Menemani Pak SBY dan Keluarga Kunjungi Vatikan

0
2,167 views
Kunjungan keluarga mantan Presiden RI Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Vatikan diantar dan ditemani Bapak Dubes RI untuk Tahta Suci Vatikan HE Agus Sriyono (kedua dari kiri) bersama isteri dan Romo Markus Solo Kewuta SVD (kedua dari kanan). (Ist)

Hari Minggu malam tanggal 16 Juli 2017, Redaksi menerima kiriman informasi di jalur japri dari Romo Markus Solo Kewuta SVD. Pastor anggota Kongregasi Serikat Sabda Allah (SVD) ini berasal dari Flores, NTT, namun kini menjadi anggota SVD Provinsi Austria.

Romo Markus Solo SVD adalah Sekretaris Pribadi Kardinal Jean-Louis Tauran, Kepala  Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama. Lembaga ini merupakan departemen penting di jajaran organisasi internal Vatikan yang giat mengadakan dialog dengan para pemuka agama lintas iman di seluruh dunia.

Berikut ini kami paparkan informasi tersebut disertai editing seperlunya.

——————

TADI malam (Sabtu pagi WIB—red.),  Dubes RI untuk Tahta Suci Vatikan Bapak Agus Sriyono menelpon saya dan meminta untuk bersama-sama menerima mantan Presiden RI:  Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)  bersama Ibu Ani Yudhoyono, kedua puteranya (Agus Harimurti Yudhoyono dan Baskara “Ibas” Yudhoyono) berikut keluarga serta rombongan mereka sebanyak 27 orang.

Mereka sudah tiba di Roma dan ingin berkunjung ke Vatikan. Pak Dubes Agus Sriyono sekaligus juga minta saya agar bisa menjadi pemandu untuk Pak SBY dan rombongannya.

Saya pun langsung menyanggupinya. Segera semua prosedur permohonan tulisan dibuat berserta lobi lisan di Vatikan sehingga dalam waktu relatif singkat semua beres.

Tadi sore, menjelang pukul 16.00 waktu di Roma,  Pak SBY dan Ibu Ani Yudhoyono serta rombongan dan dengan menggunakan empat  mobil minivan hitam datang berkonvoi menuju Vatikan. Pak Dubes Agus Sriyono bersama isteri dan Pak Wandry dari Departemen Komsos KBRI  bersama saya menerima rombongan di pintu masuk. Lalu,  kami bersama-sama beriringan memasuki Vatikan hingga ke Porta della Preghiera, pintu khusus Basilika Santo Petrus yang berpapasan dengan rumah tempat tinggal Paus: Domus Santa Marta.

Antusias melihat Vatikan dari dekat

Kami turun dan saling bersalaman. Mereka semua sangat berantusias, terutama Pak SBY, Ibu Ani Yudhoyono dan kedua putera mereka, Mas Agus Harimurti Yudhoyono dan Mas Baskara “Ibas” bersama keluarga.

Saya memulai acara panduan wisata ini dengan memperkenalkan diri –dibantu oleh Pak Dubes– kalau saya ini juga orang asli Indonesia dan bertugas di Vatikan sejak 10 tahun di Dewan Kepausan — seperti  Kementerian Dialog Lintas Agama.  “Saya ini kelahiran Flores, NTT,” begitu saya memperkenalkan diri.

Serta merta,  Pak SBY dan Ibu Ani lalu menyela, kalau mereka berdua pernah ke Manggarai dan Labuan Bajo.

Saya ucapkan terima kasih dan menambahi kalau saya ini berasal dari ujung timur Flores, tepatnya Larantuka.

Mengagumi Basilika St. Petrus

Masuk ke dalam basilika, Pak SBY dan Ibu Ani bersama rombongan berkali-kali mengungkapkan kekaguman mereka  yang luar biasa. Ibu Ani, sementara mendengar semua penjelasan saya, sangat gesit memotret. Pak SBY selalu berjalan di samping saya; kadang memegang tangan saya kalau mau mengungkapkan sesuatu.

