Mencintai Dunia

0
152 views

“Saudaraku terkasih, Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia telah berangkat ke Tesalonika. Kreskes telah pergi ke Galilea, sedang Titus ke Dalmatia.” (Tim 4,10) 

KECINTAAN Marc Marquez terhadap dunia balap motor ternyata telah terpupuk sejak usia dini. Dia telah bercita-cita untuk berkecimpung di dalam dunia balap motor sejak kecil. Saat diwawancarai, dia menyatakan dengan yakin bahwa dirinya akan menjadi mekanik, setelah dia tidak menjadi rider MotoGP. Dia tidak mempunyai keinginan untuk bekerja di luar dunia balap. Kecintaan MM terhadap hal ini rupanya sudah ditularkan dari orang tuanya, yang juga menyukai dunia balap.

Apa yang dialami oleh Marc Marquez rupanya juga mirip dengan apa yang dialami oleh Valentino Rossi. VR juga begitu mencintai dunia MotoGP. Hal ini nampak dalam tekadnya yang begitu besar untuk kembali ke lintasan MotoGP, setelah dia mengalami patah kaki menjelang balapan GP di San Marino dan harus beristirahat sekitar 30-40 hari. Seorang pembalap yang mengalami patah kaki, dan setelah 20 hari kembali ke MotoGP menunjukkan bahwa VR benar-benar menyenangi dunia balap dan selalu menginginkan hal itu.

MM dan VR adalah dua orang yang benar-benar mencintai dunianya, yakni dunia balap. Mungkin ada juga orang lain yang juga mencintai dunia balap, entah dengan terlibat aktif sebagai pembalap atau hanya sekedar sebagai penonton. Setiap orang mempunyai dunia masing-masing dan banyak orang juga mencintai dunianya. Banyak guru dan dosen benar-benar mencintai dunia pendidikan; dokter dan perawat mencintai dunia kesehatan; para atlet mencintai dunia olah raga; para turis mencintai dunia pariwisata. Setiap orang mencintai dunianya, selaras dengan minat, bakat dan hobinya.

Orang yang sungguh-sungguh mencintai dunianya akan mencurahkan seluruh perhatian, pikiran, tenaga dan sumber dayanya terhadap dunianya. Dia tidak akan memikirkan pekerjaan atau profesi lain; tidak akan dengan mudah berpindah ke dunia lainnya, seperti dialami oleh MM dan VR. Bahkan sakit atau penderitaan bukan menjadi halangan untuk mencintai dunianya.

Apa yang dialami oleh MM dan VR, rupanya juga dialami oleh Demas. Dia juga begitu mencintai dunia ini. Memang tidak dijelaskan dunia macam apa yang dicintai oleh Demas. Mungkin bukan dunia balap, dunia pendidikan atau kesehatan. Demas begitu mencintai dunia ini, yakni hal-hal yang sifatnya duniawi, seperti makan, minum, pakaian, serta berbagai macam hiburan dan kesenangan duniawi lainnya. Banyak orang juga begitu mencintai dunia dengan begitu kuatnya, karena dorongan hedonisme dan konsumerisme. Akibatnya orang tidak begitu tertarik terhadap hal-hal yang rohani dan spiritual; menomorduakan nilai-nilai Injil dan keyakinan iman. Gus Mus pernah mengatakan bahwa orang yang begitu mencintai dunia secara berlebihan, akan mengakibatkan matanya buram, artinya tidak bisa melihat kebenaran; tidak bisa membedakan antara baik dan buruk. Apakah karena hal-hal ini, Demas akhirnya meninggalkan Paulus.

Bagaimanakah pengalamanku selama ini: dunia macam apa yang selama ini benar-benar aku cintai, sehingga pikiran, kehendak, perasaan, tenaga dan seluruh sumber daya tercurah terhadap hal itu? Apakah akibat yang muncul? Berkah Dalem.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here