Filsafat Pancasila Mgr. I. Suharyo di FMKI Surabaya: Pentingnya Humanisasi di Kehidupan Sosial

0
477 views
Mgr. Ignasius Suharyo menjadi pembicara dalam sebuah seminari kebangsaan bersama FMKI Surabaya. (Michael Andrew)

FORUM Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) Surabaya kali ini memiliki gawe lagi.

Pada hari Selasa, 25 Oktober 2017 lalu,  telah  dihelat acara seminar kebangsaan bertemakan “100% Katolik 100% Indonesia”. Seminar kebangsaan ini menghadirkan dua pembicara, yaitu Mgr. Ignasius Suharyo (Ketua KWI sekaligus Uskup Agung Keuskupan Agung Jakarta) dan Romo Guido Suprapto, Pr (Sekretaris Eksekutif  Komisi Kerasulan Awam  KWI).

Sebelum acara inti, panitia mengadakan misa syukur atas dihelatnya acara tersebut dengan selebran utama Mgr. I. Suharyo beserta Romo Guido Suprapto, Pr. dan Romo Eko Budi Susilo, Pr. (Vikaris Jenderal Keuskupan Surabaya) sebagai konselebran. Tak kalah menarik dalam homilinya, Mgr. I. Suharyo menyisipkan beberapa pesan penting bagaimana orang Katolik dapat menghayati kehidupan bermasyarakat di Indonesia ini.

Manusia yang tidak ‘manusiawi’ lagi

Pertama-tama, Mgr. I. Suharyo menegaskan bahwa kita sebagai masyarakat Indonesia sekaligus orang Katolik penting untuk memahami siapakah manusia di zaman sekarang ini. Beliau melihat banyaknya manusia yang tidak lagi memiliki kesadaran “manusiawi” itu sendiri.

Singkatnya, beliau mengatakan apabila banyak manusia yang tidak memiliki rasa “kemanusiaan”. Oleh karena itu, penting bagi umat Katolik sekaligus bagi masyarakat Indonesia untuk senantiasa menghidupi “kemanusiaan” dengan cara “humanisasi” yang tak lain berarti “senantiasa berproses menjadi manusia (human)”.

Cara manusiawi

Mgr. Suharyo mengatakan memang tidak mudah orang harus  senantiasa berproses agar menjadi human terus-menerus. Akan tetapi, ada cara sederhana yang Mgr. I. Suharyo tawarkan, yaitu dengan menghidupi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan kita.

  • Misalnya saja dalam Pancasila sila pertama, orang diajak untuk menyadari bahwa Ketuhanan berbicara Tuhanlah Sang Pencipta (Sang Khalik) dan manusia adalah ciptaan (sang makhluk). Oleh karena itulah, manusia hendaknya senantiasa memiliki akhlaq yang mana hal itu dalam bahasa Arab memiliki keterkaitan satu dengan lainnya.
  • Pada sila kedua, Mgr. I. Suharyo juga menjelaskan bahwa penting untuk melihat kemanusiaan dalam konteks manusia yang lemah. Beliau memberikan contoh bahwa di Indonesia toleransi memberikan kesempatan bagi pejalan kaki masih rendah karena tidak seperti di negara-negara maju, pejalan kaki keselamatannya diutamakan sebab ia tidak menggunakan kendaraan apa pun. Oleh karenanya, penting dalam menghidupi kehidupan agar senantiasa menjadi human.  Toleransi dalam membantu “si lemah” juga penting diwujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari kita.
  • I. Suharyo juga menambahkan jikalau kita bisa mewujudnyatakan kehidupan kita sebagai sesama manusia yang terus-menerus berusaha menjadi human, maka kita bisa menjadi seorang yang senantiasa mengusahakan persatuan (sila ketiga). Tak hanya itu, persatuan tersebut akhirnya bisa membangun sikap musyawarah untuk mencapai mufakat (sila keempat) yang mana sikap ini sudah mulai ditinggalkan dengan adanya sistem serba voting. Hal ini penting diperhatikan sekaligus tetap dikritisi agar tidak terjadi apa yang disebut dengan ketidakadilan. Seringkali orang mudah mengatakan kita mengusahakan keadilan, namun nyatanya ketidakadilan yang muncul.

Wartakan kebaikan

Dalam penutup homilinya, Mgr. I. Suharyo mengingatkan hal ini.

“Tidak cukup orang Katolik hanya menjadi human (manusia seutuhnya) tetapi kita tetap diingatkan untuk bisa mewartakan dan mengekspresikan perilaku Kristus dalam kehidupan sehari-hari kita. Hal ini penting diingat oleh umat Katolik sebab Kristus adalah kepenuhan hidup seorang human Katolik juga. Oleh karena itu, kedua hal ini penting supaya manusia Katolik sepenuhnya juga seorang human sekaligus orang Katolik.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here