (1)

8
7,357 views
Mgr. Robertus Rubiyatmoko Pr saat bersama para frater lainnya menerima tahbisan imamatnya dari Uskup Agung Semarang waktu itu: Kardinal Julius Darmaatmadja SJ pada tanggal 12 Agustus 1992. (Ist)

VATIKAN secara resmi telah menunjuk Pastor Robertus Rubiyatmoko Pr –dosen ahli Hukum Gereja—menjadi Uskup Agung Semarang. Pengumuman resmi atas penunjukannya menjadi Uskup Agung KAS ini dirilis pada hari Sabtu petang tanggal 18 Maret 2017 pukul 12.00 waktu Roma atau pukul 18.00 WIB.

Baca juga:  Breaking News: Pastor Dr. Robertus Rubiyatmoko Pr, Uskup Agung Semarang

Lahir di Sleman, DIY,  pada tanggal 10 Oktober 1963, Mgr. Robertus Rubiyatmoko Pr adalah anak pasangan orangtua bernama Harjo Partono dari  kawasan Babadan, Wedomartani. Ibu dan ayah kandungnya kini telah almarhum.

Selepas menyelesaian pendidikan di SMP Babadan, Wedomartani, Yogyakarta, ia lalu melanjutkan pendidikan calon imam di Seminari Menengah Mertoyudan pada tahun 1980 dan lulus empat tahun kemudian (karena melalui empat jenjang pendidikan: kelas persiapan, kelas 10-11-12) pada tahun 1984. Begitu lulus SMA di Seminari Menengah Mertoyudan, ia mendaftarkan diri bergabung masuk sebagai frater calon imam diosesan (praja) KAS.

Sebagai calon frater diosesan KAS, ia  kemudian menjalani tahun rohani di Wisma Jangli Semarang bersama sejumlah teman seangkatannya yakni (kini) Romo FX Sukendar Wignyosumarta Pr yang menjadi Administrator Diosesan KAS sekaligus Vikjen KAS serta Romo Jaka Prakosa Pr, calon Rektor Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan Yogyakarta  mulai bulan Agustus mendatang.

Setahun menjalani program pendidikan tahun rohani di Jangli, Semarang, Fr. Robertus Rubiyatmoko Pr menjalani tugas studi filsafat dan teologi di Fakultas Teologi Wedabhakti Universitas Sanata Dharma dengan ‘selingan’ setahun mengikuti program Tahun Orientasi Pastoran (TOP) di Seminari Menengah Mertoyudan (1988-1989) sebagai wakil pamong.

Pada tanggal 12 Agustus 1992, Fr. Robertus Rubiyatmoko Pr menerima tahbisan diakonat dan kemudian tahbisan imamatnya dari tangan Uskup Agung KAS waktu itu – Kardinal Julius Darmaatmadja SJ.  Prosesi tahbisan diakonat dan kemudian tahbisan imamatnya berlangsung di Kapel Seminari  Tinggi St. Paulus Kentungan Yogyakarta.  Dalam satu paket acara, juga menerima tahbisan diakonat dan imamat adalah  dua teman seangkatan frater diosesan KAS alumni Seminari Mertoyudan: Fr. FX Sukendar Pr dan Fr. Jaka Prakosa Pr.

Sebagai imam muda diosesan KAS, Pastor Robertus Rubiyatmoko Pr menerima tugas pastoralnya pertama di Gereja St. Maria Assumpta Pakem, DIY. Selanjutnya, oleh Uskup Agung KAS waktu itu –Kardinal Julius Darmaatmadja SJ- Pastor muda Robertus Rubiyatmoko Pr ditugaskan belajar Hukum Gereja di Universitas Gregoriana di Roma hingga meraih gelar licentiat dan akhirnya doktoral.

Sepulang dari Roma, ia langsung mendapat tugas mengajar di Fakultas Teologi Wedabhakti Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan menjadi tenaga pendidik (formator) untuk para frater diosesan lintas keuskupan (KAJ, KAS, dan Keuskupan Purwokerto) yang tinggal di Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan Yogyakarta.

