Artikel Kesehatan: Hari Malaria Sedunia 2019

0
244 views
Hari Malaria Sedunia 2019. (Ist)


HARI Malaria Sedunia akan dirayakan pada Kamis, 25 April 2019. Temanya adalah bebas malaria dimulai dengan saya (zero malaria starts with me), dengan sebuah kampanye global yang bertujuan untuk menjaga perhatian terhadap malaria tetap tinggi dalam agenda politik, memobilisasi tambahan sumber daya, dan memberdayakan masyarakat dalam pencegahan dan pengobatan malaria.

Apa yang perlu dicermati?

Menurut laporan malaria dunia  (WHO World Malaria Report) terbaru, tidak ada kemajuan signifikan yang dicapai dalam mengurangi kasus malaria pada periode 2015 hingga 2017. Perkiraan jumlah kematian karena malaria pada 2017 sebanyak 435.000, tetap tidak berubah dibandingkan tahun sebelumnya.

Laporan yang dirilis pada 19 November 2018, merangkum tentang investasi dalam program dan penelitian malaria, serta hasil semua bidang intervensi, baik pencegahan, diagnosis, pengobatan maupun pengawasan.

Dunia saat ini tidak berada di jalur yang tepat untuk mengurangi kematian karena penyakit malaria setidaknya 40% pada 2020. Pada tahun 2017, diperkirakan ada 3,5 juta kasus malaria di 10 negara dengan beban malaria tertinggi.

Di sebagian negara yang mendekati eliminasi malaria, untunglah laju kemajuan semakin cepat. Pada 2017, terdapat 46 negara yang melaporkan kurang dari 10.000 kasus malaria lokal (indigenous), meningkat dari hanya 37 negara pada 2010. Selain itu, untuk pertama kalinya China dan El Salvador melaporkan nol kasus malaria lokal (indigenous).

Awal tahun 2019 ini, WHO menyatakan Paraguay sebagai negara bebas malaria pertama di kawasan Amerika, yang diberi status ini dalam 45 tahun terakhir.

Sebelas negara secara bersama-sama, menyumbang sebagian besar dari semua kasus malaria dan kematian secara global pada tahun 2017, sehingga memerlukan pendekatan baru yang agresif, untuk mempercepat kemajuan melawan malaria.

Pendekatan ini akan dilakukan oleh 11 negara dengan beban penyakit tertinggi, yaitu Burkina Faso, Kamerun, Republik Demokratik Kongo, Ghana, India, Mali, Mozambik, Niger, Nigeria, Uganda, dan Republik Tanzania. Elemen kunci dari pendekatan baru ini meliputi:

  • Pertama kemauan politik untuk mengurangi korban malaria,;
  • Kedua informasi strategis untuk menentukan prioritas program yang berdampak;
  • Ketiga disusunnya panduan, kebijakan, dan strategi yang lebih baik;
  • Keempat menyusun respons malaria nasional yang terkoordinasi. Pendekatan baru tersebut berdasarkan prinsip bahwa tidak seorang pun harus mati (no one should die), karena penyakit yang dapat dicegah dan diobati.

Dari 11 negara dengan beban tertinggi di dunia, India adalah satu-satunya yang mencatat penurunan besar dalam kasus malaria pada tahun 2017. India yang  menyumbang 4% dari kasus malaria global, telah membuat kemajuan signifikan dalam menurunkan beban malaria.

Sebagaimana tercermin dalam Laporan Malaria Dunia tahun 2018 ini, India mencatat penurunan 24% kasus malaria selama tahun 2016, sebagian besar disebabkan oleh penurunan substansial penyakit malaria di negara bagian Odisha, yang merupakan rumah bagi sekitar 40% dari semua kasus malaria di India.

Faktor keberhasilan tersebut meliputi komitmen politik yang selalu diperbaharui, kepemimpinan teknis yang kuat, yang berfokus pada pengendalian nyamuk sebagai vektor dan peningkatan pendanaan domestik.

Aspek penting dari pendekatan yang dilakukan di negara bagian Odisha, India adalah gerakan oleh jaringan aktivis kesehatan dan sosial yang terakreditasi atau ‘Accredited Social Health Activists (ASHA), yang berfungsi sebagai pekerja garis depan untuk memberikan layanan malaria di seluruh penjuru negara bagian, terutama di daerah pedesaan dan terpencil.

