70 Hari di Rumah Khalwat Roncalli: Hidup Berkomunitas, Bersyukur dan Belajar Mendengarkan (12)

0
144 views
Cinta kasih seorang pemimpin biara di Kairo, Mesir. (Mathias Hariyadi)

Selasa, 18 Oktober 2016

PAGI ini diawali dengan meditasi terpimpin pkl. 05.30 di ruang samadi dibimbing oleh Sr. Melanie Rostina, FCh. Bahan meditasi diambil dari 1 Kor. 13, 4-7 tentang kasih. Lalu kami disuruh menulis kembali ayat-ayat ini dengan mengganti kata kasih dengan nama kami masing-masing.

Saya mensharingkan ayat-ayat ini berdasarkan pengalaman saya. Betapa inginnya saya juga mempunyai sikap kasih ini, yaitu sabar, murah hati, tidak pemarah, ……. Tolonglah saya, ya Tuhan, agar saya Kaumampukan untuk mengungkapkan buah-buah kasih kepada sesama yang saya jumpai.

Selama tiga hari, mulai hari ini materi yang diberikan ialah Hidup Komunitas oleh Br. Anton Karyadi, FIC. Saya mensyukuri anugerah Allah melalui hidup berkomunitas.

Baca juga:   70 Hari di Rumah Khalwat Roncalli: Pribadi Dipengaruhi oleh Inner Child (11)

Sulit bersyukur

Dalam kenyataannya, ada anggota komunitas yang sulit bersyukur atas apa yang dialaminya, suka mengeluh dan tidak puas, suka protes. Namun ada orang yang mudah bersyukur, meskipun hal kecil yang dialaminya. Baginya semua adalah anugerah bebas dari orang lain untuknya. Orang lain sebagai hadiah.

Pada dasarnya kebebasan pribadi menjadi salah satu ciri utama manusia, bebas untuk menentukan apa yang akan dilakukannya. Terlepas dari motivasi terdalamnya, apa yang dilakukan oleh teman sekomunitas itu sungguh merupakan pemberian diri secara gratis, suatu anugerah, suatu bentuk dari cinta. Maka sudah sepantasnya kita mensyukurinya.

 Bila kita dapat mensyukuri apa pun yang dilakukan oleh teman-teman skomunitas, kita akan lebih bahagia, lebih gembira dalam hidup bersama. Merasakan bahwa teman kita adalah anugerah Tuhan sendiri. Kita dapat membangun hidup bersama secara lebih baik, akrab, dan saling membantu. Hasilnya Komunitas Indah dan Damai.

Para suster karmelit bercanda bersama menghidupkan dinamika berkomunitas. (Ist)

Membangun Komunitas Religius

Komunitas religius merupakan bentuk hidup bersama orang yang mempunyai iman yang sama, spiritualitas yang sama, tetapi terdiri dari pribadi-pribadi yang mempunyai latar belakang kepribadian yang berbeda-beda. Dalam membangun komunitas diperlukan kemampuan-kemampuan tertentu dari pribadi anggota maupun dari pimpinan.

Pada pertemuan kedua, kami masuk dalam kelompok komunitas kecil untuk berdiskusi tentang hal-hal yang mendukung dan membangun komunitas.

  • Kemampuan Pribadi Anggota

Dalam hidup bersama, membangun komunitas murid-murid-Nya di Israel, Yesus memiliki kemampuan-kemampuan manusiawi yang juga kita miliki. Sesuai dengan teladan dan semangat Yesus, seorang religius hendaknya antara lain mempunyai kemampuan pribadi untuk membangun komunitas.

  • Mendengarkan

Yesus mampu mendengarkan dengan baik, terutama mereka yang menjerit, mohon bantuan-Nya. Bakat mendengarkan dengan baik, umumnya dimiliki oleh seorang yang sungguh menyadari keterbatasannya dan kerapuhannya. Semakin kita menyadari kekurangan diri sendiri, semakin kita menyadari kebutuhan kita untuk menerima sesuatu dari yang lain.

Pendengar sejati juga mendengarkan dengan budinya, maka ia terbuka dan tak cepat akan mengadili. Ia mendengarkan dengan hati, maka ia peka terhadap kebutuhan sendiri, maupun orang lain. Ia ‘mendengar’ dengan matanya, memahami hal mana yang harus diperhatikan dan hal mana yang dapat diabaikan.

