55 Th SMA St. Paulus Pontianak: Sejarah Cikal Bakal (2)

0
226 views
SMA St. Paullus Pontianak kini.

SMU St. Paulus Pontianak didirikan dengan alasan sebuah keprihatinan. Yakni, minat sejumlah orangtua untuk menyekolahkan putera-puterinya ke jenjang yang lebih tinggi setelah lulus Sekolah Menengah Pertama sulit terwujud.

Itu karena sekolah di tahun lima puluhan yang ada di Pontianak  hanya ada satu saja yakni SMU Negeri yang saat ini bernama SMAN I Pontianak.

Dalam buku Tahun-tahun Pertama SMU St. Paulus Pontianak diceritakan sebagai berikut: “Atas persetujuan Pemerintah Daerah (Gubernur) dan Kepala Kantor Departemen P dan K dan atas desakan sejumlah orang tua siswa,  beberapa bruder MTB yakni Br. Emmanuel Compiet MTB, Br. Libertus MTB, Br. Bertrandus MTB, dan Br. Anfridus MTB dan setelah mendapatkan izin instasi tertinggi di Jakarta; mereka lalu mereka mendirikan SMU (Sekolah Menengah Umum).

Sekolah itu diresmikan pada bulan Agustus 1952. Setelah kurang lebih 14 (empat belas) bulan SMU ini kemudian diambil alih oleh pemerintah dan menjadi SMU Negeri I.”

Hanya sebagian kecil siswa/i lulusan Sekolah Menengah Pertama yang dapat diterima di SMU tersebut, karena memang daya tampungnya terbatas.  Sebagian kecil lainnya terutama yang orang tuanya mampu/berada,  melanjutkan pendidikannya di Jawa. Namun masih lebih banyak  siswa-siswi lulusan dari SMP Suster, SMP PGK (Persatuan Guru Katolik) dan SMP Sore yang berkeinginan melanjutkan pendidikannya di SMU tidak terwujud.

Sejak awal kehadirannya di Kalimantan Barat,  Pontianak, dan Singkawang, beberapa  bruder Maria Tidak Bernoda (MTB) tetap memiliki   perhatian yang tinggi  pada usaha mencerdaskan masyarakat melalui pendidikan formal.

Meski sekolah yang pernah dirintis oleh bruder-bruder pendahulu pengelolaannya telah diambil oleh pemerintah, namun melihat bahwa masih banyak tamatan  SMP yang tidak mendapat tempat untuk melanjutkan pendidikannya di SMU, Br. Bernulfus Bosman MTB  dan Br. Bruno MTB merasa prihatin dan  tergerak hatinya untuk tetap membantu mereka memperoleh pendidikan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi.

Kehendak untuk mendirikan SMU baru mereka pikirkan kembali. Pendekatan yang dilakukan kepada Pimpinan Bruder MTB waktu itu dan Pemimpin tertinggi Gereja, dan Uskup Agung Pontianak tidak membuahkan hasil.

Meskipun tidak mendapat dukungan dari petinggi Kongregasi dan petinggi Gereja karena dianggap tidak mampu, namun Br. Bernulfus Bosman MTB dan Br. Bruno MTB tidak patah arang dan tetap menyimpan harapan bahwa pada suatu saat  niat luhurnya akan terwujud.

Untuk  mencari jalan keluar dari masalah tersebut, Br. Bruno MTB mendekati beberapa orangtua murid dan orang-orang yang dianggap mampu mendukung niatnya mendirikan SMU. Dukungan berdatangan antara lain dari Dr. Gandawijaya, Direktur RSU Sungai Djawi – sekarang RS Santo Antonius Pontianak.

Acara hiburan drum band ikut memeriahkan HUT ke-50 SMA St. Paulus Pontianak.
Jalan sehat memeriahkan acara reunian akbar dan hut ke-50 SMA St. Paullus Pontianak.

