Sepotong Ayam Goreng dan Kesetiaan Hidup Nominator Festival Film Pendek Pentigraf 2017

0
171 views

Dedeh Supantini, seorang dokter di Bandung menulis cerpen tiga paragraf (pentigraf) berjudul Sepotong Ayam Goreng. Dalam buku kumpulan pentigraf Penjual Jambu Biji dari Phnom Penh itu, Dedeh bertutur dengan lembut.

Dikisahkan, sebuah keluarga begitu bergembira ketika ayah sebagai kepala keluarga membawa pulang ayam goreng. Paha ayam itu lantas dinikmati satu keluarga tersebut, ayah, ibu, dan anak-anak. Ayam gorengnya hanya sepotong. Maka dengan perlahan Dedeh menceritakan bagaimana keluarga itu menikmatinya.

Pertama ayah makan sembari mencium aroma ayam goreng tersebut. Giliran ke dua ibu. Giliran berikutnya anak-anak. Si bungsu sempat berharap diperkenankan menjilat. Akan tetapi dicegah. Kalau ayam goreng itu dijilat, besok sudah tidak bisa lagi makan dengan ayam goreng.

Giliran besok pagi adalah menikmati kulitnya. Lusa dagingnya. “Sepotong ayam goreng itu rejeki hebat,” tulis Dedeh.

Dedeh juga bertutur filosofi makan dalam keluarga itu. Makan paling enak adalah ketika lapar, makan bersama, dan makan hanya sedikit.

Begitulah kisah keluarga kecil dalam rekaan Dedeh Supantini tersebut. Pentigraf ini menjadi salah satu cerita yang ketika diangkat menjadi film pendek, karya filmnya masuk nominasi.

Sebagai informasi, selepas terbit buku kumpulan pentigraf Pedagang Jambu Biji dari Phnom Penh, Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias menggelar Festival Film Pendek Pentigraf 2017. Sekitar 20 peserta OMK dari berbagai penjuru tanah air menyatakan minatnya untuk mengikuti festival tersebut. Panitia lantas mendapatkan kiriman 9 judul film.

Dari Sembilan film pendek tersebut, didapatkan lima nominator. Penjurian final akan dilakukan di Semarang dalam Malam Penganugerahan Pemenang Festival Film Pendek Pentigraf 2017. Kegiatan ini akan berlangsung pada Sabtu, 11 November 2017 di Aula Griya Paseban, Jl DR Ismangil 18A, Bongsari Semarang.

Lima film pendek yang masuk nominasi adalah:

1. Ciuman Terakhir, karya atas nama Bonaventura Pandu, Pemalang, Jawa Tengah. Berdasar pentigraf berjudul Ciuman Terakhir, karya Heru Agung Susanto.

2. Teman Chating, karya atas nama Anastasia Putri, Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Berdasar pentigraf berjudul Teman Chating, karya Tantrini Andang.

3. Bersama, karya atas nama Broadcast SMA Xaverius, Bandarlampung. Berdasar pentigraf berjudul Bersama, karya Emmelia Meitry.

4. Layung, karya atas nama Natania Karin, BSD. Berdasar pentigraf berjudul Pertemuan Senja dan Secangkir Kopi Hitam karya Tantrini Andang.

5. Sepotong Ayam Goreng, karya atas nama Kristiawan Wijaya, Depok, Jawa Barat. Berdasar pentigraf berjudul Sepotong Ayam Goreng, karya Dedeh Supantini.

Dedeh mengaku sangat senang pentigraf karyanya diolah menjadi film dan masuk nominasi. “Waah, bahagia sekali pentigrafku “Sepotong ayam goreng” dibuat jadi film.  Ngga terbayang. Jadi kepingin nonton filmnya,” tulisnya dalam laman facebook pribadinya.

Menurut Tengsoe Tjahjono, salah satu penggagas festival film ini, Orang Muda Katolik (OMK) memang menjadi sasaran yang diundang sebagai peserta festival. Hal ini untuk mengenalkan pentigraf kepada OMK.  Selain itu juga mengajak OMK menafsirkan pentigraf ke dalam bentuk film pendek.

“Menjadikan film pendek sebagai media pewartaan kasih. Juga menunjukkan bahwa film pendek merupakan bentuk literasi yg memakai bahasa verbal, nonverbal, gambar dan gerak,” kata peraih Sutasoma Award dari Balai Bahasa Jawa Timur tahun 2017 atas buku kumpulan puisinya Meditasi Kimchi.

Meskipun jumlah peserta belum mencapai yang diharapkan, Tengsoe tetap optimistis atas kegiatan tersebut. Menurutnya ke depan perlu pelatihan pembuatan film pendek yang dilanjutkan dengan festival film.

Bonaventura Pandu Satya salah satu peserta yang film pendeknya masuk nominasi mengungkapkan tantangan yang ia hadapi. Judul film pendeknya adalah Ciuman Terakhir. “Pemilihan cerita Ciuman Terakhir ini karena ceritanya itu sungguh mendalam, dimana kesetiaan seseorang dalam mencintai dan menyayangi istrinya hingga sudah tua, sudah sakit-sakitan, bahkan hingga istrinya meninggal,” kata Pandu ketika dihubungi melalui Whatsapp.

“Ini adalah wujud nyata janji pernikahan,” tandasnya.“Nah, cerita ini diangkat agar kita diingatkan kembali untuk janji-janji kita, untuk kesetiaan kita, terutama kesetiaan kepada Tuhan,” tambahnya bijak.

Bersama dengan teman-teman ia merasakan sulitnya membangun suasana visual yang sesuai dengan cerita. “Bahkan tantangan lebih jauhnya adalah bagaimana visual itu lebih mendalam lagi dari yang (tertulis) dalam cerita,” pungkasnya.

Malam Penganugerahan Pemenang Festival Film Pendek Pentigraf 2017 sekaligus juga merupakan rangkaian kegiatan Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias di Semarang. Selain penganugerahan pemenang festival film pendek, hari berikutnya (12/10) akan digelar orasi budaya dari penulis Rm Gabriel Possenti Sindhunata SJ.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here