25 Tahun Tahbisan Imamat: Bersyukur, Minta Empat Hal, Berani Katakan ‘Cukup’

0
475 views
Uskup Agung KAS Mgr. Julius Darmaatmadja SJ menahbiskan sembilan imam diosesan baru KAS di Kapel St. Paulus Seminari Tinggi Kentungan, Yogyakarta, 12 Agustus 1992. Selama 25 tahun terakhir ini, satu imam telah mengundurkan diri dan delapan imam lainnya berhasil merayakan pesta perak tahbisan imamat mereka. (Dok. Seminari Tinggi).

PESTA  Perak 25 tahun bukanlah waktu yang singkat. Banyak hal suka duka telah menghiasinya. Begitu pula perziarahan imamat selama 25 tahun bagi delapan imam Allah ini.

Tanggal 12 Agustus 1992 lalu itu  menjadi saat istimewa.  Berkat penumpangan tangan Mgr. Julius Darmaatmadja SJ  yang menjabat Uskup Agung KAS waktu itu, maka delapan hamba Allah ini memperoleh anugerah imamat suci. Dan tahun ini, tanggal 12 Agustus, maka genap 25 tahun imamat suci ini dihidupi.

Ada banyak alasan bagi para imam yubilaris  ini untuk bersyukur dan memuji Tuhan.

Baca juga:

Mgr. Robertus Rubiyatmoko: Minta Empat Hal

Pesta 25 tahun imamat menjadi alasan bagi saya untuk bersyukur atas rahmat dan anugerah Tuhan kepada saya. Ing atase wong pokro, tidak punya apa-apa, namun dipercaya Tuhan untuk terlibat dalam karya penyelamatan-Nya.

Kami berdelapan, menyadari sejak awal, memiliki banyak cacat cela,  namun toh Tuhan menggunakan kami untuk terlibat dalam karya penggembalaan-Nya. Selama 25 tahun kami rasakan betul, bagaimana Allah mendampingi dan menguatkan kami dalam segala macam langkah.

Rahmat-Nya begitu berlimpah. Hanya dari pihak saya perlu harus memberi lebih banyak, supaya semakin banyak membantu orang.

Maka dalam doa, saya memohon empat hal.

  • Pertama, mohon kebijaksanaan supaya dapat menimbang perkara.
  • Selain itu, mohon rahmat kerendahan hati supaya tetap mengandalkan Allah yang berkarya.
  • Ketiga, semangat pelayanan yang tidak surut.
  • Keempat, dalam berbagai kondisi tetap mengalami sukacita dan kegembiraan.

Menemukan Tuhan dalam keheningan.

Ini penting bagi saya, supaya saya tidak menjadi orang yang aktif namun kurang kontemplatif. Meskipun ternyata hening itu tidak mudah. Namun jika dilatih berulang-ulang nantikan akan dimampukan oleh Tuhan sendiri.

Romo FX Sukendar Wignyosumarta Pr: Berani Bilang ‘Cukup’

Semua pengalaman hidup imamat bagi saya luar biasa. Sejak kecil, saya bercita-cita menjadi imam. Maka ketika saya menjadi imam, itu sungguh anugerah Tuhan dan didukung oleh keluarga dan orang-orang yang mengenal saya.

Maka bagi saya, imamat itu ya rasa syukur. Apa pun menjadi bersyukur, karena hidup saya menjadi bermakna dengan boleh menjadi imam dan boleh setia sampai 25 tahun.

Dalam setiap penempatan tugas, bagi saya itu adalah unik dan mengesan. Tahun madu imamat saya selama dua tahun terjadi di Paroki Klaten dan itu merupakan hal luar biasa. Didampingi oleh Romo Mardisuwignyo, beliau  selalu memberi semangat saya agar senantiasa menjadi imam yang sungguh-sungguh.

Ke depannya, saya tetap ingin menjadi imam yang sederhana dan setia. Bagi saya,  itu menjadi sesuatu yang luar biasa. Karena imamat ini anugerah Tuhan. Kesederhanaan ini dihayati dengan tidak neko-neko.

Fasilitas yang ada digunakan sebaik-baiknya dengan bertanggung jawab. Ketika ada orang yang menawari ini itu, harus berani berkata ‘cukup’ atau memberikannya kepada mereka atau komunitas yang membutuhkannya.

