Reksa Pastoral Orang Sakit: Berkat Kunjungan dan Doa, Nenek Renta Itu Berhenti Mengerang Kesakitan

1
326 views
Ilustrasi (Ist)

SAKIT itu jelas sangat tidak mengenakkan. Pun pula melihat orang sakit dan menyaksikan sendiri di depan mata bagaimana susah dan tidak enaknya orang ketika didera sakit.

Ini adalah catatan reflektif saya, ketika menyaksikan dari dekat seorang nenek yang sudah renta dan dia didera sakit serius. Akhirnya, nenek tersebut meninggal dunia dalam sakitnya. Doa kami hanya satu yakni semoga jiwa nenek tersebut beristirahat dalam ketenteraman ilahi berkat  kerahiman Tuhan.

Meski ‘peristiwa’ melihat orang lain ini sakit dan kemudian meninggal itu sudah lama lewat terjadi, namun ingatan akan kesedihan dan derita karena penyakit itu tetap mengiang-ngiang di hati saya. Dan inilah catatan refleksi pribadi ringkas atas  ‘peristiwa sakit’ tersebut.

Sekali waktu di bulan September 2017 lalu, bersama beberapa orang lain saya ikut dalam sebuah kegiatan bakti sosial di sebuah tempat di Kalimantan Barat. Setelah beberapa malam menginap di sana, kami dibuat  kaget karena setiap malam selalu saja  mendengar suara orang mengaduh dan mengerang kesakitan.

Awalnya, kami sempat mengira hal itu ada karena teman tidur mengigau.  Tetapi setelah bertanya kepada keluarga dimana rombongan baksos menginap, menjadi jelas bagi kami semua bahwa di sekitaran rumah itu memang ada seorang nenek renta yang tengah sakit serius. Ia mengalami sakit itu sebagai penderitaan baik secara fisik dan batin dan itu sudah berlangsung selama dua bulan terakhir.

Desahan sakit dan raungan di malam hari menjadi penanda bahwa derita sakit itu memang telah membuat nenek renta itu desperate atau apalah namanya.

Menemani orang sakit

Dalam kesempatan kunjungan keluarga, bersama Anem –warga lokal—dan lainnya, kami datang menengok sang nenek yang sakit dan kami bersama-sama ingin mendoakan dia. Ketika kami datang menemui dia, kami merasakan atmosfir bahwa nenek itu seakan-akan bertemu ‘suasana’ baru. Ia tidak bereaksi berlebihan dengan misalnya mengerang mengeluh, melainkan sebaliknya ia berbaring tenang. Dan mengherankan bagi kami semua yang hadir di situ, nenek yang sakit itu tiba-tiba saja bisa langsung lelap dan ‘berperilaku” tenang setelah didoakan.

Dan ajaibnya,  malam harinya tidak lagi terdengar suara teriakan menahan sakitnya. Malam tenang terjadi di tempat nenek sakit itu berada.

Serba iba

Seperti awal tulisannya membuka, sakit itu sungguh tidak enak di badan dan jiwa manusia. Begitu pula, kami sebagai ‘penonton’ pun dibuat tidak enak. Berbagai perasaan campur baur di dalam hati. Namun yang terbesar adalah rasa iba yang amat sangat intensif.

Saat melihat kondisi fisik sang nenek yang sakit dan kini sudah almarhumah itu, maka siapa pun akan merasa iba. Raganya tinggal kulit pembalut tulang dengan kondisi tangan kiri yang sudah kaku dan tidak bisa digerakkan lagi. Ia hanya bisa berbaring, seakan menunggu datangnya rasa belas kasih dari siapa pun yang datang bersedia mengunjunginya. Dan kami terhibur bahwa keluarga itu merawat nenek renta ini dengan setia dan penuh kasih. Semuanya dalam keadaan bersih walau semuanya ‘terjadi’ di atas dipan tempat tidur sekaligus kamar ‘buang hajat’.

Banjur adalah nama lokasi dimana kami melakukan baksos dan bertemu dengan nenek renta yang sakit itu. Ketika tiba waktunya kami akan pulang meninggalkan Banjur, ada sedikit omongan di antara kami yang mengatakan, ah jangan-jangan setelah kami pergi, maka nenek itu akan ‘pergi’ juga. “Tampak sekali bahwa nenek itu sudah menjadi lebih tenang sejak kunjungan kita,” demikian isi omongan salah satu teman sesaat sebelum kami akhirnya meninggalkan Banjur.

Benar dugaan kami. Tak lama setelah kami beringsut pulang meninggalkan Banjur,  terdengar bahwa nenek itu akhirnya ‘pergi selamanya’.

Reksa pastoral orang sakit

Pengalaman ini sebenarnya biasa saja, namun ada bekas-bekas sentuhan lain yang tetap tinggal di hati kami –setidaknya saya sendiri. Hidup di dunia ini singkat dan kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput diri kita masing-masing.

Lainnya adalah pengalaman sentuhan kasih ketika orang sakit dijenguk dan didoakan. Barangkali doa-doa kita itu tidak akan ‘menyembuhkan’ penyakit, namun kehadiran dan sokongan moril kita dengan doa menjadikan orang sakit merasa ditegukan keimanannya kepada Tuhan.

Karena itu, saya pribadi sangat menghargai bahwa saat ini Gereja Katolik –semoga saja masih terjadi—masih sering mengutus para pastor atau prodiakon melakukan reksa pastoral orang sakit dengan kunjungan rohani dan memberi hosti kepada pasien. Setidaknya itu membuat si sakit merasa terhibur dan jiwanya semakin diperteguh oleh ‘pertemuannya’ dengan Tuhan melalui hosti suci.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here