Jangan Sombong

0
239 views

“Jika demikian, apakah masih ada alasan untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman.” (Rom 3,27)

DALAM kesempatan Apel Khusus dan Halal Bihalal di Cilangkap, Panglima TNI menegaskan bahwa TNI bukanlah warga nomor satu dan paling hebat. “Hormati dan hargai rakyat, jangan sombong dan takabur, karena tanpa rakyat, TNI bukan apa-apa.” Pesan yang hampir sama juga diberikan oleh Risma pada saat mengukuhkan pasukan Paskibraka di Surabaya. Risma berpesan kepada 100 pasukan Paskibraka agar mereka tetap rendah hati dan jangan sombong. Beliau mengingatkan tentang filosofi padi, semakin menguning, maka ia semakin menunduk.

Sombong nampaknya merupakan salah satu sikap hidup yang mudah melekat dalam diri banyak orang, entah anak-anak, orang muda atau dewasa; laki-laki atau perempuan, pejabat pemerintah atau pemuka agama. Kesombongan bisa mudah menempel pada diri semua orang, entah sedikit atau banyak; sesaat atau dalam waktu lama.

Kesombongan membuat seseorang merasa paling hebat, paling baik, nomor satu, dibandingkan dengan orang lain. Orang cenderung memegahkan atau meninggikan dirinya dan sekaligus merendahkan atau menyepelekan orang lain. Ada banyak hal yang membuat seseorang menjadi sombong, congkak atau takabur, seperti: kekayaan, pendidikan tinggi, jabatan atau kedudukan, pangkat dan derajat, prestasi atau sukses yang dicapai, fasilitas hidup yang lengkap dan canggih yang dimiliki serta hal-hal lainnya. Kesombongan seseorang sering nampak dalam kata atau ucapan, sikap angkuh, perilaku congkak.

Banyak orang harus selalu diingatkan agar tidak dikuasai oleh kesombongan, yang bisa menimbulkan sikap atau perilaku yang jahat dan tidak baik. Tidak hanya Panglima dan Risma yang mengingatkan orang lain, tetapi juga Santo Paulus. Paulus mengingatkan para murid, agar mereka tidak sombong dan memegahkan diri. Apa yang akan dipergunakan para murid untuk memegahkan diri? Berhadapan dengan Allah, manusia tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri karena kekayaan, jabatan, kedudukan, pangkat, dsb. Hal-hal itu tidak ada artinya bagi Allah yang Mahakuasa dan Mahaagung. Manusia juga tidak bisa memegahkan diri karena prestasi dan sukses usahanya; karena semua itu dicapai berkat rahmat Allah. Yang bisa dilakukan oleh para murid hanyalah percaya dan beriman kuat terhadap-Nya.

Sejauh mana kesombongan atau kecenderungan untuk memegahkan diri aku alami di dalam diriku selama ini: hal-hal apa saja yang membuat diriku sombong dan menjadi alasan untuk merendahkan orang lain? Berkah Dalem.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here