Memori Melawan Lupa: 25 Tahun Lalu, Sembilan Imam Diosesan KAS Terima Tahbisan Imamatnya

0
582 views
Uskup Agung KAS Mgr. Julius Darmaatmadja SJ menahbiskan sembilan imam diosesan baru KAS di Kapel St. Paulus Seminari Tinggi Kentungan, Yogyakarta, 12 Agustus 1992. Selama 25 tahun terakhir ini, satu imam telah mengundurkan diri dan delapan imam lainnya berhasil merayakan pesta perak tahbisan imamat mereka. (Dok. Seminari Tinggi).

Pengantar Redaksi

Tulisan ringan ini dikerjakan pada tahun 1992 oleh Romo Willem Pau Pr yang kini melakoni tugas khusus di Gereja St. Fransiskus Xaverius Paroki Kebon Dalem Semarang.

Naskah ini dibuat dalam konteks ‘menyambut’ pada calon imam diosesan baru KAS yang akan menerima tahbisan imamatnya pada tanggal 12 Agustus 1992 dari tangan Mgr. Julius Darmaatmadja, waktu itu Uskup Agung KAS.

Sedikit editing kami lakukan untuk penyempurnaan bahasa tulisan.

———————-

ADALAH Sang Penabur setia. Ia selalu menabur tak peduli kemana benih jatuh. Ia selalu menabur, menabur dan menabur.

Benih itu ada yang jatuh di Demangan, Sengkan, Bausasran, Baturetno. Ketika benih itu tumbuh, Sang Penabur memilih untuk disemai.

Kini, pada tanggal 12 Agustus 1992,  Sang Penabur itu akan  menuai melalui tangan suci  Mgr. Julius Darmaatmadja SJ, hamba setia sang penabur sendiri di kebun anggur-Nya, Keuskupan Agung Semarang.

Baca juga:   25 Tahun Tahbisan Imamat Mgr. Robertus Rubiyatmoko dan Tujuh Imam Diosesan KAS Lainnya

Mereka itu adalah:

  1. Romo ‘Ngabdul’ adalah panggilan keren kawan-kawannya. Robertus Rubiyatmoko adalah nama pemberian orang tua. Benih jatuh yang jatuh di Demangan, Sleman,  di ladang kasih Stanislaus Harjopartono dan Elisabeth Harjopartono. Orangnya tekun serius, energik dan njlimet. Naungan bintangnya membuatnya serius dan njlimet. Libra 10 Oktober 1963. Paroki Pakem menjadi ladang tugas barunya yang telah menanti sambil persiapan diri untuk belajar lagi di luar negeri.
  2. Fransiskus Xaverius Sukendar Wignyosumarta. Postur tubuhnya tak sepanjang namanya. Ia adalah anak nomor sembilan dari sepuluh bersaudara. Tumbuh di ladang kasih Antonius Wignyosumarta dan Anastasia Kasinah Wignyosumarta. Menulis menjadi  kegemarannya, othak athik not adalah kesenangan­nya. Mbekoor (menyanyi) juga menjadi hobinya. Seterang bintang Leo memancar. Itulah sinar matanya. Terlahir 8 Agustus 1964, di dusun Sengkan, Sleman.  Penyambutnya adalah Paroki Klaten yang akan menjadi ladang  tugas barunya.
  3. Kutilang teman menyebutnya. Tapi tak seperti burung kutilang yang suka menyanyi. Ia masih saja tetap  kurus, tinggi, dan langsing. Ia adalah anak  nomor sepuluhdari dua belas bersaudara. Tanggal 27 Desember 1963 dan Bausasran menjadi tempat kehadiran pertama. Dari kasih FX. S. Pangarsa Sucipto dan Engelina Umiyati, dialah Matheus Djoko Setya Prakosa menjadi identitas lengkapnya. Karena kesetiaannya, kembali ke Seminari Mertoyudan sebagai ladang karyanya.
  4. Sudah copot jubah.
  5. Norbertus Sukarno Siwi, namanya mengingatkan Presiden Pertama RI karena tanggal kelahirannya sama 6 Juni. Kalau Sukarno lahir pada tahun 1901, maka Sukarno Siwi lahir pada tahun 1964. Ia adalah anak sulung dari enam bersaudara. Baturetno Wonogiri udara pertama menyambutnya di tangan Antonius Yosef Suratman Budisusanto bersama Agnes Yatni Suwardi, ia alami kasih-Nya hingga Sukarno Siwi membalas cinta-Nya.  Paroki Wedi menjadi tempat yang diabdi.
  6. Tangis pertama pecah di gubug Sedayu,tanggal 3 April 1965. Serius dan pendiam, orang bilang angker. Nomor lima dari delapan bersaudara dari keluarga Petrus Darmasuwignya dan Theresia Tuyem Darmasuwignya. Siapa dia ? Kalau bukan Ignatius Suharyono. Sebentar lagi, ia akan bertugas di Baturetno.
  7. Antonius Suparyono. Lambang kemakmuran Seminari Tinggi Kentungan, orang gendut. Tekun bekerja, belajar dan berkebun. Anak nomor tiga dari delapan bersaudara dari pasangan Sudiyo dan Pariyem yang belum katolik. Tanggal 5 April 1957, engkau menangis pertama kali pengalaman sebagai penarik pajak di Dinas Pendapatan Daerah (Dipenda ) Jawa Tengah dan bertugas di Salatiga pun Wonosobo.  Paroki Pugeran akan menjadi ladang garapannya.
  8. Jadilah padaku menurut kehendak-Mu. Begitu ucapannya mantab, Agustinus Toto Supriyanto. Totok panggilan akrab temannya. 14 Maret 1964 ia datang ke dunia dari keluarga Aloysius Soeratiman Dwijowahyono dengan Ester Djuminem. Anak nomor dua dari tujuh bersaudara. Paroki Purbowardayan di Solo akan menjadi  ladang kegembalaannya.
  9. Sulung enam, bersaudara buah cinta Heribertus Soemadi dan Ny. Soemadi di kota bersih Temanggung, terdengar tangis yang pertamanya tanggal 5 Mei 1964. Dialah Bonifasius Beny Bambang Sumintarto, kulit dan hatinya sebersih kota kelahirannya. Paroki Kalasan menjadi ladang barunya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here