70 Th Karya Misi OSA di Indonesia: Para Suster OSA Turne ke Pedalaman Paroki Nanga Mahap, Keuskupan Sanggau

0
198 views
Dalam rangka 70 tahun peringatan Misi Kongregasi OSA di Indonesia, sejumlah suster OSA datang mewartakan kerahiman Allah di sejumlah wilayah pedalaman di Paroki Nanga Mahap. (Ist)


KALI ini, di pertengahan bulan April 2019 lalu, segenap umat Katolik di Paroki Nanga Mahap dan sekitarnya telah sukses merayakan rangkaian perayaan liturgis Trihari Suci hingga Paskah hari pertama bersama para suster OSA.

Para suster OSA dari berbagai wilayah ini sengaja datang mengunjungi Umat Katolik di Paroki Nanga Mahap di Keuskupan Sanggau dalam rangka misi memperingati 70 tahun misi Kongregasi Suster St. Augustinus dari Kerahiman Allah (OSA) di Indonesia.

Nanga Mahap itu sendiri posisinya sudah di pedalaman. Karena butuh waktu kurang lebih selama tiga jam dari “pusat kota” Sanggau. Padahal, untuk mencapai Sanggau dari Ibukota Provinsi Pontianak, perjalanan membutuhkan waktu tidak kurang 4-5 jam perjalanan dengan kendaraan roda empat.

Pergi berdua-dua

Selama kegiatan tersebut, para suster OSA dari beberapa komunitas St. Augustinessen –kadang kala tarekat kami disebut demikian– diutus pergi berdua–dua untuk melayani umat di pedalaman.

Diutus pergi berdua-dua untuk mengunjungi kampung-kampung dalam turne simultan dalam rangka mewartakan kerahiman Allah di wilayah Paroki Nanga Mahap, Keuskupan Sanggau, Kalbar.

Demikianlah peristiwanya hingga selama kurang lebih empat hari empat malam, kami berjalan ke sana-sini, juga harus rela tidur berpindah pindah dari satu kampung ke kampung lainnya.

Inilah pengalaman turne para suster OSA ke wilayah pedalaman Keuskupan Sanggau, Kalbar.

Wartakan kerahiman Allah

Kami datang ke berbagai lokasi itu untuk mewartakan Kerahiman Allah ke segenap Umat Katolik yang kami jumpai.

Dalam perjalanan turne itu, setiap suster OSA yang bergabung dalam “misi kerahiman Allah” ini mengalami dan merasakan sukacita. Itu terjadi, ketika kami berada bersama umat di kawasan pedalaman.

Diana, seorang OMK lokal, bergejolak hati ketika akhirnya sekarang ini bisa merasakan beceknya jalan, melakoni hari-hari gelap gulita di mana pasokan listrik di kawasan pedalaman itu serba terbatas, tidak tersedia sinyal HP.

Hal sama juga dialami Noya.

Hidup “terasing” dari peradaban itu sesekali menjadi momen sangat indah. Bebas dari serbuan komunikasi melalui HP.

Tentu pengalaman itu menjadi menarik bagi kedua OMK tersebut yang selama ini belum banyak banyak mengalami peristiwa A-to-Z selama melakukan turne ke pedalaman. Itu antara lain pengalaman harus rela tidur berpindah-pindah dari satu kampung ke kampung yang lain.

Ini hidup seperti layaknya para pengembara, ibaratnya begitu.

Pada hari Minggu sore, kami semua diharapkan sudah tiba kembali sampai di Komunitas OSA di Nanga Mahap. Itu karena pada hari Senin pagi akan berlangsung kegiatan bersama umat di pusat paroki.

Ada pun kegiatan tersebut antara lain berupa aneka kegiatan antara lain:

  • Pemeriksaan kesehatan untuk umat di Nanga Mahap sekitarnya.
  • Seminar bersama umat dalam konteks upaya memperkenalkan sejarah OSA.
  • Pendampingan untuk kaum muda.
  • Kelompok bina iman untuk anak-anak Sekami.

Di malam hari, kegiatan bersama berupa Misa paskah bersama umat di pusat paroki.

Di situ tampillah Sr. Pricilla OSA, anggota Dewan Konggregasi OSA yang membeberkan misi pewartaaan kerahiman Allah kepada segenap umat di wilayah Paroki Nanga Mahap.

Senangnya bisa bertemu dengan segenap OMK di wilayah Paroki Nanga Mahap. (Ist)

Panggilan hidup bakti

Misi pewartaan akan kerahiman Allah di Nanga Mahap ini merupakan ungkapan terimakasih para suster OSA kepada umat di sini. Mengapa demikian?

Ini karena dari Nanga Mahap ini setiap tahun selalu saja ada calon suster OSA datang melamar masuk menjadi anggota Kongregasi Suster OSA. Hal sama juga terjadi di wilayah Sekadau.

Panggilan menjadi religius memang subur di tempat ini. Barangkali juga karena di Keuskupan Sanggau ini setiap tahun selalu berlangsung kegiatan karena Retret Tahunan Bersama.

Pada kesempatan itulah, seluruh pemimpin umat di setiap stasi datang ke “pusat kota” untuk melakukan retret bersama.

Kami pun juga mengalami getaran frekuensi yang sama. Berjumpa dengan segenap OMK di pedalaman adalah pengalaman yang menggairahkan. Terutama ketika muncul banyak pertanyaan dari adik-adik remaja tentang bagaimana persisnya kami bisa menjalani hidup bakti sebagai religius.

Semoga kisah-kisah itu menjadi awal mula munculnya motivasi baru di antara kaum muda di pelosok Paroki Nanga Mahap untuk mengikuti jejak kami: menjadi suster religius, apa pun tarekat yang ingin mereka pilih nantinya.

Akhirnya kami hanya bisa berharap agar kehadiran para suster OSA yang pekan-pekan lalu telah bermisi di Nanga Mahap itu nanti di kemudian hari bisa membuahkan “hasil berlimpah”. 

Intinya, doa kami hanya satu agar kesaksian dan pengalaman hidup para suster OSA itu mampu memantik nyala api di kalangan OMK untuk mau berserah diri kepada Tuhan melalui Gereja-Nya dengan menjadi imam, bruder, dan suster.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here