85 Th Soeurs de Notre Dame (SND), Memulai Novisiat di Pekalongan (3)

0
138 views
Para Suster SND di Biara Induk Pekalongan.

PADA tanggal 15 Agustus 1953, Sr. Maria Xavera SND memulai program pendidikan dasar menjadi calon religius SND dengan membuka Novisiat dan beliau menjadi pemimpinnya yang pertama.

Postulan pertama yang masuk adalah Bidan Rosalia Kasminah (Sr. Maria Gaudensia SND) dan Yulia Oey (Sr. Maria Marga SND).

Tanggal 22 Agustus 1953 pada waktu menerima Postulan “Yulia Oey” yang kemudian menjadi Sr. Maria Marga SND, Mgr. Schoemaker dalam homiliNya mengatakan demikian:

“Dua orang pemudi telah mengetuk Biaramu. Semua orang yang hidup, mau meneruskan hidupnya, orangtua dalam keluarganya, para religius dalam keluarga  biaranya. Pada ‘pohon’ Kongregasimu, kuncup-kuncup baru bermunculan. Ini menyebabkan kegembiraanmu dengan semboyan ‘Untuk Kemuliaan Tuhan dan Keselamatan Jiwa-Jiwa’“. 

Sejak itu, banyak remaja puteri menyatakan diri berminat menjadi calon suster SND dan jumlahnya bertambah terus. Hampir setiap tahun, selalu ada dua atau lebih calon suster yang masuk Postulat dan kemudian Novisiat.

Setelah Perang Dunia II dan Perang Asia Timur Raya usai, para suster bisa kembali di tempat  kerja. Namun, terjadi kendala serius, karena pengelolaan RS Kraton Pekalongan sudah diambil  alih oleh Pemerintah Daerah.

Pada  tanggal 11 Agustus 1954, Rumah Sakit “Kraton” resmi diambil alih oleh Pemerintah Kotamadya dan kemudian dihibahkan kepada Pemerintah Kabupaten Pekalongan sampai sekarang.

Kenangan akan para suster misionaris OSA generasi pertama yang datang melayani Indonesia.

Perkembangan selanjutnya menjadi berikut ini:

  • Para Suster Ordo Ursulin (OSU) memutuskan meninggalkan karya mereka di Pekalongan  dan kemudian memberikan Biara St. Yosef di Jl. Diponegoro serta komplek Sekolah Pius di Jl. Progo untuk kemudian bisa bisa dikelola oleh para suster SND.
  • Para suster SND mencari  terobosan  baru  dan  berusaha  keras untuk  dapat melanjutkan  karya kesehatan.  
  • Pada tanggal 22 Mei 1956 resmi berdirilah Yayasan St. Maria dengan akte dari Mr. Tan Eng Kiam SH, seorang notaris dari Bandung.
  • Pengambilalihan Rumah Sakit “Kraton” itu telah membangkitkan gagasan baru. Yakni, bagaimana SND bisa melestarikan karya kesehatan, mengembangkan, dan meningkatkan mutu pelayanan yang sudah dikenal  masyarakat umum.
  • Titik terang itu muncul dan peluang itu terbuka, ketika Sr. Maria Wienand SND, Provinsial SND di Indonesia saat itu, memutuskan mulai membangun Rumah Bersalin “Budi Rahayu” di Kompleks Susteran Jl. Barito No. 5, Pekalongan. RSB “Budi Rahayu” ini diresmikan tanggal 12 September 1966.

Bersemangatkan warisan rohani Santa Julia Billiart, Pendiri dan Co-pendiri SND Coesfeld yakni Aldegonda Wolbring (Sr. Maria  Aloysia) dan Elizabeth Kuhling (Sr. Maria Ignatia) yang ingin mewartakan kebaikan  Tuhan; terutama kepada mereka yang miskin, lemah, terlantar dan perhatian  khusus pada yatim piatu, maka  SND Provinsi Indonesia senantiasa melaju  bersampan kasih  dalam mengembangkan  karya  pelayanan.