  • Berbicara

Yesus  berbicara dengan jelas dan menawan. Ia pandai bercerita dan berani mengutuk orang-orang Farisi yang munafik. Ia dapat menikmati percakapan intim dengan sahabat-sahabat-Nya. Ia berani embil risiko dengan mengungkapkan keyakinan-Nya dan karena itu Ia dihukum mati.

Komunitas yang sehat membutuhkan orang yang bersedia dan mampu berbicara dengan baik, mengemukakan pandangannya dengan baik. Yang diungkapkan mungkin benar, mungkin tidak benar. Kemampuan beromunikasi menghasilkan kepercayaan. Mampu berkomunikasi membantu kita semakin memahami pikiran dan perasaan kita sendiri. Hendaknya komunitas memelajari ketrampilan berkomunikasi.

  •  Peka

Yesus amat peka. Ketika perempuan yang sakit pendarahan menyentuh mantol-Nya, Ia merasakannya. Ia memerhatikan janda yang memasukkan seluruh kekayaannya, yaitu dua peser ke dalam peti uang.

Mengasah rasa peka dan memilikinya  itu penting, karena hal itu akan menghasilkan keutamaan-keutamaan lain, seperti rasa hormat, sopan santun, simpati, pengertian, kesabaran, dan belas kasihan. Sebaliknya, jika tidak ada rasa peka, orang mudah bersikap kasar, egois, prasangka, curiga, dan bahkan kekerasan. Kepekaan diungkapkan dengan perhatian yang kecil-kecil, dengan kata-kata lembut, pandangan mata, kunjungan singkat, dan sentuhan-sentuhan.

Para rubiah karmel ini bekerja bersama melakukan hal-hal sederhana di Biara Rubiah Karmel Flos Karmeli di Batu, Jatim. (Dok. Biara Rubiah Karmel Flos Carmeli Batu)
  • Menikmati hal-hal sederhana

Yesus menikmati kesenangan-kesenangan hidup sederhana: roti yang dipanggang, burung-burung yang terbang di udara, rasa anggur yang baru, anak-anak yang tertawa.

Rahasia kebahagiaan sejati adalah hal-hal seperti: kemampuan untuk menikmati hal yang kecil dan sederhana, memerhatikan hijaunya rumput setelah hujan deras, mencium harumnya kopi yang baru dibuat, mandi dengan air hangat.

Orang yang membiasakan dirinya untuk memerhatikan dan menghargai hal-hal kecil, mempunyai bakat yang amat berharga untuk memetik sukacita dari hal-hal yang biasa dan sederhana. Hal ini menjadi berkat bagi komunitasnya karena mereka mudah dipuaskan.

  • Tekun

Yesus bekerja keras. Ia tak pernah jemu mengulang-ulang pesan-Nya “Cintailah satu dengan yang lain.” Ia bertekun hingga akhir, bahkan hingga disalibkan dan wafat.

Orang yang tekun tak takut untuk bekerja keras dan bertahan terus untuk menyelesaikan tugas yang disanggupinya sampai tuntas.

  • Merasa dicintai

Yesus menyadari kasih Bapa. Ia sungguh-sungguh menyadari bahwa Ia dikasihi Bapa-Nya. Ia akhirnya bersedia menyerahkan diri kepada kehendak-Nya.

Anggota komunitas yang menyadari harga dirinya dan merasa dirinya dicintai, adalah anggota yang paling disukai oleh yang lain. Mereka tidak terdorong untuk membuktikan harga dirinya dengan bersaing, membela dirinya, atau bekerja berlebihan.

Keyakinan bahwa kita dicintai membuat kita bersikap santai dan memudahkan pergaulan kita dengan orang lain. Rasa percaya diri harus kita pupuk lewat relasi dengan sesama dan Tuhan dalam doa.

Bekerja dengan senang hati.
  • Menerima diri

Orang mampu mengenal pribadinya sendiri. Hendaknya seorang pribadi mampu menyadari, mengerti gejolak perasaan-perasaannya, dan menerima apa adanya.

Akhirnya orang mampu menerima kekurangan, kelebihan, dan keunikan pribadinya. Pribadi yang demikian biasanya tenang, damai. Pribadi yang damai dengan diri sendiri dapat membawa orang lain damai pula. Kita perlu menyesuaikan diri dengan keunikan orang lain, tetapi kritus selektif, yang saling mengembangkan. Keunikan para anggota memerkaya dan menyatukan komunitas kita.

