Klaten: Festival Budaya “Nandur Rukun Sugih Sedulur” dengan 1.000-an Peserta

0
271 views
Festival Budaya PIA-PIR (Pendampingan Iman Anak – Pendampingan Iman Remaja) se rayon Klaten. (Laurentius Sukamta)

LEBIH dari seribu anak dan remaja dari sembilan paroki di Rayon Klaten, Jawa Tengah, mengikuti Festival Budaya PIA-PIR (Pendampingan Iman Anak – Pendampingan Iman Remaja) di Lapangan SMK Leonardo Klaten, Minggu (24/9/2017).

Festival Budaya PIA-PIR Rayon Klaten yang melibatkan anak dan remaja lintas iman ini mengambil tema “Nandur Rukun Sugih Sedulur” yang berarti Menanam Kerukunan Menuai Persaudaraan.

Ketua Panitia Festival Budaya PIA-PIR Rayon Klaten, Yohanes Budi Setiyawan, menyampaikan, festival budaya ini bertujuan untuk melatih dan membangun rasa percaya diri pada anak dan remaja, serta sebagai media untuk menyampaikan pesan damai kepada semua orang agar persaudaran sejati dapat diwujudkan di tengah masyarakat.

Anak-anak dari paroki-paroki di Klaten, Jateng. (Laurentius Sukamta)

“Festival budaya ini diharapkan dapat menjadi media untuk membangun jejaring, dan sebagai sarana untuk srawung dengan komunitas pendamping iman anak dan remaja Katolik di Rayon Klaten, serta dari mereka yang beragama lain. Dengan demikian diharapkan, festival budaya ini dapat menumbuhkan sikap toleransi dalam diri anak dan remaja sejak dini,” katanya.

Festival budaya ini diisi dengan aneka tampilan seni dan budaya dalam konteks multikultur. Setiap kontingen dari paroki diberi waktu untuk tampil maksimal 30 menit.

Acara festival budaya diawali dengan penampilan drumband dari SMP Maria Assumpta Klaten. Selanjutnya dilakukan kirab atau arak-arakan kontingen dari paroki yang mengikuti festival budaya ini. Dalam kirab, mereka membawa identitas dan bendera dari parokinya. Kirab diawali oleh empat buto (raksasa) dan dua Anoman.

Gelaran festival budaya ini dibuka dengan sambutan dan pemotongan pita oleh ketua panitia. Kemudian, seluruh hadirin diajak untuk menyanyikan jingle Festival Budaya secara bersama-sama. Rangkaian acara pembukaan festival budaya ini diakhiri dengan penampilan ensemble musik dari SMP Maria Assumpta Klaten.

Tampilan budaya dari utusan paroki

Festival budaya ini diisi dengan penampilan Tari “Sapu Gerang” dari Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat, Tari “Pari Tumuwuh” dari Paroki Santa Maria Diangkat ke Surga Dalem, Sruntul “Timun Mas” dari Paroki Roh Kudus Kebonarum, dan Sendratari “Ande-Ande Lumut For Nusantara” dari Paroki Santa Theresia Jombor. Selanjutnya, parade permainan tradisional dari Paroki Yohanes Rasul Delanggu, serta Sendratari “Musa Memimpin Bangsa Israel Menuju Kanaan” dari Paroki Yusup Pekerja Gondang.

Tampilan budaya dari anak-anak paroki se rayon Klaten.(Laurentius Sukamta)

Sekitar pukul 12.00 WIB, festival budaya istirahat sejenak untuk makan siang. Saat istirahat makan siang, hadirin dihibur oleh penampilan “Wayang Klaras”.

Kemudian, festival budaya dilanjutkan dengan penampilan Sendratari “Daud Dan Goliath” dari Paroki Maria Assumpta Klaten, tarian Nusantara bertemakan “Unity of Indonesia” dari Paroki Administratif Cawas, dan dipuncaki dengan Sendratari “Kidung Nusantara” dari Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi.

Ada yang menarik dari Sendratari “Kidung Nusantara” ini. Anak-anak membawakan tarian dari berbagai daerah di Indonesia, seperti dari Bali, Papua, Kalimantan, Banyuwangi, Ponorogo, Betawi dan Aceh. Di akhir sendratari, anak-anak menyanyikan lagu Saya Indonesia, Saya Pancasila dengan penuh semangat dan gembira. Sendratari yang melibatkan seratusan anak ini diiringi gamelan secara langsung oleh Karawitan Anak Parikesit Paroki Wedi.

Festival Budaya PIA-PIR (Pendampingan Iman Anak – Pendampingan Iman Remaja) se rayon Klaten.

Sendratari kolosal ini adalah karya dari Marta Endang dan Surono “Parikesit”.

Dalam festival budaya ini, panitia memberikan apresiasi kepada paroki yang tampil di festival budaya ini untuk kategori Terheboh, Tervariatif, dan Terkreatif. Untuk apresiasi Terheboh diraih Paroki Wedi, Terkreatif disabet Paroki Klaten, dan Tervariatif diperoleh Paroki Administratif Cawas.

Di akhir acara, hadirin kembali diajak untuk menyanyikan jingle Festival Budaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here