Baptisan di Malam Paskah: 17 Warga Baru Paroki Wedi, 12 Lainnya di Paroki Administrasi Bayat

0
137 views
Romo Emmanuel Supranowo melakukan pembabtisan bayi pada Misa Malam Paskah di Gereja Wedi.

PERAYAAN Ekaristi malam Paskah yang digelar di Gereja Santa Perawan Maria Bunda Kristus Wedi, Kabupaten Klaten, Sabtu (15/4/2017) berlangsung sangat meriah. Misa malam Paskah ini digelar dua kali, yakni pada pukul 17.00 dan pukul 20.30 malam.

Umat yang hadir pada Misa malam Paskah ini membludak. Karena bangku di dalam Gereja Wedi sudah penuh, maka umat “terpaksa” duduk di luar. Dari sebagian umat yang hadir pada Misa malam Paskah ini adalah umat “perantauan” yang selama ini tinggal di Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, dan bahkan dari luar Pulau Jawa.

Perayaan Malam Paskah kedua di Gereja Paroki Wedi.

17 babtisan baru

Misa malam Paskah ini menjadi peristiwa penuh sukacita bagi umat Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi. Mengapa? Karena pada Misa malam Paskah yang kedua itu, sebanyak 17 orang menerima Sakramen Baptis dari Pastor Paroki Wedi Rama Emanuel Maria Supranowo, Pr. Artinya, pada tahun 2017 ini, Paroki Wedi mendapat tambahan 17 warga baru.

Dalam homili, Rama Supranowo menyampaikan, pada malam Paskah ini, umat menyaksikan saudara-saudarinya yang akan dibaptis. Mereka akan dibaptis dengan air yang telah diberkati. Air yang telah diberkati itu diwadahi dengan bejana dari tanah liat dari daerah Bayat. “Bayat berarti, (Anda) dibaptis sampai akhir hayat. Mula, aja wedi (Maka, Anda jangan takut),” kata rama.

Baptisan baru di Gereja Paroki Wedi pada Misa Malam Paskah 2017.

Rama asal Paroki Banteng, Yogyakarta ini pun berpesan kepada mereka yang akan dibaptis. Anda jangan membayangkan bahwa menjadi orang Katolik itu akan selalu penak (enak). Tidak. Ketika Anda “ditambahi” dengan nama baptis (dibaptis), Anda harus siap untuk tidak naik pangkat. Anda hanya akan mempunyai satu pasangan hidup. “Kalau Anda tidak siap, lebih baik Anda mundur sebelum Anda dibaptis,” ujar rama.

Bejana tanah liat

Bagi rama berambut gondrong ini, bejana tanah liat memiliki banyak arti. Kita mempunyai kerapuhan, mudah goyah, sering tidak jujur, mudah iri hati, sering mblejani (ingkar janji) karena lidah kita memang tidak bertulang, kerap mogel (tidak bisa dipegang kata-katanya), dan sebagainya. “Maka, segala kerapuhan ini harus kita kembalikan kepada Tuhan, agar kita senantiasa dikuatkan,” ucap rama.

Misa Malam Paskah di Gereja Maria Bunda Kristus Paroki Wedi, Klaten.

Sedang Tim Pelayanan Sakramen Inisiasi sub tim Baptis Dewasa Paroki Wedi, T Tri Setyono menjelaskan, mereka yang dibaptis ini sudah mempersiapkan diri mengikuti pelajaran agama Katolik selama sekitar satu tahun. Mereka juga sudah mengikuti “baptisan” tahap pertama dan kedua.

“Karena sudah dinilai layak dan memenuhi berbagai persyaratan, maka mereka lalu dibaptis pada malam Paskah ini,” jelasnya.

Misa malam Paskah kedua ini berlangsung meriah. Koor dari Lingkungan Santo Bernardus Kalitengah. Sedang tata laksana dari Lingkungan Santo Yusup Pencar. Misa berlangsung meriah namun tetap khidmat.

Sedangkan di Paroki Administrasi Santa Maria Ratu Bayat, Kabupaten Klaten, sebanyak 12 orang menerima Sakramen Baptis dari Pastor Kepala Paroki Wedi Rama Andrianus Maradiyo, Pr pada misa Malam Paskah itu.

Semangat tinggi para anggota koor mengiringi prosesi misa malam paskah di Gereja Paroki Wedi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here