Jambore Sekami Remaja di Palembang untuk Memotivasi Anak-anak Jadi ‘Misionaris’ (1)

0
342 views
Jambore Sekami Remaja di Palembang. (Ist)

SEKITAR 900 remaja Katolik memenuhi Xaverius Centrum Studiorum milik Yayasan Xaverius Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (6/6) lalu. Mereka datang untuk menghadiri kegiatan Jambore Serikat Anak Misioner Remaja. Kegiatan ini berlangsung hingga Minggu (9/6).

Uskup Agung Palembang, Mgr. Aloysius Sudarso SCJ, membuka kegiatan ini dalam Perayaan Ekaristi

Para peserta Jambore Sekami Remaja datang dari dari 26 paroki, satu kuasi paroki dan dua unit pastoral yang tersebar di Provinsi Sumatera Selatan, Jambi dan Bengkulu.

Menjadi peserta Jambore Sekami di Palembang. (Ist)

Berbagi sukacita Injil

Tema yang diangkat dalam Jambore ini adalah “Remaja Misioner Berbagi Sukacita Injil hingga ke Jagat Online”.

Tema ini mau menampilkan spiritulaitas misioner dari anak-anak remaja masa kini. ‘Remaja misioner’ merujuk pada makna identitas anak-anak Sekami sebagai misionaris cilik.

‘Berbagi’ mengambil sari semangat doa, derma, kurban dan kesaksikan (2D2K) dan moto Sekami: anak membantu anak (children helping children). ‘Sukacita Injil’ merupakan seruan Apostolik Paus Fransiskus, yaitu Sukacita Injil memenuhi hati dan hidup semua orang yang menjumpai Yesus.

Sementara itu, ‘Hingga ke jagat online’ mau menegaskan bahwa konteks dan realitas kehidupan anak-anak zaman sekarang bukan hanya berkutat di dunia nyata sehari-hari. Mereka juga aktif di dunia online, khususnya media sosial.

Segenap anggota kontingen dari paroki-paroki. (Ist)

Ada tiga tujuan yang ingin dicapai dalam jambore kali ini.

  • Pertama, mengokohkan gerak persekutuan dan kebersamaan di antara anak-anak remaja Katolik di wilayah Keuskupan Agung Palembang.
  • Kedua, meningkatkan wawasan dan keteguhan iman remaja yang diolah melalui katekese, yaitu katolisitas, semangat misioner dan spiritualitas Sekami, yaitu semangat doa, derma, korban dan kesaksian serta moto ‘children helping children’.
  • Ketiga, mendekatkan anak-anak dengan hakikat Gereja yang bersifat misioner dengan terang semangat seruan Apostolik Paus Fransiskus Evangelii Gaudium dan Ensilik Laudato Si.

Selama Jambore ini ada tiga hal yang dilaksanakan.

  • Pertama, selebrasi: kegiatan ini dilaksanakan dalam perayaan seperti opening ceremony dengan mengangkat tema ke-Indonesiaan, yaitu ‘Berbeda Itu Kita’. Lalu ada perayaan Anak Misioner dalam Ekaristi pembuka; pentas seni yang diikuti oleh masing-masing dekanat atu distrik serta Ekaristi harian, ibadat dan doa-doa dalam keluarga atau perkampungan.
  • Kedua, formasi yang merupakan proses edukasi atau katekese untuk peserta Jambore. Katekese bisa dilakukan dalam kelompok massal maupun kelompok kecil. Dalam katekese ini diberikan makna berbagi dan sukacita Injil ala anak Sekami; arti menjadi saksi ‘sukacita Injil’ di dunia online dan praktik berbagi sukacita di dalam dan bersama alam ciptaan (lingkungan hidup). Hal terakhir ini sesuai dengan yang diajarkan oleh Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si.
  • Ketiga, Animasi Misioner di mana gerak animasi misioner berjalan simultan dengan proses formasi atau katekese. Artinya, sementara proses katekese berlangsung bisa juga dipakai beberapa jenis dinamika kelompok atau lagu-lagu Sekami sebagai wujud animasi misioner.

Dinamika tersebut disesuaikan dengan situasi masing-masing. Di dalamnya terjadi proses pengayaan dan peneguhan wawasan iman, pengembangan diri, corak hidup panggilan sebagai religius atau biarawan-biarawati, sharing dan diskusi serta permainan atau outbound. Hal yang mau ditekankan dalam gerak animasi adalah aspek psiko-sosial anak yang dalam era kekinian mulai luntur oleh pengaruh penggunaan digital devices. Aspek lainnya adalah menyadarkan anak-anak terhadap aneka sisi kehidupan selalu bersifat misioner.

Uskup Agung Keuskupan Palembang Mgr. Aloysius Sudarso SCJ memberi motivasi kepada para peserta Jambore Sekami. (Ist)

 Tugas Perutusan

Dalam kotbahnya pada Perayaan Ekaristi Pembuka, Mgr. Aloysius Sudarso SCJ, Uskup Agung Palembang, mengingatkan pentingnya kaum remaja menyadari kehadiran para misionaris. Karena itu, Mgr. Sudarso mengawali kotbahnya dengan bertanya tentang kehadiran kaum remaja dari Tanjungsakti, Sumatera Selatan.

Setelah dijawab, ada, Mgr. Sudarso mengatakan bahwa para misionaris dari Belanda datang ke Keuskupan Agung Palembang melalui Tanjungsakti.

“Tanjung sakti adalah tempat pertama misionaris datang. Mereka mendirikan misi di sana. Anda patut menyadari bahwa para misionaris datang ke tempat ini melalui Tanjungsakti. Selamat datang kapada anak-anak yang mewakili teman-teman remaja dari paroki dan stasi yang ada di keuskupan kita,” kata Mgr. Sudarso yang disambut tepuk tangan.

Bagi Mgr Sudarso, anak-anak remaja sangat istimewa dihadapan Allah. Mengapa? Karena mereka memiliki iman yang satu dan sama, yakni iman akan Yesus Kristus. Yesus membuat para rasul menjadi misionaris yang mewartakan Injil dan pengampun.

“Betapa besar belas kasih Tuhan, betapa besar kasih Allah pada kita semua. Para murid telah mengimani Yesus yang telah bangkit dan tinggal di tengah-tengah kita. Karena itu, kalian adalah para misioner yang dipanggil untuk meneruskan misi para misionaris yang dulu. Kalian menjadi misionaris masa kini. Kalian adalah biji mata, buah hati dari Tuhan yg diharapkan menjadi misionaris,” ajak Mgr Sudarso SCJ.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here