Di lingkungan internal KAS, ia juga dipercaya menjadi Vikaris Judisial KAS.

Sebagai ahli Hukum Gereja dan seluk-beluk perkawinan katolik, Pastor Robertus Rubiyatmoko pernah menulis buku berjudul Perkawinan Katolik menurut Hukum Kanonik terbitan Penerbit Kanisius.

Di buku ini antara lain dibahas tentang hal-hal yang bisa menjadi halangan perkawinan katolik dan solusi Gereja Katolik ketika menghadapi berbagai masalah yang harus dicarikan jawabannya. Juga dibahas tentang adakah hukum di KHK (Kitab Hukum Kanonik) yang membahas soal hak asuh anak, apabila misalnya terjadi kasus ‘pembatalan’ perkawinan katolik. (Bukan perceraian perkawinan tetapi pembatalanRed.)

Waktu muda

Tampilan fisik calon Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko sekarang jauh beda ketika masih muda belia sebagai seminaris di Seminari Menengah Mertoyudan kurun waktu tahun 1980-1984. Dulu, ia berpenampilan lugu, naif, cenderung clingus (malu-malu) dan suka kriyip-kriyip (melek-merem setengah) kelopak matanya. Teman-teman di Seminari Mertoyudan mengenalnya dengan nama  Ruby. Sementara, oleh teman-teman seangkatannya juga di Mertoyudan sebagaimana dituturkan oleh Ibe Karyanto, ia lebih dikenal dengan nama karapan (julukan) yakni Ngabdul.

Teman angkatannya di SJ adalah Romo Albertus Hartana SJ (Paroki Klaten), Romo Tiburtius Agus Sriyono SJ (Paroki Banteng Yogyakarta, kini Direktur ATMI Surakarta), Romo Heru Prakosa SJ (dosen Islamologi dan Kepala Litbang Fakultas Teologi USD Yogyakarta), dan Romo Benedictus Bambang Triatmoko SJ (ATMI Jababeka).

Romo Robertus Rubiyatmoko bersama para mudika Paroki Babadan Yogyakarta, paroki asalnya saat masuk Seminari Mertoyudan tahunn 1980. (Ist)

Menurut anggota Sesawi (Sesama Sahabat Warga Ignatian, forum kekeluargaan alumni Novisiat SJ Girisonta) Setyanto Mitro Wibowo, di lingkungan keluarga dekatnya Pastor Rubiyatmoko lebih dikenal dengan nama panggilan: Moko.  “Romo Moko masih terhitung kerabat dekat yakni adik sepupu saya, karena ia adalah kakak langsung anak bungsu embah,” tulisnya di WAG Sesawi.

Ia berasal dari desa Demangan, tempat kelahirannya di kawasan Wedomartani, Sleman, DIY, dan berasal dari Paroki Babadan Yogyakarta.

Romo Rubiyatmoko (tengah bawah( duduk bersama  kerabat saat misa di rumah anggota keluarganya di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, pertengahan Januari 2017 lalu. (Ist)

Pertemuannya dengan Romo Moko, demikian tulis Setyanto, terjadi di kawasan Cempaka Putih di Jakarta Pusat tanggal 14 Januari 2017 lalu, ketika berlangsung acara  memule  misa peringatan 1.000 hari di rumah keluarga Djumartilah. “Itu rumah keluarga kakak kandung saya,” tulis Setyanto yang kini aktif di Berkat Santo Yusup (BKSY), program gerakan belarasa KAJ yang membantu orang sakit dan meninggal dengan sedikit bantuan finansial.

