70 Hari di Rumah Khalwat Roncalli: Sejarah Spiritualitas, Aksi dan Kontemplasi (5)

0
466 views
Tradisi Monastik (Ist)

Senin, 10-12 Oktober 2016

SETIAP Senin, mulai hari ini ada Kelompok Doa Komunitas. Kami secara kelompok kecil mendoakan Ibadat Pagi bersama, di tempat yang berbeda-beda, ada yang di kapel, di ruang doa, di ruang sakristi, atau juga di alam terbuka pada pkl. 05.30. Bersama kelompok,  saya berdoa di ruang samadi, di depan ruang makan.

Mulai hari ini, selama dua hari kami mendapat materi Spiritualitas Doa dan hari ketiga dengan materi Aksi dan Kontemplasi. Materi ini diberikan oleh Sr. Yovani Ismail, PI.

Baca juga:  70 Hari di Rumah Khalwat Roncalli: Yoga, Silentium, dan Tulis Surat kepada Tuhan (4)

Spiritualitas doa

Yang dimaksud dengan Spiritualitas Doa adalah cara memaknai doa sebagai upaya menjernihkan, menyucikan, menyuburkan, dan mewujudkan harapan di pendoa. Dalam arti itu, maka berdoa menjadi jalan mengutuhkan kemanusiaan kita, menjadikan kita makhluk rohani, jernih, transparan, menyatu dengan roh semesta, Roh Allah.

Perspektif ini mengingatkan kita pada ucapan DR. Lauren Artress (Uskup dan Piorir Labirin): “Kita bukan manusia yang sedang menempuh jalan spiritual, melainkan makhluk spiritual yang sedang menempuh jalan manusia.”

 Ada lima buah tradisi doa, antara lain:

  1. Tradisi Padang Gurun

Padang gurun adalah tempat yang berharga bagi Allah, meskipun tempat yang keras bagi manusia. Dalam keheningan padang gurun, tumbuh bentuk hidup kontemplatif, dengan ciri khasnya yaitu askesis dan belajar hidup dalam Roh dengan melatih ketrampilan pembedaan Roh.

Padang gurun dianggap sebagai tempat pemurnian, pengenalan, dan penguasaan diri, perjuanagan dan kemenangan. Perjuangan di padang gurun melahirkan manusia rohani yang dewasa, artinya mampu membedakan roh. Doa yang dilatih di padang gurun ialah doa sederhana, singkat, dan menjaga keheningan jiwa.

Sepi dan kering kerontang adalah pemandangan sangat khas di padang Gurun Sinai, Mesir. (Mathias Hariyadi)

Dalam tradisi ini, doa dikutip dari Kitab Suci dan diulang-ulang sepanjanga hari. Dengan mengucapkan Sabda itu, kita menjaga keheningan dan membiarkan diri dimurnikan oleh Sabda Allah.

  1. Tradisi Gereja “Timur”

Tradisi ini merupakan kelanjutan dari Tradisi Padang Gurun, dengan ciri khasnya yang menekankan bahwa Allah sungguh tak terselami. Pengetahuan tentang Allah harus diperoleh melalui proses ketidaktahuan. Dengan mengakui bahwa tidak tahu akan Allah, manusia akan mendapatkan rahmat pengetahuan tentang Allah.

“Doa Yesus” merupakan tema sentral dalam spiritualitas Gereja Timur dan sarana untuk kontemplasi. Awalnya doa ini merupakan doa hati yang berpusat pada inkarnasi Yesus dengan mengucapkan nama-Nya. Selanjutnya, doa ini berkembang dengan pengaturan nafas sebagi teknik doa.

Tujuannya ialah mengalami proses pengilahian, ikut ambil bagian dalam hidup mulia Allah. “Berdoalah setiap  waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang kudus.

Gereja Abu Serga di Kairo Kuno, Mesir. (Mathias Hariyadi)
  1. Tradisi Monastik

Tradisi ini berkembang dalam Gereja Barat merupakan perkembangan dari Tradisi Padang Gurun.

St. Benediktus sebagai perintis tradisi ini menekankan opus Dei = memuji Allah. Ofisi (doa ibadat harian) merupakan pusat kegiatan doa sebagai pujian kepada Allah Pencipta.