Bapak SBY mendengarkan dengan penuh perhatian keterangan Romo Markus Solo Kewuta SVD (kanan) dan Bapak Dubes RI untuk Tahta Suci Vatikan HE Agus Sriyono (kiri) ikut menyimak.

Saya menjelaskan kepada mereka, apa itu Vatikan dan segala yang penting di dalam basilika. Kami bersyukur boleh masuk ke dalam wilayah terpagar. Itu karena kepala sekuriti basilika, sahabat dekat saya, sudah berkoordinasi dengan semua pegawainya untuk membuka semua blokiran.

Kami bergerak ke kuburan Santo Petrus dan wilayah Confessione, altar utama.

Saya menjelaskan tentang kuburan Santo Petrus di bawah altar itu, tentang peranan Santo Petrus, Baldchin Bernini, cupola (kubah di atas) garapan Michelangelo, lalu ke tempat pengkuan dosa di Navata kanan.

Mereka sangat kagum, ketika saya bercerita bahwa kadang-kadang Paus juga datang mengaku dosa di sini.

Ibu Ani bertanya, kalau di situ ada juga pelayanan pengakuan dosa dalam bahasa Indonesia.

Saya tersenyum dan mengatakan: Belum ada secara resmi, tetapi kadang-kadang ada. Dan kalau dibutuhkan, saya juga bersedia. Pak SBY ketawa dan menepuk bahu saya.

Konsili Vatikan II

Kami berputar bersama segenap rombongan ke makam Paus Pembaharu, Paus dell’Aggiornamento, Paus Johannes XXII, Paus penggagas Konsili Vatikan II.

Saya menjelaskan apa itu konsili, apa itu reliqui, apa itu pembaharuan dalam Gereja Katolik. Termasuk tentang keterbukaan Gereja Katolik terhadap umat beragama lain, memajukan saling menghormati dan saling memahami dalam perbedaan demi perdamaian dan keharmonisan.

Tamu istimewa dari Indonesia di dalam gedung Basilika St. Petrus di Vatikan: Keluarga mantan Presiden RI Bapak Susilo Bambang Yudhoyono bersama Ibu Ani Yudhoyono dan Ny. Agus Sriyono.

Kami berjalan lagi menuju Kapela Sanctissimo Sacramento, kapela tempat Pentahtaan Sakramen Maha Kudus. Saya menjelaskan betapa pentingnya kapela itu tempat orang berdoa dan mencari keheningan. Bahwa dari sekian ratus ribu orang yang masuk per hari ke Basilika Kepausan in, ada banyak juga di antara mereka yang mencari sudut hening.

Itu karena gereja adalah tempat berdoa.

Kami masuk bersama-sama ke Kapela Sebastiano tempat dimakamkan Paus Johannes Paulus II. Oleh karena pihak sekuriti selalu membuka jalan dan meminggirkan para turis dan peziarah lain, kami dengan mudah bisa berkumpul di depan Makam Paus Johannes Paulus II, paus yang sangat simpatik dan dicintai seluruh dunia.

Pak SBY dan Ibu Ani juga ingat dengan sangat tentang siapa Paus Johannes Paulus II dari Polandia ini.

Pieta karya Michelangelo

Dari sana kami beralih ke pieta, salah satu masterpiece seniman besar Michelangelo.

Pak SBY dan Ibu bersama rombongan sangat terkesan dengan nilai-nilai universal dari pahatan yang khas kistiani itu, karena patung itu dengan sangat jelas menampilkan Bunda Maria  sedang memangku jasad Yesus yang sudah meninggal.

Di situ Bu Ani bertanya kepada saya: “Romo, Yesus meninggal pada umur berapa?”

Begitu saya mau jawab, putera beliau, Pak Agus, mantan calon Gubernur Jakarta, langsung menjawab dengan benar:  “33 tahun.”

Wah, saya langsung mengucapkan selamat kepada Pak Agus.

Semua senyum dan ketawa.

Di depan pieta, tiba-tiba sekelompok Suster Indonesia dari NTT terkejut melihat Pak SBY. Mereka sangat gembira berjabatan tangan dan sekalian foto bersama Pak SBY dan Ibu.

