Mengenang 15 Pastor Misionaris CM dan Pemindahan Makamnya dari Kembang Kuning ke Pohsarang Kediri

0
965 views
Para Imam CM

DARI 15 makam para pastor CM yang dipindahkan dari TPU Kembang Kuning di Surabaya ke Pohsarang di Kediri – Jatim di pertengahan Januari 2018 ini, ada makam Romo van Megen CM dan makam Romo Boonekam CM.

Berikut ini kilas balik catatan kenangan tentang alm. Romo Henricus van Megen CM dan alm. Romo Gerard Boonekam CM.

  • Romo van Megen CM sering dikenal dengan sebutan “vM”.
  • Romo Henricus van Megen atau Romo van Megen (vM) tiba di Surabaya tahun 1925.

Romo van Megen dikenal bersama Romo Wolters dan Romo  Bastiaensen sebagai Rasul-rasul imam CM di Jawa. Itu karena ketiganya belajar bahasa Jawa dan pandai berbahasa Jawa.

Romo  vM konon punya jiwa kepemimpinan yang mumpuni, begitu kesaksian para konfratres CM. Selain postur fisiknya terbilang sangat kuat tapi tak bisa menyanyi, vM juga pintar. Ia juga seorang  pemberani, negosiator yang baik (antara lain dengan banyak membeli tanah di desa-desa untuk keperluan sekolah desa dan gereja).

Ia adalah sosok  pendiri banyak stasi di Blitar dan Kediri (sebelum terjadi Perang Dunia II). Di bawah kepemimpinannya, CM dan Keuskupan Surabaya berani melakukan manuver-manuver pembaruan sangat berani, seperti pendirian dan pembangunan seminari-seminari baik tingkat menengah (di Kepanjen 9, Dinoyo 42, kemudian Garum), maupun seminari tinggi (Rembang, seminari filosofan di Garum), novisiat CM di Blitar dan Garum.

Keputusan segera menjadi vice provinsi (1950) dan akhirnya provinsi (1958) adalah keputusan yg brilyan meski CM dilanda kehancuran dan kekurangan resources.

Pada tahun 1950,  Indonesia  ‘merdeka’ (karena diakui independensinya oleh internasional).

Tahun 1958,  karena pemutusan hubungan diplomatik dengan Belanda yang akan ‘mengancam’ romo-romo misionaris.

Ada semacam visi ke depan yang jauh yang diajukan Romo v Megen.

Romo v Megen  berasal dari Limburg  di kawasan Belanda selatan, punya kerabat beberapa misionaris baik di China maupun tempat lain. Keponakannya adalah  Romo Reintjes CM.

Ia punya latar belakang keluarga katolik dan keluarga misionaris.

Romo  v Megen jarang pulang berlibur ke Belanda. Ia adalah misionaris paling lama berkarya di Keuskupan Surabaya.

Menurut Romo Sjef, alm. vM hampir mati di internir. Kurang gizi. Lalu dicarikan tikus oleh teman-temannya. Dibakar dan dimakan. Dan ia selamat, jarang sakit.

Ia sosok imam misionaris yang setia dan hebat: Henricus van Megen.

Ibadat pemindahan makam 15 imam CM. (Ist)

Rasul di Jawa

Romo vM merasul untuk umat Jawa. Ketika itu, sebelum meletus PD II, umat-umat  dibeda-bedakan menurut kategori bahasa: ada umat berbahasa Belanda,  Jawa, dan Mandarin.

Romo Maasen yang juga dipindah ke Pohsarang ini adalah konfrater yang bertugas melayani umat berbahasa Mandarin.  Ia (Romo Maasen) adalah misionaris di Tiongkok yang dipanggil  ke Indonesia untuk melayani umat berbahasa Mandarin di Surabaya.

Tetapi sesudah Indonesia merdeka, pembedaan umat dalam bahasa tidak ada lagi. Semuanya berbahasa Indonesia, kecuali umat di desa-desa yang masih berbahasa Jawa.

Dituduh mata-mata Jepang

Romo Gerard Boonekamp (GB) CM adalah salah satu tokoh yang paling menderita selama interniran Jepang.

Romo GB ditangkap duluan karena peristiwa dia menyelamatkan tentara Australia yg terluka (musuh Jepang). Akibatnya,  GB mengalami banyak interogasi dan penyiksaan dan penganiayaan yang lebih dari konfraternya.

Ia sempat diadili oleh Jepang. Pemuda mata-mata Australia tadi ditembak mati. GB dijatuhi hukuman berat (kalau tak keliru, hukuman seumur hidup atau ancaman mati). Tapi karena intervensi Mgr. Willekens SJ (satu-satunya orang Belanda yang tak diinternir Jepang), hukuman diubah menjadi 15 tahun.

Salah satu pembelaan GB di pengadilan Jepang itu adalah berikut ini: “Saya tidak menyembunyikan mata-mata. Tetapi saya membalut orang yang terluka parah. Seandainya Anda mengalami yang saya alami, Anda pun akan melakukan yang sama. Kala itu, orang itu tengah membutuh pertolongan.”

Karena paling mendapat banyak penganiayaan, seperti dijemur telanjang dst. … Kesehatan GB ketika ada di interniran nyaris hancur dan tidak pernah kembali pulih.

Ia meninggal karena mengalami serangan jantung saat dalam perjalanan di Jakarta dan kemudian dimakamkan di Bogor lalu dipindah ke Kembang  Kuning di Surabaya. Hari-hari ini, makam beliau dipindahkan ke Pohsarang – Kediri.

GB dikenal sebagai penggiat SSV (Serikat Sosial Vincentian) di Keuskupan Surabaya. Kawan-kawan SSV sering menyebutnya sebagai ‘pendiri’  SSV.

Yang sebenarnya terjadi, SSV sudah ada sejak awal tahun 1920-an. SSV didirikan oleh seorang dosen Universitas Sorbonne di Paris yang bernama F. Ozoanam.

GB tiba di Indo sekitar tahun1937-an.

Keluarga Boonekamp menyumbang tiga orang berdaudara:

  • Gerard B.
  • Niko B (kakak) datang di tahun 1946.
  • Piet B (sepupu) datang dari China.

Terima kasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here