“Unlimited Worship and Conference 2017”: Karena Tuhan, Hidup Pastor Rob Berubah dari “Mess” Jadi “Message”

0
1,421 views
Pastor Rob Galea dari Australia berdarah Malta. (Mathias Hariyadi)

MUDA, tampan, energik, penuh pesona, postur tubuh bagus, tampilan fisik super gaul, dan bernyanyi indah dengan suara bagus. Siapa sangka, pelantun tembang di atas panggung dengan balutan celana jeans sedikit dibuat cingkrang dengan sepatu kets berkaos ngejreng itu seorang pastor beneran.

Ia sudah barang tentu bukanlah seorang artis. Namun saat tampil di atas panggung pentas bertitel Unlimited Worship Conference and Charity Concert 2017, pastor bule asal Melbourne – Australia ini bak seorang artis pop dengan daya magnet luar biasa.

Pastor Rob Galea dari Melbourne – Australia. (Chandra Susanto)

Suaranya renyah saat ia berkisah tentang sejarah hidupnya sejak usia muda hingga akhirnya memutuskan menjadi seorang imam. Ia bernyanyi melantunkan baik tembang-tembang pop maupun rohani yang mampu membetot emosi sedikitnya 1.800-an orang katolik se-Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) yang memenuhi sudut-sudut ruangan besar di sebuah mall di Jakarta Selatan.

Pastor Rob Galea bukan sedang ngartis. Di Unlimited Worship and Conference 2017 ini, ia menyapa umat katolik KAJ dan kepada ribuan orang katolik ini. Di sini  ia berkotbah tentang bagaimana setiap orang dipanggil Tuhan untuk semakin bisa meningkatkan kualitas hidup kristianinya. Ayat-ayat Kitab Suci dia itelaah dengan gaya yang menawan, sangat tidak membosankan, meski dua kali sesi yang dia bawakan makan waktu lebih dari tiga jam.

Pada tahun 2008 bersama mendiang Mgr. Joe Grech, Pastor Rob Galea mendirikan Stronger Youth Program –sebuah komunitas gerakan anak-anak muda katolik Australia.

Pemandu kocak berbakat Feli dan Christian. (Mathias)

Pastor pemalu yang jadi seleb

Pesona Pastor Rob Galea yang lahir dan besar di Malta –sebuah pulau kecil di Laut Mediterannia—tidak hanya karena ia multi talenta. Namun, juga kisah hidupnya yang menawan untuk disharingkan. Pastor yang kini tinggal di Melbourne – Australia ini mengakui dirinya tak pernah membayangkan bahwa sekarang ini ia seakan-akan sudah ‘menjadi’ seorang seleb dan karenanya bisa berkeliling dunia untuk “berkotbah” tentang kehidupan di atas gemerlapnya panggung pentas aneka nyanyian pujian.

Lagu-lagu pujian di acara “Unlimited Worship & Conference 2017”. (Mathias Hariyadi)

“Sejatinya, saya adalah seorang pemalu, introvert dan suka mengurung diri berlama-lama di kamar,” katanya mengawali paparan syeringnya.

“Bahkan sampai sekarang pun, saya juga masih seperti itu. Di pastoran di Melbourne, saya cenderung ingin berlama-lama tinggal di kamar bersama Gozo –anjing kesayangan yang menjadi sahabat saya,” tambahnya kemudian yang ucapannya dengan bagus diterjemahkan langsung oleh Novi.

Saat berumur 16 tahun, begitu pengakuan Pastor Rob, ia sudah menjadi ‘preman’ jalanan di Malta yang mengakrabi narkoba –mengkonsumsi dan juga menjadi pengedarnya–, kekerasan, dunia night club, dan sudah kebal seperti tak merasa berdosa ketika ia berbohong, mengarang cerita, menipu, dan lain sebagainya. Ketika sekali waktu terlibat dalam kekerasan dengan pemimpin preman setempat bersama kelompok geng-nya hanya gara-gara ingin memiliki topi sang pemimpin preman itu, Rob muda digelayuti rasa bersalah sedemikian besar.

Rasa skrupel ini membawa dia pada tahap depresi akut sehingga sering kali tergoda untuk mengakhiri hidupnya. Namun apa yang terjadi, ibu kandungnya tak pernah ‘menceraikan’ dia dari dekapan kasih sayang keluarga. Kekuatan doa ibu dan dekapan kasih sayang keluarga itulah yang akhirnya membebaskan Rob muda dari kekacauan (mess) hidup  menjadi opportunity untuk mewartakan Kabar Gembira (good message) kepada orang lain sebagai seorang imam katolik yang baik.

Itulah inti pesan kotbah kesaksian hidup Pastor Rob Galea yang mempesona ribuan umat katolik KAJ yang menghadiri acara Unlimited Worship and Conference 2017 ini.

Unlimited Worship & Conference 2017, Sabtu 7 Oktober 2017.