  • Rasa humor

Orang yang memiliki rasa humor umumnya bekerja lebih baik. Mereka lebih kreatif, lebih luwes, cenderung memakai metode-metode baru dan memiliki pandangan-pandangan yang baru.

Mampu tertawa meringankan tekanan hidup sehari-hari. Masalah-masalah dalam komunitas terasa kurang menyakitkan. Bahkan kita dapat menertawakan diri sendiri. Kita dapat menemukan banyak kesempatan untuk tertawa.

  • Empati

Empati adalah kemampuan untuk memahami perasaan-perasaan orang lain. Kemampuan untuk mengerti perasaan orang lain menjadi kunci keberhasilan dalam kehidupan bersama orang lain, baik di dalam komunitas maupun dalam masyarakat pada umumnya.

  •  Memelihara hubungan

Kemampuan untuk memelihara hubungan-hubungan dengan orang lain. Kemampuan ini pada umumnya membutuhkan ketrampilan dasar dalam menghadapi, menangani, dan menyelesaikan persoalan-persoalan emosional dengan orang lain, misalnya rasa tersinggung, marah, konflik, dll.

 Kemampuan pemimpin membangun Komunitas

Setiap orang menjalankan suatu kepemimpinan. Paling tidak memimpin diri sendiri. Kepemimpinan, pertama-tama berkaitan dengan masalah mengarahkan, membuat pilihan, dan mengambil keputusan. Seseorang hanya dapat memimpin orang lain dengan baik bilamana suda dapat memimpin dirinya sendiri.

Untuk menjadi pemimpin komunitas yang baik, orang harus memiliki kemampuan-kemampuan berikut.

  • Rendah Hati

Sederhana dan menganggap diri pelayan dari semua. Biarlah yang terbesar di antara kamu menjadi pelayan dari semuanya (Mat. 23, 11). “Saya datang bukan untuk dilayani, tetapi melayani, jadilah kamu contoh bahwa kamu juga akan melakukan seperti saya telah melakukannya kepadamu (Mat. 20, 27 – 28).

St.  Vincentius a Paulo mengatakan, “Seorang pemimpin jangan sampai  menunjukkan dia sebagai pemimpin. Adalah salah mengatakan ini supaya dapat memerintah dengan baik dan memertahankan kekuasaannya. Orang harus membiarkan diri dikenal bahwa dia adalah pemimpin.

Yesus, dengan kata-kata-Nya dan contoh-contoh-Nya telah mengajar kita.”

  • Teladan baik

Pemimpin harus memandang dirinya sendiri sebagai lampu yang tidak diletakkan di bawah gantang, untuk dilihat bagi semua orang. Sebagai model yang mana orang lain harus mengatur diri mereka sendiri. Maka seorang pemimpin: hendaknya berkelakukan baik; tidak dijiwai oleh semangat duniawi dan penuh egoisme; dijiwai semangat religius yang benar; dalam segala sesuatu hanya mencari kehormatan Allah dan keselamatan anggotanya.

Mencuci bersama sebagai bentuk mencintai sesama anggota biara dan komunitas. (Dok. Biara Rubiah Karmel Flos Carmeli Batu)
  • Cinta kepda anggota

Rasul Paulus berkata, “Di atas semuanya itu, kenakanlah cinta kasih, sebagai pengikat kesempurnaan.” Tak ada yang lebih perlu untuk memimpin komunitas daripada cinta kasih.

Cinta yang biasa tidak cukup sebagai pemimpin, di samping cinta seorang bapak, ia masih harus mempunyai cinta seorang ibu. Cinta kasih harus menjadi penggerak segala tindakan pemimpin. Cinta kasih juga terwujud dalam mendengarkan penuh perhatian, menghargai setiap orang, tidak membeda-bedakan orang, memerhatikan mereka yang lemah.

  • Saleh dan suci

Seorang pemimpin harus merupakan api yang menerangi dan memanaskan. Harus memersatukan para anggota dengan Tuhan. Maka kata-katanya, karyanya, dan segala tingkah lakunya harus bersifat Ilahi. Maka seorang pemimpin harus rajin berdoa, renungan, meditasi, pemeriksaan batin, dan kunjungan kepada Sakramen Mahakudus, atau berdoa rosario. Maka Allah yang mahabaik akan memberkati segala usahanya.