Langkah awal yang dilakukan oleh Dr. Gandawijaya adalah  membentuk panitia yang akan mengurus berdirinya SMU Katolik. Panitia tersebut berbentuk sebuah Yayasan dengan nama Yayasan Santo Paulus dengan Dr. Gandawijaya sebagai ketuanya.

Yayasan itu berdiri pada tanggal 29 Juni 1963 dengan Akta Notaris Mochamad Damiri No. 46 Th. 1963. Dalam rapat-rapat berikutnya diputuskan bahwa SMU Katolik yang akan didirikannya akan mengambil nama  SMU Santo Paulus dan Br. Bernulfus Bosman MTB sebagai Kepala Sekolah.

SMU Santo Paulus secara resmi dibuka pada tanggal 1 September 1963, menempati ruang kelas di SD Bruder Melati. Jumlah siswa 62 orang. (Buku Tahun-tahun Pertama SMU St. Paulus Pontianak).

Guru inspiratif dan dukungan dari Gubernur

Sabtu malam, acara Reuni Akbar dan Perayaan 55 Tahun SMA St. Paulus Pontianak dilanjutkan dengan ramah tamah serta pentas seni. Meskipun Pontianak waktu idiguyurhujan sejak sore hari, acara tetap berlangsung dengan meriah.

Kenangan Bapak Gubernur Kalbar

Bpk. Sutarmidji S.H, M.Hum baru saja dilantik Presiden di Istana Negara Jakarta menjadi Gubernur Kalimantan Barat periode tahun 2018–2013 tanggal 5 September. Beliau hadir dalam acara ramah tamah bersama alumni.

Panitia menyiapkan tempat di halaman SD Bruder Melati untuk acara ramah tamah, tetapi karena cuaca kurang mendukung maka acara dilangsungkan di aula TK Bruder Melati.

Gubernur yang juga alumnus SMA St. Paulus Pontianak tahun 1981 itu menceritakan kisah suka duka masa sekolah di SMA waktu itu. “Saya di kelas Tiga Sosial, kelas yang paling nakal,” ungkapnya.

Pelajaran PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) adalah pelajaran  yang paling berkesan dan masih terkenang sampai saat ini, pelajaran ini yang menuntunnya kepada minatnya di bidang politik.

“Guru yang mengampu pelajaran PPKn sering mengadakan diskusi tentang pemerintahan, saya menjadi tertarik dengan dunia politik seperti sekarang ini,” kenangnya.

Sebagai wujud dukungan kepada dunia pendidikan khususnya SMU St. Paulus Pontianak, gubernur mendonasikan sejumlah dana: “Saya mendonasikan dana sebesar Rp 55 juta untuk membantu acara ini,” ungkapnya.

Acara dilanjutkan dengan meniup lilin dan memotong kue ulang tahun serta menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun bersama hadirin.

Menanggapi keseluruhan acara Reuni Akbar dan Perayaan 55 Tahun SMA St. Paulus, Kepala Sekolah menyatakan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah berpartisipasi terselenggaranya keseluruhan acara dari awal sampai akhir, terutama kepada  Bpk. Gubernur Kalimantan Barat, Ibu Walikota Singkawang, serta panitia yang telah bekerja keras mempersiapkannya dengan sangat baik.

50 Th SMA St. Paulus Pontianak: Gelaran Reuni Akbar Bertema “Lintas Generasi Meraih Prestasi”  (1)

Terima kasih juga disampaikan kepada para alumni semua dan Yayasan yang mendukung semua kegiatan  sehingga acara dapat berjalan dengan lancar,  aman dan mengesankan.

Diungkapkan juga semua ini menjadi pendorong pihak sekolah, kepala sekolah, guru dan seluruh karyawan sekolah untuk lebih tekun dan giat dalam menjalankan tugasnya.

“Ini bentuk perhatian yang besar  terhadap dunia pendidikan, ini juga membuktikan  bahwa pendidikan merupakan tanggungjawab bersama, pemerintah, masyarakat dan pengelola,” pungkasnya.

Pontianak, 11 September 2018

Br. B. Sukasta MTB

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here