Filosofi Manna

2
240 views

MANNA, apakah itu?

Ketika pertama kali bangsa Israel dikarunia roti manna  saat  melakukan exodus meninggallkan Mesir menuju Tanah Terjanji, mereka bertanya satu sama lain ‘apa itu’ atau man hu dalam bahasa Hibrani. Itulah asal kata ‘manna’.

Hujan roti manna diberikan kepada bangsa Israel saat mereka tengah menempuh perjalanan sulit menyusuri jalanan di padang gurun dari  Mesir menuju Tanah Terjanji. Perjalanan panjang selama 40 tahun itu penuh suka duka dan juga sungut cemberut.

Manna alias ‘roti dari surga’ dikatakan berwujud seperti biji ketumbar, putih bulat dan kecil. Rasanya dikatakan seperti wafer bersaput madu. Barang kecil unik yang turun dari langit ini bisa mengajarkan banyak hal kepada kita.

Mukjizat itu ada

Manna turun ketika bangsa Israel mengalami kesulitan mencari makanan dan terancam bencana kelaparan. Tiba-tiba turunlah manna. Maka manna disebut sebagai ‘roti dari surga’, turun dalam jumlah yang tak habis-habis dimakan oleh mereka.

Kecil namun berarti

Bentuknya yang kecil rupanya berdaya kuat bagi kelangsungan hidup bangsa Israel selama 40 tahun perjalanan exodus mereka menuju Kanaan. Tindakan baik yang seakan kecil tak berarti juga akan bermakna ketika dilakukan terus menerus, apalagi dilakukan dengan mengajak sekelilingnya.

Tidak serakah

Manna tidak bisa disimpan lewat dari sehari. Ketika ada orang Israel yang kemaruk menumpuk manna melebihi kebutuhannya dalam sehari, esoknya dia menemukan manna itu telak rusak dan berulat. Manna mengajarkan manusia untuk tidak serakah, tidak korupsi, untuk memikirkan kebutuhan orang lain maka Tuhan akan mencukupkan semuanya.

 

Memuliakan Tuhan

Manna hanya bertahan sehari, kecuali pada hari persiapan Sabat. Pada hari tersebut manna akan diturunkan dua kali lipat dan bisa disimpan untuk dimakan pada hari Sabat dimana Tuhan dipermuliakan secara penuh. Manna mengingatkan agar Tuhan diingat secara istimewa seperti halnya Tuhan memberi rahmat karunia secara berlimpah.

 Kesederhanaan itu indah

Bentuknya yang kecil bulat putih sangat sederhana namun menonjol di padang gurun. Manna tidak hadir dengan gemuruh sangkakala maupun terompet. Kedatangannya seturut angin dan seringan embun. Manna mengajarkan untuk tidak bermegah diri atau pun narsis secara jasmani maupun rohani. Menjadi berguna bukan karena ‘aku’,  tapi untuk kemuliaan Tuhan alias AMDG (Ad Maiorem Dei Gloriam)

Tahan ditempa

Manna dikatakan bisa direbus, dipanggang, ditumbuk, atau pun digiling dalam gerinda. Teladan kekuatan, kelenturan, keluwesan dalam menghadapi hidupnya yang super singkat.

Mundur pada saatnya

Seperti kemunculannya, manna menghilang secara misterius ketika bangsa Israel mencapai  tujuan perjalanannya: Tanah Terjanji. Kesediaan untuk mundur adalah suatu hal yang sulit sekali dilakukan, banyak yang tetap mencengkeram erat ‘miliknya’. Hal itu bisa berupa kontrol terhadap anak, organisasi yang didirikan atau yang merasa dibesarkannya. Lepas bebas ala Santo Ignatius rupanya telah diterapkan manna ribuan tahun silam.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here