  • Sikap hati-hati

Pemimpin selalu berjalan di jalan yang benar, dengan memegang Konstitusi. Dalam berkata, bersikap, dan bertindak pemimpin harus berdasarkan pertimbangan hati yang bijaksana. Perbuatan pemimpin yang dilakukan dengan kurang pertimbangan dapat menimbulkan kekacauan.

Pemimpin harus insaf bahwa kata-kata, perbuatan, dan tindakannya sedang diuji dan dinilai oleh anggota. Sesuatu dalam orang lain (anggota) dinilai sebagai biasa saja, akan tetapi sungguh diperhatikan pada seorang pemimpin.

Pemimpin harus berhati-hati, misalnya: tidak menyalahgunakan kepercayaan para anggota; berhati-hati dalam membimbing anggota muda; mendampingi anggota yang bertabiat sangat sukar; mendampingi mereka yang tua, lemah, dan sakit. Janganlah pernah menyatakan bahwa keadaan mereka merupakan gangguan atau menimbulkan kesukaran baginya; memberi tugas setiap orang sesuai dengan kemampuan masing-masing; tidak membuka rahasia pribadi atau apa yang dipercayakan kepada pemimpin.

Sikap kehati-hatian dalam bekerja dan memimpin komunitas itu penting untuk menjaga irama harmoni di dalam biara. (Ilustrasi/Dok. Biara Rubiah Karmel Flos Carmeli Batu)
  • Kelembutan hati

Pemimpin harus berhati tenteram, tenang, sabar, agar segala tingkah lakukan diwarnai dengan kelembutan hati. Jika memerintah baiklah dengan kata permohonan. Pemimpin yang lembut hati akan menguatkan bagi anggota yang sedang kacau. Lembut dalam kata, sikap, dan perbuatan. “Suatu kata yang bernada keras, menimbulkan kemarahan.” (Mzm 15, 1).

St. Yohana Fransiska pernah menulis, “Cara yang terbaik untuk memeimpin dengan hasil baik ialah dengan lembut dan rendah hati serta dengan kesabaran.” Hendaklah lemah lembut terhadap diri sendiri, optimis, selalu riang gembira.

  • Keteguhan

St. Vincentius a Paulo mengatakan, “Tak ada yang lebih merugikan suatu komunitas daripada seorang pemimpin yang terlalu lemah, yang suka menyenangkan orang lain dan mencari-cari cinta para anggota komunitas itu.”

Seorang pemimpin sebagai wakil Yesus Kristus harus dijiwai kebaikan dan keteguhan hat. Ketakutan dan kegelisahan tidak patut terdapat dalam orang yang sungguh beriman. Pemimpin hendaknya melengkapi diri dengan perisai iman. Janganlah mundur sedikit pun jika bertekad memertahankan kehormatan Allau atau keselamatan jiwa-jiwa.

  • Kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan

Rasul Paulus menulis kepada Timotius, “Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian, engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.

Para pemimpin telah diangkat Allah untuk mengajar, membimbing, memeringatkan, dan menegur para anggota untuk menjadi orang yang hidup menurut keinginan Hati Yesus Yang Mahakudus. Mereka harus mempunyai kepintaran, kebijaksanaan, dan pengetahuan, pengalaman, berwawasan luas, bisa mengikuti perkembangan zaman.

  • Giat dan tabah

Pemimpin tidak pernah takut akan kesukaran, pekerjaan berat atau pengurbanan. Pemimpin harus giat, bersemangat dalam bekerja dan memelihara Konstitusi serta segala aturan yang sudah disepakati bersama, baik dalam hidupnya sendiri maupun dalam hidup para anggota. Pedomannya ialah Kehendak Allah yang suci dan keselamatan jiwa-jiwa.

Pemimpin siap menjadi tempat sampah anggota. Kepada dialah setiap orang datang dan setiap orang berhak dihibur, ditolong, diperkuat, dan diajar. Pemimpin tidak boleh gelisah, risau, tidak percaya diri dalam menghadapi masalah. Ia tabah dalam menghadapi segala masalah dan tantangan.

  • Kepercayaan

Seorang pemimpin harus menaruh kepercayaan yang mantap kepada Tuhan, betapa pun sulitnya perkara-perkara yang harus dihadapinya. Hendaknya Ia mempuyai keyakinan teguh bahwa ia selalu akan mendapat pertolongan dari Tuhan, tak ada sesuatu pun yang tak mungkin bagi Tuhan.