Pak SBY berpesan kepada mereka untuk tetap semangat, sehat selalu dan berkarya demi kebahagiaan banyak orang.

Cerobong asap konklav

Dari sana kami ke ruang tengah basilika, mengambil beberapa foto bersama. Saat itu,  pihak sekuriti Vatikan datang menyampaikan kepada saya, kalau mereka juga sudah berkoordinasi dengan sekuriti Lapangan Santo Petrus. Mereka menginformasikan  bahwa semuanya telah siaga menjaga kalau kami nanti keluar menuju Lapangan Santo Petrus.

Ketika keluar, mobil polisi Vatikan terlihat sudah berjaga, beberapa lagi berkeliaran memantau di antara khalayak.

Kami keluar menuju Lapangan Santo Petrus. Di bawah patung Santo Petrus,  kami berdiri dan saya menjelaskan tentang Istana Kepausan Lapangan Santo Petrus dan balkon tempat penampakan Paus terpilih serta berkat Urbi et Orbi (Untuk Kota dan Dunia).

Romo Markus Solo Kewuta SVD bersama Mayor (Purn) Agus Harimurti Yudhoyono dan isterinya Anissa Pohan dengan latar belakang Vatikan.

Pak Dubes Agus Sriyono ingin memperlihatkan dari bagian mana asap keluar dari cerobong,  kalau pas ada konklav pemilihan Paus. Saya mengundang mereka ke Lapangan Santo Petrus supaya bisa melihat bumbungan Kapel Sistina tempat asap keluar. Di sana saya menjelaskan kepada mereka tentang apa konklav dan tentang obelisk yang menjulang di tengah Lapangan.

Cuaca panas. Kami tutup dengan foto-foto lalu bergerak menuju kendaraan-kendaraan yang sedang siap di depan Sant’Ufficio, samping Lapangan Santo Petrus.

Dalam perjalanan pulang, Pak Dubes Agus Sriyono dan saya mengucapkan terima kasih kepada Pak SBY dan Ibu Ani Yudhoyono yang sudah mengambil waktu untuk mampir ke Vatikan dan mengenal Vatikan dari dalam.

Pak SBY dan Ibu Ani Yudhoyono langsung menjawab: “Sebaliknya kamilah yang sangat berterima kasih sudah diterima dan diantar dengan begitu baik berikut dengan penjelasan yang sangat baik pula.”

Doa Pak SBY

Mereka tampak puas.

Di depan mobil-mobil, Pak SBY kembali memanggil saya: “Romo, banyak terima kasih,” katanya sembari  memegang tangan saya erat-erat.

Mengulangi apa yang sudah beliau katakan dua kali dalam perjalanan di dalam Basilika: “Romo, mari kita bekerjasama untuk kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan seluruh umat manusia.”

Hal itu beliau sudah singgung di dalam Basilika , ketika saya bercerita sepintas tentang Konvensi Diaspora di Jakarta baru-baru ini dimana salah satu temanya adalah toleransi, perdamaian dan kerukunan hidup di Indonesia.

Pak SBY dan Ibu berjalan menuju mobil. Tiba-tiba Pak Agus dan isteri datang mendekat meminta foto bersama. Setelah bertiga, Pak Agus ingin foto berdua saja. Dan setelah itu datanglah Pak Baskara “Ibas”  bersama isteri dan anak untuk melakukan potret bareng.

Ini sebuah pertemuan  sangat menggembirakan dan terjadi dalam iklim persahabatan dan persaudaraan yang luar biasa. Terasa begitu akrab sebagai putera-puteri sebangsa dan setanah air.

Di saat seperti ini di mana negara kita butuhkan banyak semangat persaudaraan, pertemanan dan pengampunan, kita membuka hati dan pikiran serta kedua tangan selebar-lebarnya untuk menerima dan merangkul semua yang berkehendak baik untuk bekerjasama memajukan dan mensejahterakan bangsa kita tercinta, rumah kita bersama:  NKRI yang ber-Bhinneka Tunggal Ika, kebanggaan dan brandmark kita.

Mari kita kesantunan dalam berkomentar. Salam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here