Allah, Dimanakah Engkau Saat Kami MembutuhkanMu?

0
2,898 views

SALAH satu masalah sosial paling marak sekarang di Guam ialah perceraian.

Saya kenal satu keluarga dimana suami dan isteri tidak ada lagi titik temu. Mereka sudah tinggal terpisah. Suami tinggal di apartemen, tetapi isteri dan puteri semata wayang yang berumur sekitar 10 tahun tinggal di rumah.

Kecemasan saya ialah kalau mereka akan menambah jumlah deretan keluarga yang bercerai.

Saya selalu mengingat keluarga ini dalam doa. Kiranya Allah jangan membiarkan keinginan luhur setiap insan untuk tetap bersatu, sia-sia.

Kemarin, sang isteri menelepon saya dan mengatakan bahwa keluarganya sekarang sudah jauh lebih baik. Dia lebih lanjut mengatakan bahwa puterinya itulah yang menyatukan mereka. Memang sang ibu ini dalam frustrasinya pernah mengatakan kepada suaminya, “Kamu boleh membenci saya, namun jangan benci anakmu. Kamu boleh melupakan saya, namun ingatlah anakmu ini. Dan kalau kamu meninggalkan saya, itu hakmu tetapi jangan tinggalkan anakmu”

Pada saat natal, Lola menelepon ayahnya dan mengajaknya ke Gereja. Selama ini si ayah tidak pernah menginjakkan kakinya ke sana. Walau berat, ia menyanggupi permintaan khusus puterinya. Malam penuh damai, sang puteri yang cantik ini membawakan puisi rohani yang berjudul Allah di mana Engkau ketika kami membutuhkanMu.” Puisi itu dikemas dengan sangat baik dan terutama berangkat dari kisah nyata yang terjadi dalam keluarganya.

Dalam puisi itu juga dituturkan bahwa bertaburan sudah harapan diungkapkan, jutaan doa sudah melambung, konsultasi kepada pastor pun tidak ketinggalan, namun semuanya bagaikan sebatas ungkapan saja. Allah nampaknya tidak bergeming. Maka dalam puisinya si puteri sering mengulang, Allah di mana Engkau saat kami membutuhkanMu.

Mendengar puisi puterinya, sang ayah terharu dan tidak terasa air matanya mengalir. Hatinya sangat tersentuh terutama ketika puterinya dalam puisnya berseru, “Allah di manakah Engkau ketika kami membutuhkanMu.” Allah telah menjawab seruannya.

Puisi itu sendiri adalah doa yang sangat dahsyat karena terucap dari hati yang tulus. Allah telah mengetok kedua hati orang tuanya untuk dengan rendah hati mau melihat apa yang terbaik dan mengorbankan ego masing-masing. Tahukah anda siapa yang menulis puisi itu?

Memang perjuangan keluarga ini belum selesai. Itu hanya titik permulaan, tetapi yang jelas mereka telah berhasil mengatasi riak-riak. Kita berharap dan berdoa, ketika mereka berdua (suami dan isteri) telah mampu mempertautkan hati, ombak dan badai sekali pun mampu mereka halau.

Saudara-saudari terkasih, berangkat dari pengalaman hidup, kita sering juga bertanya, Allah di manakah Engkau saat kami membutuhkanMu.

Allah hanya sejauh doa dan Dia akan datang tepat waktu. Dia akan menjawab doamu saat yang tepat. Allah tidak pernah terlambat karena Dia mengetahui isi hatimu. Dia mengenalmu jauh lebih dalam daripada engkau sendiri mengenal dirimu. Just, be patient, bersabarlah dan kamu akan menikmati buah kesabaranmu… Semoga.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here