Alone, but not Lonely: Ziarah ke Biara Pusat Benediktin di Monte Cassino, Lazio, Roma

0
317 views
Biara Pusat Ordo Benediktin di Monte Cassino, Frosinone, Lazio-Roma. (Valentinus Robi Lesak)


MASIH mungkinkah kita bisa berbicara tentang keheningan di tengah situasi dunia sekarang ini?

Mungkin pertanyaan ini terlalu dini untuk disampaikan. Akan tetapi, justru inilah pertanyaan yang pertama kali muncul, ketika saya datang mengunjungi Biara Pusat Ordo Benediktin yang terletak di Monte Cassino, Frosinone, Lazio-Roma.

Abad ke-5

Sebagaimana kita ketahui bahwa ordo religius ini didirikan oleh Santo Benediktus dari Nursia pada sekitar tahun 529.

Ia lahir pada tahun 480 di Nursia, Italia Tengah, dan meninggal pada tahun 550 di Monte Cassino. Pada tahun 1944, ketika Perang Dunia II berkecamuk, Biara Induk Monte Cassino hancur dan baru dibangun kembali setelah perang usai.

Santo Benediktus – Pelindung Eropa.

Relikui dari Santo Benediktus dan Santa Skolastika ditemukan kembali pada tahun 1950 di bawah reruntuhan altar Gereja Monte Cassino yang telah hancur pada masa Perang Dunia II.

Kisah Benediktus

Benediktus muda dikirim ke Roma untuk melanjutkan pendidikannya. Situasi di Roma yang waktu itu masih sangat kental dengan corak duniawi, penuh dengan bangsa-bangsa pemuja dewa pagan (kafir), sama sekali tidak sesuai dengan keinginan hatinya.

Karenanya, ia lalu meninggalkan Kota Roma. Dan untuk sementara waktu, ia tinggal di Enfide; sekitar 40 mil barat daya dari Kota Roma bersama sekelompok orang Kristiani saleh sambil terus melanjutkan studi dan praktik askesenya.

Setelahnya, ia meninggalkan Enfide dan hidup menyendiri jauh dari kehidupan keramaian kota.

Dalam pencarian akan kesunyian yang total, Benediktus mulai mendaki lebih jauh lagi ke antara bukit-bukit hingga akhirnya ia mencapai sebuah tempat yang disebut Subiaco, sekitar 50 mil sebelah timur Kota Roma.

Di tempat yang berbatu cadas ini ia bertemu dengan seorang rahib yang bernama Romanus. Kepada rahib ini, Benediktus menjelaskan maksud hatinya untuk hidup sebagai seorang eremit atau pertapa.

Benediktus disebut sebagai Bapak Monastik Barat dan dinyatakan sebagai Santo Pelindung Eropa oleh Paus Paulus VI pada tahun 1964.

Keheningan: permata yang berharga

Kurang lebih tiga jam lamanya, saya bersama dengan beberapa konfrater “berlanglang buana” di kompleks Biara Benediktin.

Di tempat ini, kami melihat secara langsung kuburan Santo Benediktus dan saudarinya Santa Skoslastika yang terletak di dalam Basilika Santo Benediktus.

Kami mengunjungi cripta dari Santo Benediktus (tempat di mana tubuh dari Santo Benediktus diletakkan).

Cripta dari Santo Benediktus – tempat di mana tubuh dari Santo Benediktus diletakkan.

Kami pun bertatapan dan berkomunikasi langsung dengan beberapa anggota Benediktin yang tinggal di tempat tersebut. Dan masih banyak hal lainnya. Tentu saja, waktu tiga jam sama sekali tidak cukup untuk mengenal dan mengetahui secara detil tentang segala hal yang mengagumkan yang termaktub di tempat tersebut.

Sunyi, tenang, hening dan bening itulah suasana utama dari tempat ini.

Sebuah situasi yang benar-benar menampilkan kekhasannya sebagai tempat pertapaan.

Yang terdengar hanya kicauan burung yang terus berkidung merdu menyapa setiap orang yang datang. Sekalipun ada begitu banyak peziarah yang datang, namun keheningannya tetap terjamin.

Sesekali juga terdengar dentangan lonceng dari Basilika.

Di sini keheningan “berkuasa” sepanjang waktu.

Kisah arloji yang hilang

Persis di tengah situasi inilah, saya lalu teringat akan sebuah kisah tentang seorang tukang kayu yang kehilangan arloji kesayangan pemberian isterinya di antara tingginya tumpukan serbuk kayu. Berjam-jam ia bersama teman-temannya mencari arloji tersebut, namun tak kunjung ditemukan.

Ia pun merasa sedih. Namun apa yang terjadi?

Seorang anak yang sejak dari tadi memperhatikan mereka sibuk mencari arloji itu, datang dan mendekati tumpukan kayu tersebut. Ia pun duduk tenang dan mencarinya. Tak lama kemudian ia menemukan kembali arloji tersebut.

“Bagaimana kamu menemukan arloji tersebut?,” tanya si tukang kayu.

Dari mulut si kecil itu, terucap kalimat yang penuh makna.

“Saya duduk dengan tenang. Dalam suasana hening, saya bisa mendengar detakan jarum arloji tersebut, tik-tak-tik-tak. Dengan itu saya pun tahu di mana arloji itu berada.”

Gereja Monte Cassino di kompleks Biara Pusat Ordo Benediktin di Lazio-Roma.

Makna keheningan

Lantas, apa itu keheningan?

Salah seorang anggota Benediktin mengisahkan kepada saya demikian.