Romo Matheus Djoko Setya Prakosa Pr: Merayakan Tuhan yang Setia

Makna 25 tahun imamat adalah merayakan Tuhan yang setia dalam perjalanan imamat saya dan rekan-rekan saya. Bukan saya yang setia, melainkan Tuhanlah yang setia. Kesetiaan Tuhan itulah yang akan menjadi langkah-langkah imamat selanjutnya.

Sebagai seorang imam, ada banyak hal yang mengesan. Satu diantaranya, saat memimpin perayaan Ekaristi meninggalnya bapak saya. Saya bersyukur boleh menjadi imam dan boleh berdoa bagi bapak saya yang meninggal. Itulah momen yang tak terlupakan.

Tugas di seminari selama 26 tahun juga mengesankan, meski imamat saya baru 25 tahun. Ini adalah momen dan tugas yang tidak dimiliki orang lain. Setiap kali menyaksikan seorang frater yang ditahbiskan menjadi imam, itu menjadi semacam peneguhan buat imamat saya. Peneguhan lain adalah ketika ada rekan kerja bahkan rekan serumah dengan saya padahal dulunya itu murid saya.

Romo Ignatius Suharyono Pr: Asal Hadir, Umat pun Sukacita

Setelah menjalani 25 tahun imamat, saya semakin sadar bahwa imamat itu pelayanan atau sakramen untuk melayani. Identitas imam itu ialah ketika ia melayani. Juga saya semakin sadar bahwa imam itu  fokus pada  kegiatannya berpastoral atau penggembalaan. Lebih-lebih,  ketika tinggal di tengah-tengah paroki dengan umat paroki yang begitu beragam.

Imam itu bukanlah segala-galanya. Namun, asal saja imam itu hadir di tengah umat, umat itu sudah merasa senang dan merasa disapa dan ditemani.

Banyak hal yang mengesan bagi saya.

Jika saya membuka album kenangan, ternyata sudah banyak tempat penugasan yang saya jalani. Pengalaman pertama dan mengesan saat bertugas di Paroki Baturetno- Wonogiri. Itu karena di sana jumlah stasi dan kapelnya banyak sekali: ada sekitar 50-an stasi.

Begitu indah. Waktu itu,  saya masih muda dan tentunya bisa berjalan kemana-mana melakukan turne pastoral ke berbagai tempat: kampung-kampung, sungai.

Pernah bertugas di paroki kota, desa, pedalaman, atau seminari. Semua ada suka dukanya masing-masing.

Romo Nobertus Sukarno Siwi Pr: Pertolongan dan penyertaan Tuhan

Perayaan 25 tahun imamat itu menjadi perayaan syukur bahwa Allah selalu menolong saya.

Ini sesuai dengan motto bersama ‘Pertolonganku dari Tuhan’ (Mzm 121:2). Saya merasa dan mengalami bahwa selama 25 tahun itu Tuhan selalu menemani dan menolong saya. Juga menyertai dalam saya berkarya melayani umat, sejak saya ditahbiskan sampai hari ini.

Pertolongan dan penyertaan Tuhan itu saya terima melalui umat, melalui saudara, sabahat, teman yang berelasi dan berkomunikasi dengan saya. Maka, pesta perak 25 tahun ini bagi saya adalah syukur atas pertolongan dan penyertaan Tuhan.

Selama 25 tahun menjalani hidup sebagai imam, saya merasa diterima, dicintai, dikasihi oleh umat. Inilah yang membuat saya yakin dan semakin diteguhkan dalam kehidupan saya, bahwa pilihan hidup saya sebagai seorang imam itu adalah sesuatu yang betul. Dan ini saya yakini, memang  inilah jalan hidup saya yang ditunjukkan Tuhan yaitu hidup sebagai seorang imam.

Romo Antonius Suparyono Pr: Tak Pernah Habis

Perayaan 25 tahun imamat ini bagi saya adalah anugerah. Ini bukanlah sebuah prestasi atau sesuatu yang harus diagung-agungkan. Sebagai anugerah, 25 tahun imamat harus diterima dengan rendah hati.