Sesuai titel acara yang mengambil kata unlimited, maka acara ini memang berjalan maraton sedari pukul 09.00 hingga pukul 23.00 jelang pergantian hari Sabtu ke Minggu tanggal 7 September 2017. Selain Pastor Rob, ikut tampil sebagai pembawa firman adalah Jude Antoine dari Malaysia dan beberapa kalangan artis-musisi katolik dan lainnya. Acara maraton berisi paket puji-pujian ini dipandu apik oleh duet pranata acara Christian Reinaldo yang kocak bersama mitranya Feli Sumayku yang super eksentrik menawan dengan hiasan tatto di banyak bagian tubuhnya.

Jude Antoine dari Malaysia.

Belajar tentang indahnya kehidupan

Dari Jude Antoine, hadirin diajak belajar memuji Tuhan melalui puji-pujian. Dari Pastor Rob, segenap hadirin diajak menyadari bahwa Tuhan sering kali berkarya melalui banyak peristiwa dan akhirnya daya ilahi itu mampu mengubah orang menjadi “alat-Nya” sebagaimana dialami sendiri yang pastor Australia berdarah Malta: dari mess menjadi (good) message.

Dari pemusik Tommy Pratama yang diboyong dari Paroki St. Matius Bintaro, kita diajak menikmati indahnya alunan musik rohani bersaput lengkingan instrumen saksofon. Ternyata, saksofonis katolik yang berbakat itu punya nama Tommy Pratama.

Pemain saksofon Tommy Pramata dari Paroki St. Matius Bintaro. (Mathias Hariyadi)

Dari tampilan Jamaica Café, kita belajar bahwa musik a ccapela ini indah. Menyanyikan tiga lagu secara serempak dan kompak tanpa satu instrumen apa pun adalah kelebihan para pemusik ini. Belum lagii kalau melihat ‘komposisi’ anggota  para penyanyinya yang sangat ber-Bhinneka Tunggal Ika.

Tommy Pratama (Mathias Hariyadi)

Selain mereka berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia (Papua, Tapanuli, Jawa, Ambon, Padang, Flores, dan Maluku), kelima penyanyi ini juga menganut agama berbeda-beda. Anton –alumnus SMA Gonzaga- misalnya adalah seorang Muslim, sementara Michael yang juga pernah di Gonzaga plus mantan seminaris di Seminari Menengah KAJ Wacana Bhakti di Pejaten adalah seorang katolik.

Di tengah gelaran acara ini, diumumkan 10  pemenang lomba komposisi lagu-lagu katolik yang mengisi album rohani katolik dalam kepingan CD bertitel My Savior.  Karya 10 pemenang ini masuk bursa rekaman albu rohani katolik setelah mereka ikut kompetisi Unlimited Worship Song Competition beberapa waktu lalu. Di atas panggung, sekilas saya melihat Paschalis Gandhi Suryanta, penggiat muda PUKAT KAJ (Profesional Usahawan Katolik Keuskupan Agung Jakarta).

Jamaica Cafe. (Mathias Hariyadi0

Menjelang malam hari, berlangsunglah dinner untuk para pemerhati seminari bersama Komisi Seminari KWI dan GOTAUS (Gerakan Orangtua Asuh  Seminari). Pada malam harinya tampillah Charity Concert yang menghadirkan sejumlah artis dan musisi seperti 30 Pieces Orchestra, Pongky, Anthony S,  Sisi, dan Deli & Friends.

Menjawab Sesawi.Net, Gandhi mengaku hepi luar biasa bisa berkiprah berbuat kebajikan untuk GOTAUS melalui karya komposisi lagu bertitel Slamanya Kau Ku Cinta. “Saya merasa mengalami berkat luar biasa karena Tuhan telah mengumpulkan banyak talenta terbaik dari banyak orang di KAJ untuk memuji dan memuliakan namaNya melalui tembang-tembang rohani khas katolik,” jelas organis  yang aslinya berasal dari Purwokerto – Jateng ini.

Inilah album rohani benar-benar katolik karena digarap oleh para komposer katolik. (Paschalis Gandhi Suryanata)
10 pemenang lomba kreasi lagu rohani katolik. (Mathias Hariyadi)

Selama ini, kalau kita bicara tentang lagu-lagu rohani non ‘konvensional’ maka telinga kita lebih banyak disuguhi lagu-lagu dari gereja-gereja denominasi lain. Kini, acungan jempol rasanya perlu ditujukan kepada  FKP3 BPK PKK KAJ yang di hari Sabtu tanggal 7 Oktober 2017 kemarin menggelar acara  Unlimited Worship Conference & Charity Concert 2017 dan  merilis album rohani katolik bertitel My Savior.

Nah, mari kita mengingat kembali pokok kotbah Pastor Rob Galea di awal tulisan ini. Sering kali, Tuhan ‘menjamah’ dan menggunakan kita menjadi ‘alat-Nya’ untuk berbagi warta gembira (good messages) melalui bakat dan kedirian kita tanpa pernah kita duga sebelumnya. Dan saya juga tidak pernah menduga, kalau kawan lama saya di jajaran kepengurusan PUKAT KAJ  yang bernama Paschalis Gandhi Suryanata dari Purwokerto ini ternyata seorang musisi berbakat.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here