Ahok Kalah, Dikatakan Tuhan Punya Maksud: Ini Cara Pikir Aneh

4
4,082 views
Ahok kalah dalam Pilkada DKI putatan kedua 19 April 2019, (Courtesy of Tribun)

SEBELUM Pilkada, sementara orang mengeluh, Allah kok dilibatkan dalam Pilkada. Nggak ada urusannya. Namun setelah Pilkada dan melihat hasilnya yang tidak sesuai harapannya pihak yang kurang lebih sama, menulis: Tuhan pasti punya maksud. Dia punya rencana atas orang itu, dsb.

Kok sama juga ya …

Dalam teologi Katolik, hal itu disebut lari terlalu cepat atau lompat terlalu tinggi pada Tuhan. Seakan semuanya ini juga urusan Dia. Lalu, di mana  peran manusia?

Allah bukannya tidak bisa dan tidak mau bertindak menjadikan dunia ini baik. Namun Dia hendak pula melibatkan kita, karena itulah inkarnasi menjadi berarti. Lalu,  bagaimana kalau kita sendiri tidak sungguh mau mengupayakan yang baik, benar, dan indah. Dia menghendaki sesuatu demi keselamatan dan kesejahteraan umum, namun kita manusia, hanya menjadikannya sekedar omongan, atau tulisan status di media sosial, tanpa sungguh menyebarkan dan mewujudkannya?

Mewartakan kabar buruk dan memberitakan ancaman ketakutan jauh lebih mudah, karenanya hal itu bisa lebih merasuki hati orang dengan lebih cepat dan efektif. Sebaliknya, mewartakan dan menyatakan kabar baik itu sulit, sebab lebih menuntut dan perlu kerja keras.

Ah, jangan-jangan, di sinilah soalnya ‘lebih’: kerja keras untuk mengupayakan kebaikan, keindahan dan kebenaran, sesuatu yang sungguh menuntut dari diri sendiri, itu kurang sungguh diupayakan; kobaran semangat kurang sungguh membakar.

Hasilnya, kabar buruk akan lebih bergema, sebab kabar buruk adalah santapan empuk.

Tuhan bekerja, Allah menggerakkan, namun kita kurang mau bekerja dan digerakkan. Hasilnya pasti lalu tidak maksimal, dan setelah melihat hasilnya mengecewakan lalu cepat-cepat dilemparkan permasalahanannya kepada Dia. Wow, enak bener.

Kita hidup di antara gandum dan ilalang; diam begitu saja, tidak sungguh berupaya, bisa hanya menjadikan ilalang semakin tinggi dan subur, lalu gandum terjepit dan tumbuh kurus. Tanpa ada perjuangan, hidup sekedar gagasan dan keinginan belaka.

Entah ada Pilkada atau tidak, entah   siapa pun juga yang jadi calonnya, apakah kita sudah sungguh menyebarkan dan mewujudkan kabar baik? Apakah kabar gembira itu sungguh kita gulati agar terlaksana? Apakah sebagai garam kita asin, sebagai terang kita bersina?

Kalau semua ini belum sungguh ada dan nyata, janganlah lalu menyebutnya: itu kehendak Tuhan.

Oleh karena itu: pergilah, nyatakan kabar baik.

4 COMMENTS

  1. Memang benar bahwa kita tidak boleh cepat menspiritualisasi segala sesuatu. Akan tetapi, konteks Ahok agak sedikit berbeda. Bedanya adalah dengan mengatakan bahwa “Tuhan punya maksud” dampak kata katanya itu berakibat pada damai di Jakarta karena Tuhan telah keceplos “cemplung” dalam kultur politik Indonesia, Jakarta khusunya. Bukankah segala sesuatu yang baik berasal dari Tuhan?

  2. Ini bukan cara berpikir aneh tp pertanda penyerahan terhadap penyelanggaraan Allah. Pepatah mengatakan “manusia berusaha, Tuhan menentukan” (man proposes, God disposes). Sebagai org percaya dia meyakini hal itu. Seperti halnya kata Maria kpd Malaekat Gabriel “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu” (fiat voluntas Tua).

  3. Kami yg terlalu cepat atau Romo Penulis yg telat. Soalnya kita sama-sama mencermati dan merefleksikan ttg hal yg sama yakni: Ahok yg berjuang dan pada akhirnya kalah. Sebab saya sudah refleksikan bahwa memang adalah sebaiknya Ahok kalah dalam Pilkada DKI Jakarta. Kalau sempat dia menang, kita tidak akan pernah tahu berapa puluh gelombang “aksi atau demo” lagi terjadi. Menurut saya, disinilah letak kehebatan Tuhan, tahu apa yg terbaik bagi banyak orang: baik yg pro Ahok maupun yg kontra Ahok. Bagi yg pro seperti saya jelas kecewa, marah, dongkol, dll tapi tidak larut. Sebab saya yakin Tuhan tahu apa yg terbaik bagi “orang-orang benar” di hadapan-Nya. Sekian.

    • Pak Eduardus B. Sihaloho yang terkasih, bapak bukannya terlalu cepat demikian juga romo, bukan penulis yang telat. Menurut pemahaman saya atas tulisan tsb adalah kalau kita mempunyai cita-cita/tujuan untuk kebaikan umat/orang banyak, agar memperoleh hasil yang diharapkan, kita perlu berusaha/bekerja keras. Andai itu sudah dilakukan, maka hasil apapun adalah yang menjadi kehendak Allah.
      “Tuhan bekerja, Allah menggerakkan, namun kita kurang mau bekerja dan digerakkan”
      Tetapi jika atas cita-cita mulia, kita belum berupaya apapun, maka tidaklah benar kalau kemudian ditimpakan sebagai kehendak Allah.
      Saya orang luar Jakarta, termasuk yang sedih dengan kekalahan Pak Ahok, meski p Ahok dan Timnya telah berusaha maksimal, menjalani dan mengalami serangan lawan-lawannya. Inilah yang baru dibenarkan “jika memang Tuhan berkehendak lain”.
      Menurut saya cuma judul yang Romo tulis yang saya keberatan. Kurang berempati terhadap mereka yang telah berusaha tetapi gagal. Tetapi bagi saya(sendiri) sangat paham, karena ini bahan perenungan. Maaf, atas ulasan saya ini jika kurang berkenan. saya menyadari rendahnya penegtahuan saya. Salam damai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here