  • Percaya kepada kedewasaan anggotanya

Ia berani memberikan kepercayaan, yaitu ruang gerak dan kebebasan anggota, sehingga dapat berkembang menurut citra Allah ia memungkinakan setiap orang dapat berkembang sesuai dengan dirinya, panggilannya, dan perutusannya.

  • Hubungan anggota dan pimpinan

Hubungan yang baik antara anggota dan pimpinan komunitas antara lain: saling mencintai, saling menghormati, saling percaya, saling menaati, dan saling berdedikasi.

Tantangan komunitas religius

Dewasa ini tantangan itu adalah sebagai berikut:

  • Kesaksian kontemplatif

Komunitas religius pertama-tama adalah bersaksi tentang  upaya pencarian Allah yang terus-menerus dalam doa dan aksi (kontemplasi dalam aksi). Dengan demikian komunitas kita dapat menjadi semacam “oase” bagi orang-orang yang haus akan Allah.

  • Inkulturasi

Inkulturasi artinya meresapkan nilai-nilai Injil dalam kebudayaan lokal dan pada saat yang sama mengambil unsur-unsur yang baik yang terdapat dalam kebudayaan tersebut dan memperbarui unsur-unsur itu dari dalam.

  • Dialog

Dialog bertujuan untuk memperdalam relasi yang sudah ada dan menciptakan relasi yang belum ada atau menyambung relasi yang terputus. Dalam konteks masyarakat kita yang pluralistis, kebiasaan berdialog hendaknya dipromosikan dalam komunitas. Prasyarat terjadinya suatu dialog adalah kesamaan dan cinta yang mendalam antar semua pihak. Mustahil ada dialog dalam situasi dominasi.

  • Option for the Poor

Pilihan yang memihak mereka yang miskin, lemah, dan membutuhkan kesaksian komunitas dalam hal hidup sederhana, berlaku adil, berada di tengah-tengah orang miskin dan berbagi apa yang kita punya.

  • Kesetiaan kreatif

Kesetiaan kreatif pada karisma pendiri dalam konteks evangelisasi baru dan kerja sama dengan semua orang yang berkehendak baik. Kita perlu menemukan cara-cara baru untuk menularkan karisma kita kepada semua orang dengan “bahasa” yang dapat ditangkap oleh mereka.

  • Pembedaan Roh

Dalam hidup komunitas, dalam karya, inkulturasi kita selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan, maka dibutuhkan kemampuan membeda-bedakan roh, agar kita memeroleh pilihan yang tepat.

  • Pembinaan terus-menerus

Pembinaan ini merupakan syarat intrinsik pentakdisan religius. Tidak ada seorang religius pun yang dapat mengklaim dirinya telah sempurna. Pembinaan meliputi: pembinaan kepribadian dan kerohanian, misalnya dalam pengenalan diri, kecakapan berkomunikasi, sosial budaya, pendalaman spiritualitas dan karisma pendiri.

Rabu, 19 – 20 Oktober 2016

Dalam olah raga pagi ini saya tidak mengikuti yoga, karena saya ingin sesekali ikut bermain bulutangkis. Ternyata masih baru bermain sebentar tubuh saya sudah basah kuyup berkeringat. Saya hanya bermain sebentar karena ada beberapa teman yang juga ingin bermain bulutangkis. Setelah itu saya bersepeda sebentar, terasa sejuk sekali di tubuh bersepeda di pagi hari. Sudah sekian puluh tahun saya tidak pernah lagi bersepeda. Mulanya terasa kaku memegang stang sepeda, tetapi cuma sebentar, setelah itu saya bisa santai bersepeda. Setelah beberapa putaran, saya berhenti bersepeda. Selain saya ada beberapa Romo yang juga bersepeda di pagi hari ini.

Sore ini kami diminta untuk mementaskan drama singkat dalam hidup berkomunitas. Kelompok saya mementaskan drama dengan judul Biaraku Malang, Biaraku Sayang. Intinya bercerita tentang sesama suster yang menggosipkan teman sekomunitasnya dengan seorang Romo yang menjadi rekan kerja pastoral suster tersebut. Saya diminta untuk memerankan sebagai Piko (pimpinan komunitas). Kelompok kami mendapat beberapa pujian dari teman-teman karena cerita yang kami angkat memang sering terjadi dalam komunitas-komunitas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here