“Keheningan (il silenzio) merupakan bagian yang tak terpisahkan (inseparabile) dari hidup kami sebagai anggota Benediktin,” ungkapnya di awal percakapan.

“Keheningan itu memungkinkan kami dan kita semua untuk mendengarkan suara Tuhan dan membangun komunikasi yang dalam dengan-Nya. Dan untuk menjaga keheningan tersebut, maka dalam berkomunikasi dengan sesama saudara dalam komunitas kami diwajibkan untuk berbicara dengan volume suara yang kecil, tanpa harus berteriak,” ungkapnya lagi.

“Lebih dari itu, kami pun sudah terbiasa untuk hanya mengkomunikasikan sesuatu yang memang wajib dan merasa penting untuk disampaikan,” tegasnya kemudian.

Saya secara pribadi merasa terkesima dengan secuil pengalaman yang di-sharing-kan oleh salah seorang anggota Benediktin di atas. Tentu sangat penting untuk mentransformasikan lebih jauh tentang keutamaan-keutamaan yang mereka hayati dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dalam tataran praktis misalnya, kita acap kali membuang banyak energi dan waktu untuk membicarakan sesuatu hal yang tidak berguna, misalnya menceritakan kejelekan dan kelemahan dari orang lain.

Kita lupa bahwa semakin banyak waktu yang kita habiskan untuk menceritakan kejelekan orang lain, pada saat yang sama kita juga ketiadaan waktu untuk memperbaiki diri kita sendiri.

Gosip, itulah istilah teknis yang tepat untuk melukiskan kenyataan ini. Sehingga, mungkin baik jika kita berpegang pada apa yang dikatakan oleh Ludwig Wittgenstein:

”What can be said at all can be said clearly and what cannot talk about we must pass over in silence.” (Apa yang dapat dikatakan, katakanlah dengan jelas dan tetang apa yang tidak dapat dikatakan, orang harus diam).

Dalam situasi inilah, keheningan menjadi permata yang berharga bagi hidup kita. Membantu kita untuk mengenal diri secara lebih dalam. Melalui keheningan, kita mampu membangun sebuah refleksi tentang diri kita.

Refleksi tentang diri selalu membantu kita untuk bersikap secara bijaksana dalam setiap kesempatan. 

Socrates memberi awasan kepada kita bahwa: “Hidup yang tidak pernah direfleksikan adalah hidup yang tidak layak untuk dihidupi”.

Mencari makna keheningan bersama-sama.

Keheningan dan hati nurani

Dokumen Konsili Vatikan II Gaudium et Spes no. 16 menjelaskan bahwa “di lubuk hatinya manusia menemukan hukum, yang tidak diterimanya dari dirinya sendiri, melainkan harus ditaatinya. Suara hati itu selalu menyerukan kepadanya untuk mencintai dan melaksanakan apa yang baik, dan untuk menghindari apa yang jahat.”

Keheningan dan hati nurani memiliki relasi yang tidak dapat dipisahkan. Dalam keheningan kita mampu mendengarkan hati nurani berbicara. Suara hati selalu menghendaki kita untuk melakukan yang baik dan mengelakkan yang jahat (bonum faciendum malum vitandum).

Inilah perintah moral yang harus kita taati.

Di tengah situasi dunia yang makin kompleks, keheningan sesungguhnya masih tetap menjadi keutamaan yang harus kita peluk. Artinya bahwa kita tentu membutuhkan suatu solusi yang bijak dan cemerlang dalam menghadapi begitu banyak persolan.

Jawaban-jawaban yang bijak itu seringkali diperoleh hanya jikalau kita mampu meresapi dan menghadapi persoalan yang ada dengan hati yang tenang dan hening.

Blaise Pascal tokoh filsafat abad modern asal Perancis yang juga berbicara tentang “Le coeur atau il cuore” (hati), mengatakan demikian: “Ogni infelicitá degli uomini deriva da una sola cosa: non saper restare in silenzio” (Ketidakbahagiaan dari manusia datang atau disebabkan oleh ketidaktahuannya untuk tinggal sejenak dalam keheningan).

Akhirnya, mengapa kita harus mendengarkan suara hati kita?

Tanya Santiago, si anak kecil yang sedang dalam pencarian harta karunnya kepada Sang Alkemis.

“Karena di mana hatimu berada, di situlah hartamu berada”, demikian kutipan inspiratif dalam sebuah novel yang berjudul “Sang Alkemis” dari Paolo Coelho.

Ziarah sejenak ke Biara Pusat Ordo Benediktin di Monte Cassino.

Santo Pelindung Eropa

Santo Benediktus mampu melakukan hal-hal baik, karena ia senantiasa berdoa.

  • Ia meninggal pada tanggal 21 Maret 547 di biaranya di Monte Cassino.
  • Pada tahun 1944, ketika Perang Dunia II berkecamuk, Biara Induk Monte Casino hancur dan baru dibangun kembali setelah perang.
  • Relikui Benediktus dan Skolastika ditemukan kembali pada tahun 1950 di bawah reruntuhan altar Gereja Monte Kasino yang hancur pada masa Perang Dunia II.
  • Pada tahun 1966, Paus Paulus VI menyatakan St. Benediktus sebagai Santo Pelindung Eropa.
  • Pada tahun 1980, Paus Yohanes Paulus II menambahkan St. Sirilus dan St. Metodius sebagai Santo Pelindung Eropa bersama dengan St. Benediktus.

PS:

  • Valentinus Robi Lesak, rohaniwan Vokasionis tengah menyelesaikan studi di Universitas San Luigi Napoli, Italia.
  • Editor: Mathias Hariyadi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here