Meratap dan Semangat Berkurban

0
174 views

“Hai para imam, kenakanlah pakaian kabung dan mengeluhlah. Merataplah, hai para pelayan mezbah. Masuklah, bermalamlah dengan memakai kain kabung, hai para pelayan Allahku, sebab sudah lama di rumah Allahmu tiada kurban sajian dan kurban curahan.” (Yoel 1,13)

SEORANG suami di Bali hanya bisa meratap, ketika dia melihat isterinya tergeletak di kamar mandi, dengan kondisi leher tergorok dan berlumuran darah. Seorang ibu mendatangi Mapolsek Deliserdang dengan wajah lesu, meratap dan melaporkan bahwa sudah satu Minggu anaknya tidak pulang kerumah. Sejak jatuh dari sepeda motor, ingatan anaknya berkurang. Beberapa abang becak hanya bisa meratap di daerah Senin, ketika mereka dirazia dan becaknya disita oleh petugas. Mereka sudah kehilangan sarana untuk mendapatkan nafkah. Di Polewali, seorang anak meratap di depan pagar sekolah, karena dia bersama dengan teman-temannya tidak bisa masuk sekolah dan mendapatkan pelajaran. Pintu gerbang sekolah sudah disegel oleh pemilik tanah.

Meratap sering dialami oleh banyak orang, entah anak-anak, orang muda dan dewasa; oleh seorang suami, seorang ibu dan orang lain. Meratap sering berkaitan dengan mengeluh. Meratap sering terungkap dalam kata-kata keluhan, tetesan air mata dan wajah murung atau sedih. Kesedihan yang mengalir dari dalam hati dan perasaan. Orang hanya bisa meratap dan mengeluh; tidak mempunyai kekuatan dan daya untuk berbuat sesuatu; orang berada dalam ketidakberdayaan dan hanya bisa berharap pada uluran tangan orang lain.

Banyak orang meratap dan mengeluh karena berbagai macam peristiwa berat telah menimpa hidupnya, seperti: kehilangan pekerjaan dan penghasilan, kehilangan anggota keluarga, kehilangan akses, fasilitas atau kemudahan hidup. Orang meratap dan mengeluh, ketika mereka berhadapan dengan masalah atau persoalan hidup yang berat, sakit dan penderitaan yang tidak kunjung sembuh, menjadi kurban bencana alam.

Meratap tidak hanya berkaitan dengan rasa sedih dan duka serta perasaan tidak nyaman lainnya. Meratap juga merupakan kesempatan bagi seseorang untuk menyadari kembali jati diri manusia sebagai makhluk yang lemah, terbatas, rapuh. Manusia tidak mampu mengandalkan kekuatan dan tenaganya sendiri; manusia tetap membutuhkan uluran tangan orang lain dan bantuan Allah.

Nabi Yoel tidak hanya mengajak para imam dan pelayan mezbah untuk meratap, merasa sedih dan prihatin, tetapi juga mengajak mempersembahkan kurban. Meratap merupakan kesempatan untuk menyegarkan kembali semangat pengurbanan; pengurbanan artinya memberikan sesuatu yang baik, berharga, indah bagi Tuhan. Para imam jangan hanya mandeg untuk memiliki banyak hal baik, indah dan bagus untuk dirinya sendiri; tetapi juga bersedia membagikannya untuk sesama dan Tuhan.

Dalam peristiwa dan pengalaman apa, saya pernah meratap, sedih dan prihatin: apakah berkaitan dengan tidak terpenuhinya keinginan dan kehausan memiliki banyak hal baik untuk diri sendiri; atau berkaitan dengan ketidakmampuan, kekurangan atau keengganan untuk menghayati semangat pengurbanan bagi sesama dan bagi Tuhan? Berkah Dalem.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here