Percik Firman: Selasa, 12 September 2017 – Berdoa Itu Mudah atau Sulit?

0
646 views

Bacaan: Lukas 6:12-19

“Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah”(Luk 6:12)

Saudari/a ku ytk.,

SETIAP kali mengakhiri homilinya, pesannya, atau sambutannya, Paus Fransiskus sering mengatakan kepada umat, “Mohon doanya saya.” Bahkan saat ia diumumkan terpilih sebagai paus pada tanggal 13 Maret 2013, ia memohon doa dan dukungan dari ribuan umat yang berkumpul di lapangan Basilika Santo Petrus Vatikan. Dikatakannya, “Sebelum saya memberikan berkat, saya meminta bantuan Anda: ‘Saya ingin kalian mendoakan dan memberkati saya.” Sesuai didoakan umat, Paus Fransiskus kemudian memberikan berkat yang biasa disebut “Urbi et Orbi” atau berkat Untuk Kota dan Seluruh Dunia.

Berdoa atau mendoakan seseorang itu gampang atau sulit sich? Tampaknya berdoa itu mudah diucapkan, tetapi sulit dilakukan. Benar nggak? Kalau ditanya, berdoa itu sulit atau gampang, bagaimana jawaban kita? Mungkin ada yang akan mengatakan berdoa itu gampang ketika kita sedang susah, menghadapi masalah, atau sedang ujian. Kita lihat betapa penuhnya gereja-gereja ketika masa-masa ujian sekolah. Iya nggak?

Atau barangkali juga ada orang yang mengatakan berdoa itu gampang karena pekerjaan saya adalah doa saya kepada Allah. Dengan bekerja saya sekaligus berdoa. Atau mungkin sebagian orang akan mengatakan berdoa itu sulit. Tidak punya waktu untuk berdoa karena sibuk dan banyak kerjaan.

Dalam injil hari ini Yesus memberi teladan bagaimana berdoa. Dikisahkan dalam injil, “Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.” Sebelum menghadapi peristiwa yang penting pada pagi harinya, yaitu memilih dua belas murid, Yesus berdoa mohon petunjuk kepada Allah Bapa terlebih dahulu. Pekerjaan-Nya dipersembahkan kepada Bapa agar diberkati.

Pada zaman sekarang ini, tak jarang orang sulit meluangkan dan menyediakan diri dan waktu untuk berdoa. Orang diduga semakin menjauh dari Allah. Orang semakin asyik dengan dirinya sendiri dan peralatan teknologi (HP, internet, media sosial, dsb). Saat masih misa di gereja atau tempat ziarah (gua maria), orang malah mainan HP, kirim SMS, WA-nan dengan temannya, mengunggah foto sebagai status di Facebook atau WhatsApp (WA). Ini menjadi godaan dan tantangan besar (maaf) bagi mereka yang bertugas dokumentasi/fotografer.

Orang mengesampingkan Allah, tidak memberi tempat lagi kepada Allah dalam hidupnya. Orang sulit memfokuskan perhatian dan waktunya: saat berdoa/misa dengan saat tidak berdoa/misa. Sebagai orang beriman Kristiani, kita menghadapi tantangan yang tidak mudah. Padahal, kita dipanggil untuk menjadi manusia pendoa (man of God).

Dua situasi yang bertolak belakang ini menumbuhkan tegangan dalam hidup kita. Dan kalau boleh saya meminjam istilah Mgr. I. Suharyo, tegangan itu adalah tegangan yang kreatif. Lantas, bagaimana kita menghadapi tegangan yang kreatif tersebut? Salah satu tindakan yang penting dilakukan adalah menyediakan waktu HENING, KEHENINGAN. Tidak menunggu dan mengharapkan keheningan dari orang lain, tetapi kita sendiri yang menciptakannya. Orang Jawa menyebut: Neng (meneng-diam), Ning (Wening-hening), dan Nung (Dunung-kesejatian hidup). Meneng dan wening merupakan usaha disiplin diri supaya kita bisa menemukan dunung, yaitu kesejatian hidup.

Santa Teresa dari Kalkuta-India pernah mengungkapkan, ”Berdoa itu amat sulit apabila orang tidak tahu bagaimana ia sebaiknya berdoa, maka kita harus saling membantu untuk belajar doa. Apa yang paling penting adalah keheningan. Kita tidak akan dapat menyadari kehadiran Allah tanpa menjadi hening. Maka, kita harus membiasakan diri dengan suatu keheningan roh, keheningan mata, dan keheningan lidah. Keheningan memberi kita suatu pandangan baru tentang segala sesuatu”.

Pertanyaan refleksinya: Apakah selama ini Anda pernah mengalami kesulitan dalam berdoa? Apa godaan terbesar Anda dalam berdoa? Apa niat Anda untuk memperbaiki semangat dan kehidupan doa Anda? Selamat merenungkan.

Sungguh lucu boneka panda
Hitam dan putih warnanya
Mari kita terus bertekun dalam doa
Baik dalam suka maupun duka.

Berkah Dalem dan salam teplok dari Roma.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here