Dalam Tradisi Monastik, berdoa dilakukan menurut siklus waktu dan jam-jam tertentu secara bersama. Dari tradisi ini lahirlah doa Ibadat Harian seperti yang dimiliki Gereja saat ini. Bahan doanya terutama menyanyikan Mazmur dan membaca Kitab Suci.

Kontemplasi dalam tradisi ini bertarti membaca dan mendengarkan Sabda Allah, kemudian mengulangi sabda-sabda sepanjang hari. Dari tradisi doa ini muncullah cara berdoa terkenal yang disebut Lectio Divina. Inilah cara berdoa dengan mengunyah Sabda Allah terus-menerus, berulang-ulang, agar meresap dan menjadi bagian hidup manusia. Liturgi harian dan misa kudus merupakan saat kontemplasi untuk memuji Allah sebagai Pencipta dan sumber hidup.

  1. Tradisi Abad XVI

Pada abad ini muncul dua tradisi besar dalam hidup rohani, yaitu Tradisi Jesuit (Ignatius Loyola)  dan Tradisi Karmelit Teresa dari Yesus dan Yohanes dari Salib.

St. Ignatius de Loyola

Dari tradisi Ignatian muncul suatu pedagogi doa, yang terkenal sebagai Latihan Rohani. Dengan memelajari Latihan Rohani,  kita diajak untuk membebaskan diri dari segala kelekatan tak teratur, peka akan gerak Roh Allah, sehingga mampu menemukan Allah dalam segala sesuatu.  Bagi St. Ignatius, kontemplasi lebih merupakan doa untuk menghayati cinta dalam perbuatan.

Tradisi Karmel bergerak dalam pembaharuan hidup kontemplatif demi kerasulan, sedangkan tradisi Yesuit bergerak langsung pada hidup kerasulan.

Kedua aliran ini mempunyai pandangan yang sama yakni bahwa kesempurnaan hidup hanya dialami dalam konfirmasi kehendak manusia dan kehendak Allah.

Dalam tradisi St. Teresa dari Yesus dan St. Yohanes dari Salib, ditekankan pula kesatuan doa dan tindakan. Dalam tradisi ini dikenal suatu jalan untuk perkembangan hidup rohani, yaitu jalan menuju kepenuhan cinta yang ditempuh melalui malam jiwa. Malam jiwa merupakan simbol perjalanan manusia menuju kepada Allah.

Doa kontemplatif bagi St. Yohanes dari Salib ialah doa dalam kesatuan penuh penyerahan kepada Allah. Doa kontemplatif merupakan doa yang sudah dicapai oleh orang yang telah mengalami preses malam jiwa.

  1. Tradisi Karismatik

Gerakan ini sudah ada sejak zaman para rasul dan sepanjang sejarah Gereja. Pada pokoknya,  gerakan ini membangun suatu hidup persekutuan, sebagai buah dari kegiatan Roh Kudus.

Roh Kudus merupakan motivator doa mereka yang terungkap dalam seluruh doa mereka berupa doa syukur dan pujian. Mereka memohon, agar kehadiran Roh Kudus menjadi nyata dalam hidup, yakni hidup persekutuan.

Inti dari tradisi ini adalah kepenuhan Roh, kepenuhan Injil yang akan membawa perubahan hidup bukan hanya dalam diri sendiri, tetapi juga dalam persekutuan. Tentu saja dalam setiap gerakan rohani selalu ada kemungkinan penyimpangan, demikian pula dalam tradisi ini.

Sebagai dasar untuk menguji, apakah mereka tetap berada dalam semangat awal, ialah dengan melihat, apakah persekutuan dan cinta tumbuh dan berkembang dalam doa mereka.

Perjalanan Emmaus

Siang hari pada pertemuan kedua, ada acara Emmaus. Saya ‘ber Emaus’ dengan Br. Lukas, OFMCap, yang duduknya sebangku dengan saya.

Ia menceritakan betapa padat hari-harinya sebagai pendamping/pemberi retret. Sudah 16 tahun dia bertugas di rumah retret di Nagahuta, Sumatera Utara. Kesibukannya itu sering membuatnya tidak punya waktu pribadi untuk berdoa atau berdiam diri di hadapan Tuhan. Kerap dia kagum bila melihat para suster dapat bertahan duduk diam dalam waktu lama ketika meditasi.

Tahun ini dia mengambil Tahun Sabat, lalu dia mengikuti kursus medior ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here