Secara global, lebih banyak negara telah bergerak menuju nol kasus malaria pada tahun 2017, yaitu 46 negara melaporkan kurang dari 10.000 kasus, naik dari hanya 37 negara pada 2010. Jumlah negara dengan kurang dari 100 kasus malaria lokal (indigenous), sebuah indikator kuat bahwa status eliminasi berada dalam jangkauan, telah meningkat dari 15 negara pada 2010 menjadi 26 pada 2017.

China dan El Salvador melaporkan nol kasus pada 2017, yang pertama untuk kedua negara tersebut. Aljazair, Argentina dan Uzbekistan telah mengajukan permintaan resmi kepada WHO untuk sertifikasi status eliminasi malaria.

Pada 2017, dari jumlah 514 kabupaten/kota di Indonesia, 266 (52%) di antaranya wilayah bebas malaria, 172 kabupaten/kota (33%) endemis rendah, 37 kabupaten/kota (7%) endemis menengah, dan 39 kabupaten/kota (8%) endemis tinggi.

Sementara tahun 2018 ditargetkan sebanyak 285 kabupaten/kota akan berhasil mencapai status eliminasi, dan 300 kabupaten/kota pada 2019. Selain itu, pemerintah Indonesiapun menargetkan tidak ada lagi daerah endemis tinggi malaria di tahun 2020. Pada 2025 kelak, semua kabupaten/kota mencapai eliminasi, 2027 semua provinsi mencapai eliminasi, dan 2030 Indonesia ditargetkan mencapai status eliminasi.

Salah satu tonggak penting untuk tahun 2020 adalah eliminasi malaria pada setidaknya 10 negara yang endemis malaria pada tahun 2015. Pada tingkat kemajuan saat ini, kemungkinan tonggak ini akan tercapai.

Menurut laporan itu, cakupan dan penggunaan kelambu berinsektisida di seluruh sub-Sahara Afrika sedang meningkat, sehingga ada lebih banyak orang yang berisiko malaria dilindungi oleh kelambu berinsektisida.

Selama periode tahun 2010-2017, persentase populasi yang dilindungi oleh kelambu meningkat dari 33% pada 2010 menjadi 56% pada 2017; kepemilikan rumah tangga dari setidaknya satu kelambu naik dari 47% menjadi 72%; dan rumah tangga dengan setidaknya satu kelambu untuk setiap dua orang, berlipat ganda dari 20% menjadi 40%.

WHO bekerja sama dengan semua negara endemis malaria untuk memantau kemanjuran obat antimalaria dan insektisida untuk kelambu yang berbasis artemisinin. Meskipun terdapat kekebalan malaria terhadap beberapa obat atau resistensi multidrug di sekitar Sungai Mekong Indochina (the Greater Mekong), penurunan morbiditas dan mortalitas terus diamati.

Peningkatan kasus malaria di Afrika, ternyata tidak terkait dengan resistensi obat terhadap terapi kombinasi berbasis artemisinin (ACT), karena tetap sepenuhnya efektif sebagai pengobatan lini pertama di Afrika. Secara keseluruhan, ancaman langsung resistensi obat antimalaria rendah dan sebagian besar ACT tetap efektif di semua negara, di luar wilayah Sungai Mekong Besar Indochina.

Resistensi terhadap insektisida untuk membasmi vektor nyamuk ternyata lebih luas. Dari 80 negara endemik malaria yang memiliki data pada tahun 2010-2017, resistensi terhadap setidaknya satu dari 4 kelas insektisida dalam satu vektor malaria terdeteksi di 68 negara.

Kejadian ini meningkat dibandingkan tahun 2016, tetapi lebih disebabkan karena peningkatan pelaporan dan tiga negara baru, yang melaporkan resistensi untuk pertama kalinya. Di 57 negara, resistensi terhadap dua atau lebih kelas insektisida juga telah dilaporkan.

Momentum Hari Malaria Sedunia Kamis, 25 April 2019 dengan tema “bebas malaria dimulai dengan saya” (Zero malaria starts with me), diharapkan dapat memicu penurunan angka kematian malaria pada 2017, bila dibandingkan dengan 2010.

Penurunan terbesar telah terjadi di Asia Tenggara (-54%), Afrika (-40%) dan Timur Tengah (-10%), tetapi penurunan angka kematian telah melambat sejak 2015, yang mencerminkan permasalahan baru.

Sudahkah kita bijak?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here