Kamis 25 Januari 2018: Tahbisan Diakonat untuk 17 Frater Calon Imam di Seminari Tinggi St. Paulus Yogyakarta

0
959 views
Tahbisan diakonat untuk 17 frater calon diakon tanggal 25 Januari 2019.

PADA hari Kamis tanggal 25 Januarri 2018 akan berlangsung misa tahbisan diakonat untuk 17 orang frater calon imam. Para frater calon diakon-imam ini berasal dari berbagai tarekat religius (SJ, Karmelit tak Berkasut, MSF) dan diosesan dari berbagai Keuskupan (KAS, Merauke).

Tahbisan diakonat ini akan berlangsung di Kapel Seminari Tinggi St. Paulus di Kentungan, Yogyakarta, mulai pukul 10.00 WIB.

Tahbisan Diakonat sering disebut sebagai ‘tahbisan kecil’, sebelum akhirnya datang yang namanya ‘tahbisan besar’ yakni Tahbisan Imamat.

Sebelum mendapat ‘tahbisan besar’ untuk resmi menjadi imam (pastor) melalui penerimaan Sakramen Imamat dalam Misa Tahbisan Imamat, maka para frater ini harus terlebih dahulu memperoleh ‘tahbisan kecil’ yakni Tahbisan Diakonat.

Para frater yang sudah menerima Tahbisan Diakonat lalu disebut Diakon.

Masih tersedia cukup waktu setidaknya enam bulan atau lebih –disesuaikan dengan kebutuhan riil– bagi setiap Diakon untuk kembali menimbang-nimbanng diri apakah tetap berkeputusan serius menjadi imam atau tidak sesuai komitmen pribadi dan atas penilaian pihak tarekat atau keuskupan dimana ia menjadi anggotanya.

Tetap terbuka kemungkinan bahwa seorang Diakon akhirnya mengundurkan diri tidak jadi minta ditahbiskan imam atau diminta mundur dari niatnya maju ditahbiskan sebagai imam karena ada ‘halangan’ atau aspek lainnya.

Bila terjadi kasus demikian, maka yang bersangkutan harus mengajukan laikalisasi kepada Vatikan melalui tarekat atau keuskupan agar Diakon yang tidak terus menjadi imam ini bisa ‘direset ulang’ menjadi awam kembali.

  • Kata ‘laikalisasi’ berasal dari kata bahasa Latin “laicus” yang artinya ‘orang biasa’ atau awam non imam (clerus, dalam bahasa Latin).
  • Dari kata Latin laicus inilah muncul kata bahasa Indonesia yakni laikal.
  • Dengan demikian, ‘laikalisasi’ adalah proses hukum untuk menjadi seseorang kembali menjadi ‘awam’.

“Frater”

Sebutan “Frater” atau dulu sering disebut “Romo Muda” menempel pada diri seminaris senior. Yakni mereka  yang telah menyelesaikan studi mereka di seminari menengah dan lalu bergabung masuk ke dalam tarekat religius atau keuskupan tertentu sebagai calon diosesan sesuai pilihan dan minat mereka.

Berikut ini informasi valid yang diterima Redaksi secara hampir bersamaan dari Bapak Uskup Agung KAS Mgr. Robertus Rubiyatmoko dan Vikjen KAS Romo Sukendar  Pr.

Acara tahbisan diakonat di Kapel Seminari Tinggi St. Paulus Yogyakarta untuk 17 frater calon Diakon. (KAS)
Undangan Tahbisan Diakonat dari Rektor Seminari Tinggi St. Paulus Yogyakarta: Romo Matheus Djoko Setyo Prakosa Pr selaku tuan rumah acara misa tahbisan diakonat ini.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here