Menurut Fransiscus Asmi Arijanto, seorang tour leader ziarah rohani dengan pengalaman 24 tahun malang-melintang di Tanah Suci dan beberapa kawasan di Eropa Barat dan Eropa Timur, Romo Robertus Rubiyatmoko Pr alias Romo Moko atau Ngabdul adalah sosok imam yang ramah dan rendah hati. “Banyak  kali, saya sempat bertemu beliau saat membawa rombongan tur peziarah ke Eropa,” kata Arijanto, mantan frater Jesuit dan terbilang menjadi adik kelas setahun di bawah Romo Moko saat di Seminari Mertoyudan

“Tentu saja, beliau juga pintar,” terangnya kemudian. “Pribadinya juga menarik,” tambah Romo Danang Sigit Koesworo Pr, teman angkatan kuliah teologi di Fakultas Teologi Wedabhakti USD Yogyakarta kurun waktu tahun 1990-an.

Suka pelihara kumis sejak muda, namun belum berkumis ketika masih di Seminari Mertoyudan. (Ist)

Kini, Romo Moko alias Ngabdul sudah jauh beda penampilan fisik: tegap dengan kumis tebal menghiasi  bagian atas bibirnya. “Sekilas, ia mirip Mas Adam –suaminya Inul,” tutur Frans Yayang, mantan novis SJ yang tidak pernah mengenalnya dan juga tidak pernah bertemu muka di aneka kesempatan.

“Ia sekilas juga mirip Romo Kuntara Adi SJ dari Muntilan,” sambung Johan Carmello, alumnus Seminari Mertoyudan dan eks novis Jesuit asal Surabaya menimpali.

Yang pasti, kata Pastor Christo Tara OFM, kalau tengah memberi kuliah tentang Hukum Perkawinan di bangku Fakultas Teologi USD, banyak banyolan nan lucu terjadi di tengah paparan kasus-kasus perkawinan untuk dianalisis bersama para mahasiswanya. “Sebagai dosen Hukum Gereja, lucunya pol habis,” terang pastor Fransiskan yang kini berkarya di garis batas Indonesia di Timor Barat dan Timor Leste.

8 COMMENTS

  1. Proficiat Mgr Rubi.
    Waktu ngajar di kelas penuh dg banyolan tapi mengena dg materi. Tapi di ruang ujian bikin mahasiswa panas dingin krn tak yakin dg jawabannya.
    Selamat melayani umat KAS.
    Salam dr salah seorang mahasiswa yg pernah di HER (remidi) di ujian hukum gereja.
    Hehehe

  2. Selamat ya Romo Moko skrg sudah Mgr Uskup, tiap keluarga besarnya menikah selalu Beliau yang diminta memberkati termasuk nikahanku, semoga lancar dalam mengemban tanggung jawab pelayanan yg lebih besar…..selalu sehat, kuat, selalu ceria dan sukses ya Uskup Mgr R. Rubiatmoko

  3. Om Romo, kami biasa memanggil beliau, kami sangat bangga denga ditunjukkan nya Romo menjadi Uskup KAS,selamat dan banyak berkat bagi umat semua. Kami sekeluarga di Jakarta dan Bekasi sampai tidak bisa tidur,memikirkan betapa bahagia kami mendapat karunia yang sebesar ini dari Tuhan, Romo Moko sangat low profile, dan tidak lelah lelahnya selalu mendengar keluh kesah kami, terutama bagi keluarga-keluarga muda,
    Terus berjuang Mgr Robertus, kami selalu membawa dalam doa untuk tugas-tugas baru.
    Salam dari keluarga besar Ibu Djumartilah di Cempaka Putih,Pulo Gebang & MM Jakarta

  4. Sbg dosen, beliau sangat cerdas dan menjelaskan segala materi berikut dengan berbagai macam solusi atas permasalahan dg sangat gamblang dan jelas serta mudah dipahami.
    Sbg bapak rohani, beliau sangat kebapakan, ngrengkuh dan terasa “ngopeni” anak2 bimbingnya dg penuh kasih, bagaikan gembala yg tak mau seekor pun dari dombanya hilang.
    Sbg pimpinan, beliau sangat terbuka utk mendengar dan belajar dri para junior..
    Top markotop. Sy sangat bangga dan bahagia memiliki Uskup sperti beliau.

    Berkah Dalem.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here