Hal yang selalu mengesan adalah bahwa pertolongan Tuhan itu tidak pernah ada habisnya. Jika saya mengatakan bahwa ini bukan prestasi, karena hanya pertolongan Tuhan saja yang bekerja dalam diri saya.

Banyak kelemahan dan kekurangan ada dalam diri saya. Namun nyatanya saya dimampukan dan bisa menjalani hidup sebagai seorang imam. Semuanya ini tidak pernah lepas dari karya Tuhan sendiri. Saya hanya sekedar atau sak dermo menjalani hidup ini.

Saya tidak pernah mempunyai kerinduan atau harapan yang muluk-muluk. Sebaliknya saya ingin mengalir dan dijalani saja kehidupan imamat saya.

Romo Bonifasius Benny Bambang Sumintarto Pr: Betul-betul Menjaga

Perjalanan 25 tahun imamat ini, semakin menyadarkan saya bahwa imamat itu seperti iman. Seperti benda berharga yang disimpan di dalam bejana tanah liat. Maka anugerah imamat itu harus betul-betul dijaga. Dan kita tidak bisa mengandalkan diri sendiri, tetapi kekuatan Tuhan.

Itulah sebabnya motto imamat saya ‘Tuhanlah pertolonganku’.

Ada banyak hal mengesan dalam kehidupan imamat saya. Salah satunya tentang tempat penugasan saya. Ketika saya tidak pernah memprediksi akan bertugas di suatu tempat, namun ternyata di situlah saya ditugaskan.

Misalnya, saya tak pernah berpikir untuk tugas sebagai Wakil Rektor Seminari Tahun Orientasi Rohani (TOR) Sanjaya; atau ketika saya ditunjuk untuk menjadi Ketua Komisi Kepemudaan KAS (1998-2002). Dan rupanya apa yang dikehendaki Tuhan itu berbeda dari keinginan saya. Tapi semua itu saya nikmati saja dan berlanjut hingga saat ini.

Romo Augustinus Toto Supriyanto Pr: Rahmat Tuhan Itu Nyata

Bagi saya, semua pengalaman imamat adalah berkesan. Karena melalui pengalaman itu, saya melihat dan merasakan penyertaan Tuhan yang luar biasa. Tuhan yang memanggil, Tuhan yang menyertai dan Tuhan pula yang menyelesaikannya.

Rahmat Tuhan yang setia berkarya dalam diri saya, yaitu melindungi, menjaga, memelihara, dan menguatkan saya. Tuhan telah merencanakan dan melakukan semuanya bagi saya dengan setia.

Saya sadar bahwa meskipun imam, saya tetap tak luput dari kekurangan manusiawi dan bahkan terus menerus jatuh dalam dosa dan kelemahan manusiawi. “Roh memang kuat, tetapi daging lemah”.

Saya harus mengakui dan meyakini bahwa saya bagaikan bejana tanah liat yang mudah hancur.

Walaupun peziarahan imamat saya belum berakhir, namun saya bersyukur bersama Pemazmur: “Bersyukurlah kepada Tuhan sebab Ia baik, bahwasannya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” (Mzm 118:1).

Juga bersama Bunda Maria berseru: “Aku menganggungkan Tuhan, hatiku bersukaria karena Allah penyelamatku. Sebab Ia memperhatikan daku, hamba-Nya yang hina ini.” (Luk 1:46-48a).

Proficiat untuk kedelapan Imam dan Hamba Allah. Semoga kasih Allah yang memanggil senantiasa menyertai hidup dan karya para imam yubilaris yang pada tanggal 12 Agustus 2017 merayakan pesta perak tahbisan imamatnya:

  • Mgr. Robertus Rubiyatmoko
  • Romo FX Sukendar Wgnyosumarta Pr.
  • Romo Matheus Djoko Setya Prakosa Pr.
  • Romo Ignatius Suharyono Pr.
  • Romo Norbertus Sukarno Siwi Pr.
  • Romo Antonius Suparyono Pr.
  • Romo Bonifasius Benny Bambang Pr.
  • Romo Augustinus Toto Supriyanto Pr.

PS:  Naskah dengan konten berita yang sama juga muncul edisi cetaknya di Majalah Salam Damai.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here