70 Th Misi Kongregasi Suster St. Augustinus dari Kerahiman Allah: Parade Doa Rosario Kenang Spirit Misionaris OSA (1)

0
145 views
Parade kota Ketapang sembari mendaraskan Doa Rosario dalam rangka perayaan 70 tahun karya misi Suster OSA di Indonesia. (Mathias Hariyadi)

PANAS terik matahari yang membakar tanah Ketapang di Kalbar tak sampai menyurutkan orang ikut berparade sembari mendaraskan Doa Rosario keliling kota.

Jumat tanggal 9 Agustus 2019, keramaian telah mengisi setiap sudut halaman Augustinian Spiritual Center (ASC). Di halaman samping persis di depan pintu ASC sudah berkerumun ratusan orang.

Puluhan anggota Kongregasi Suster St. Augustinus dari Kerahiman Allah atau biasa disebut Suster OSA, tua-muda, mengisi sayap kiri persis di depan Gua Maria. Sementara, ratusan murid SMP Santo Augustinus Ketapang plus ratusan murid lainnya dari SMA-SMK St. Petrus Ketapang memenuhi semua sudut di sayap kanan.

Pemimpin Umum Kongregasi Suster St. Augustinus dari Kerahiman Allah (OSA) Sr. Lucia Wahyu dan perwakilan OSA Negeri Belanda Sr. Dionne Appelman menyalakan 70 buah lilin tanda peringatan 70 tahun karya misi OSA di Indonesia. (Mathias Hariyadi)
Pintu depan Augustinian Spiritual Center (ASC) sedikit bersolek untuk menyambut hangat para tamu. (Mathias Hariyadi)

Rimbunan pohon beringin menjadi naungan istimewa bagi kerumunan orang yang tidak ingin kejatuhan terik panas matahari.

Di ujung depan tengah, sebuah mobil pick-up sudah parker mengisi ruang utama yang menjadi akses utama menuju halaman depan Gua Maria. Di bagian belakang minivan ini bertengger dua patung yakni Yesus dan Santo Augustinus.

Kedua patung ini akan diarak dalam sebuah kegiatan parade keliling kota Ketapang. Sembari berparade, semua rombongan peserta sudah membawa bersama mereka untaian tasbih untuk mendaraskan Doa Rosario.

Para suster OSA ikut berparade keliling kota Ketapang sembari berdoa Rosario. (Mathias Hariyadi)

Parade itu sendiri berupa kegiatan jalan kaki melintasi beberapa sudut kota –sejauh sekitaran 1,5 km—sembari berdoa Rosario di bawah tatapan banyak orang.

Para murid sekolah asuhan para suster OSA plus puluhan suster biarawati OSA bergabung dalam barisan parade doa Rosario ini. Juga para imam OSA yang datang secara khusus dari Cebu, Filipina.

Suster Dionne Appelman (79) yang pernah berkarya di Ketapang kurun waktu tahun 1979-2003 menyediakan diri datang dari Nederland bersama Myriam untuk mengikuti prosesi ini. Juga ikut hadir dan bergabung dalam barisan adalah Pastor Jan Pieter Fatem OSA –Pemimpin Ordo Imam OSA Indonesia—yang berbasis di Sorong, Papua Barat.

Merayakan spirit tahan banting

Lalu mengapa parade keliling kota sembari berdoa Rosario di tengah tempaan terik matahari itu tetap dilakukan?

Tiada lain untuk mengenang spirit kelima suster misionaris OSA yang di akhir tahun 1949 memulai karya monumental mereka di Ketapang.

Ke-5 suster perintis karya misi OSA di Indonesia –tepatnya di Ketapang—ini adalah Sr. Euphrasia Laan OSA, Sr. Mathea Bakker OSA, Sr. Maria Paolo Admiraal OSA, Sr. Prudentia OSA, dan Sr. Desideria OSA.

Kelima suster muda OSA itu dengan antusiasme tinggi rela meninggalkan Nederland untuk pergi ke “Tanah Misi” yakni Nederland-Indië yang waktu itu sungguh tak mereka pahami apa dan bagaimana “wajah” Indonesia dan terutama Ketapang.

Mereka sungguh sadar diri dan tahu, sekali berangkat ke Tanah Misi, maka kemungkinan besar mereka takkan bisa kembali lagi pulang “mudik” ke Nederland. Entah karena sakit terkena virus penyakit khas wilayah tropis –malaria dan tifus—atau mengalami kecelakaan atau masalah lain.

Tapi ya itulah cinta besar kepada Gereja melalui Kongregasi OSA dan semangat muda ingin menjadi misionaris yang akhirnya membawa mereka datang tiba di Ketapang di akhir tahun 1949.

Lima suster muda Kongregasi St. Augustinus dari Kerahiman Allah (OSA) yang menjadi misionaris pertama OSA ke Ketapang, Kalbar, mulai tahun 1949. (Dok. OSA Ketapang)

Hanya berbekal berkat Tuhan

Mereka datang dengan bekal “berkat” Allah, demikian pernyataan Sr. Euphrasia Laan OSA dalam sebuah wawancara di Negeri Belanda tahun 2005 silam.

Kelima suster perintis karya misi Kongregasi OSA ke Indonesia ini sudah lama meninggal dunia. Kisah-kisah heroik mereka dan utamanya spirit mereka untuk berkarya dengan semangat “tahan banting” itulah yang di hari Jumat yang sangat panas itu ingin diperingati kembali.

Kali ini, para suster OSA generasi zaman now, umat Katolik Ketapang dan ratusan murid sekolah menengah didikan para suster OSA merayakannya dengan parade berkeliling kota sembari berdoa Rosario.

Sungguh, terik panas matahari yang membakar kulit tak jadi halangan. Utamanya, ketika para suster OSA zaman now ini ingin mengenang karya besar yang telah dirintis oleh kelima suster misionaris OSA di Ketapang. (Berlanjut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here