Kini, keberadaan para Suster SND sudah ada di 11 Keuskupan: Jawa, Timor, Kalimantan (Banjarmasin dan Palangkaraya), Sumatera, Papua (Merauke) dan Keuskupan Hiro di Kepulauan Guimaras, Filipina.

Pelbagai karya pelayanan kami lakukan di berbagai bidang kerasulan yakni:

Panti Asuhan yakni:

  1. Wisma Cinta Sesama Marganingsih di Jl. Raya Lasem No 78 untuk Panti Putra.
  2. Wisma Cinta Sesama Marganingsih di Jl. Raya Lasem No 105 untuk Panti Putri.

Karya pendidikan yang kami ampu adalah:

  1. TK St Yosef, SD-SMP Pius Pekalongan.
  2. TK–SMP di Purbalingga.
  3. SMP St. Aloysius dan SMU St. Mikhael di Mlati, Warak, Sleman DIY.
  4. TK, SD, SMP, SMU Notre Dame di Perumahan Puri Indah, Jakarta Barat.
  5. TK Perwita Asih di Tawangmangu,
  6. TK-SD Notre Dame di Grand  Wisata, Bekasi.

Karya  Kesehatan yang kami kelola adalah:

  1. RS Budi Rahayu di Pekalongan.
  2. Klinik Pratama di Rembang, Sukorejo, dan Danaraja Banjar Negara.
  3. Rumah Retret di Tawangmangu.

Aneka karya sosial dan katekese lainnya.

170 tahun Kongregasi

Pada tahun 2.000 dalam rangka 150 Tahun Kongregasi, SND Provinsi Indonesia membuka misi di Pulau Guimaras, Filipina, untuk melayani sebagian besar anak-anak nelayan miskin dalam  karya pendidikan. 

Berkat penyelenggaran Tuhan. Kongregasi juga membangun rumah untuk transit sebelum menyeberang ke Guimaras dan sekaligus untuk rumah pembinaan.

Rumah dan biara SND pernah terkena musibah banjir besar yang melanda Kota Ilo-Ilo di Filipina. Namun beberapa waktu kemudian, kami bisa mendapatkan tanah lebih luas, rumah berhasil direnovasi  dan  pernah  digunakan menjadi tempat  pembinaan bag International  Postulant untuk kawasan Asia Timur.

Menyimak dan menatap sejarah Kongregasi SND masa silam, maka para Suster SND masa kini sudah dan selalu tanpa henti ditantang menjadi “Kantong  Kulit  Baru” yang hidup dalam  semangat  Yesus  Sang  Anggur  Baru.

Yakni, semangat setia dan taat melaksanakan pengutusan Kongregasi, Provinsi, sebagai sarana pelaksanaan pengutusan Bapa melalui  Gereja  dan  Kongregasi untuk menyelamatkan jiwa-jiwa.

Sejarah telah dilalui dan tetap berlangsung hingga kini; juga masih selalu diukir dengan  ketekunan dan kesetiaan oleh generasi penerus.

Tahun  ini, tepatnya 21 November 2019, menjadi awal tahun syukur yang akan mencapai  puncaknya pada  tanggal 1 Oktober 2020 mendatang, ketika Kongregasi SND Internasional akan merayakan 170 tahun keberadaannya di dunia.

Semoga  dengan  menghidupi  kharisma  dan  semangat Sang Ibu Rohani St. Julia Billiart dan Sr. Maria Aloysia dan Sr. Maria Ignasia selaku Pendiri dan Co-Pendiri Kongregasi Soeurs de Notre Dame, maka para suster SND senantiasa mewartakan  Kebaikan  Tuhan  dan  penyelenggaraan  cinta  kasih-Nya. Amin.

PS: Diolah dari berbagai sumber “Buku Sejarah Kongregasi”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here