Buku Baru “Senja Bersama Hatta”, Berteologi Sosial melalui Cerpen dan Narasi

0
104 views
Buku"Senja Bersama Hatta", Kumpulan Cerpen Fiksional Historis

KUMPULAN Cerpen dan Narasi Fiksional Historis  yang diterbitkan dalam buku kecil dan sederhana bertitel Senja Bersama Hatta ini sebenarnya merupakan media bagi penulis untuk menuangkan percikan-percikan gagasan, sikap, pilihan dan posisi pemikiran teologi sosial penulis sendiri.  Percikan pemikiran teologi sosial dalam rupa cerita pendek dan narasi fiksional historis yang terbentang dari tahun 1999 sampai dengan 2017 ini merupakan keprihatinan dan komitmen penulis terhadap nilai-nilai kemanusiaan, perdamaian, dan keadilan.

Memang tulisan-tulisan dalam buku kecil ini tidak diurutkan menurut usianya melainkan diurutkan secara acak saja.

Yang tua dan muda

Jika ditelusur dari umur kapan tulisan itu diproduksi, maka  tulisan paling tua adalah cerita pendek berjudul “Tuhan Agamamu Apa?”. Cerpen ini dimaksudkan sebagai upaya membongkar ketertutupan dan kemapanan cara beragama sebagian masyarakat, atau cara sebagian masyarakat memikirkan agama, yang cenderung mendaku bahwa kebenaran tunggal hanya ada di dalam keyakinan yang dimilikinya.

Sementara, tulisan paling muda adalah narasi fiksional berjudul “Suatu Senja di Cleveland”, yakni sebuah narasi fiksional reflektif tentang praksis tradisi pendidikan yang dianalisis dengan menggunakan prinsip-prinsip Appreciative Inquiry.

 Apa maksudnya?

Yang dimaksud dengan Narasi Fiksional Historis dalam buku kecil ini adalah sebuah kisah ciptaan yang diproduksi dengan memanfaatkan informasi dan data yang real dan historis yang diperoleh dari beragam sumber. Narasi Fiksional Historis merupakan media yang dipilih untuk menyampaikan percikan gagasaan dan pemikiran penulis agar cara penyampaian itu menjadi lebih menarik, melibatkan pengalaman emosional, menghidupkan imajinasi, dan diharapkan menjadi cara yang efektif untuk memfasilitasi pembaca terlibat di dalam pengalaman.

Penuangan gagasan dan percikan pemikiran teologi sosial dalam bentuk cerita pendek dan narasi fiksional historis ini sangat dilatarbelakangi oleh metode studi teologi yang dijalani oleh penulis sendiri, yakni sebuah metode teologi kontekstual yang berprinsip “berteologi melalui pengalaman nyata.”

Dalam metode teologi semacam itu, orang yang menjalankan teologi atau orang yang berteologi, harus benar-benar masuk dalam pengalaman, secara nyata “mengalami sendiri” situasi konkret yang dihadapi itu, mencermati seluruh kompleksitas persoalan yang ditemukan, menyusun peta dan analisis sosial, serta menjalankan refleksi teologis, dan akhirnya menyediakan alternatif tesis atau prinsip teologis dari pengalaman nyata itu untuk mendorong pilihan tindakan konkret. Cara berteologi semacam ini merupakan sebuah jalan teologi yang terlibat dan mau tidak mau, berpihak juga.

Metode berteologi dari pengalaman pada gilirannya akan melahirkan jalan teologi keterlibatan.

Media berteologi

Cerita pendek dan narasi fiksional historis, merupakan media yang menarik untuk dipilih sebagai media berteologi. Cerita dan narasi menyediakan ruang keterlibatan imajinatif yang dapat membantu melahirkan pertanyaan menghadapi situasi konkret, menantang setiap pribadi untuk memberikan jawaban dan sikap yang mandiri dan bertanggung jawab, mendorong setiap orang untuk bergumul secara serius dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai hidup yang mendasar yakni kemanusiaan, perdamaian, keadilan, kejujuran, hormat terhadap seluruh ciptaan, dan menjagai prinsip dan nilai tersebut dalam sebuah konsistensi yang bermartabat.

Barangkali bolehlah dikatakan bahwa bagi penulis, menulis cerita pendek dan  narasi fiksional historis adalah sebuah cara alternatif untuk berteologi, terutama menjalankan teologi sosial kontekstual. Teologi sosial kontekstual menjadi prioritas pilihan karena merupakan jalan teologi yang dinamis, yang menantang, mengevaluasi dan mendorong teologi yang bersifat dogmatis, untuk selalu merumuskan kembali dirinya dan senantiasa terbuka kepada kehidupan yang jauh lebih luas daripada dogma-dogma itu sendiri.

Mengapa demikian?

Karena di dalam kehidupan yang dinamis itulah Tuhan bekerja. Maka pantaslah dikatakan bila Tuhan adalah Pekerja. Jika Tuhan adalah Pekerja, maka sepantasnya manusia tidak berdiam diri, melainkan terus bekerja dan berteologi.

Semoga cerita-cerita pendek sederhana dan narasi-narasi fiksional historis yang disajikan dalam buku kecil ini dapat menjadi teman dialog bagi para pembaca dan melahirkan gagasan serta pilihan tindakan produktif di tengah kenyataan kehidupan yang semakin tak memungkinkan untuk bersikap netral.

Selamat membaca.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here