Artikel Kesehatan: Hari tanpa Tembakau Sedunia

0
63 views
Merokok. (Ist)

SETIAP tanggal 31 Mei dirayakan sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia atau ‘World No Tobacco Day’ (WNTD). Kampanye tahunan ini dirancang untuk meningkatkan kesadaran tentang efek berbahaya dari penggunaan tembakau dan paparan asap rokok.

Apa yang perlu disadari?

Tema kampanye Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2019 adalah : tembakau dan kesehatan paru-paru (tobacco and lung health).

Kampanye ini akan meningkatkan kesadaran tentang 2 hal.

  • Pertama, dampak negatif tembakau terhadap kesehatan paru-paru, yaitu kanker paru dan penyakit pernapasan kronis.
  • Kedua, peran penting paru-paru untuk kesehatan dan kesejahteraan semua orang.

Kampanye ini juga berfungsi sebagai ajakan untuk bertindak, mengadvokasi kebijakan yang efektif untuk mengurangi konsumsi tembakau, dan melibatkan para pemangku kepentingan di berbagai sektor, dalam pengendalian tembakau.

Merokok adalah penyebab utama kanker paru-paru, yang menyebabkan lebih dari dua pertiga kematian akibat kanker paru-paru secara global. Selain itu, paparan perokok pasif di rumah atau di tempat kerja, juga meningkatkan risiko kanker paru-paru.

Padahal, berhenti merokok baru dapat mengurangi risiko kanker paru-paru setelah 10 tahun kemudian, risiko kanker paru-paru turun menjadi sekitar setengah dari para perokok.

Merokok adalah penyebab utama Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), suatu kondisi di mana terjadi penumpukan lendir berisi nanah di paru-paru, yang menyebabkan batuk dan kesulitan bernapas yang sering disertai nyeri menyakitkan.

Risiko terkena PPOK sangat tinggi pada orang yang mulai merokok pada usia muda, karena asap tembakau secara signifikan memperlambat perkembangan paru-paru. Tembakau juga memperburuk asma, yang membatasi aktivitas seseorang dan berkontribusi terhadap kesakitan (morbiditas), kecacatan (disability) dan kematian (mortalitas) terkait asma.

Penghentian merokok dini adalah langkah yang paling efektif, untuk memperlambat perkembangan buruk PPOK, dan memperbaiki gejala klinis asma.

Janin dalam kandungan (in-utero) yang terpapar asap rokok, karena ibu perokok atau pajanan ibu terhadap perokok pasif, sering mengalami gangguan pertumbuhan dan fungsi paru-paru segera setelah lahir.

Dampak asap rokok adalah melintasi siklus kehidupan (across the life-course). Anak yang terpapar asap rokok pasif juga berisiko timbulnya dan memperburuk asma, bronkitis, dan infeksi saluran pernapasan bawah yang lebih sering.

Secara global, diperkirakan 165.000 anak meninggal sebelum usia 5 tahun, karena infeksi saluran pernapasan bawah, terutama pneumonia, yang disebabkan karena perokok pasif. Anak yang pernah menderita pneumonia dan hidup sampai dewasa, terbukti terus menderita konsekuensi kesehatan dari paparan asap rokok, karena seringnya mengalami infeksi saluran pernapasan bawah, dan secara signifikan meningkatkan risiko mengalami PPOK di masa dewasa.

Riset Kesehatan Dasar (2013) menunjukkan bahwa seorang perokok di Indonesia rata-rata menghabiskan 12 batang rokok per hari.

Survei Sosial Ekonomi Nasional (2016) menunjukkan bahwa 14% pengeluaran rakyat Indonesia dialokasikan untuk padi-padian, sementara 13,8% untuk rokok.

Data yang tersedia di Badan Pusat Statistik (BPS), selama setidaknya sepuluh tahun terakhir, menunjukkan konsistensi bahwa pengeluaran untuk rokok, mengalahkan jumlah pengeluaran untuk kebutuhan bahan pangan lain seperti telur, yang bermanfaat bagi peningkatan status gizi keluarga di Indonesia.

Penyakit tuberkulosis (TB) akan merusak paru-paru dan mengurangi fungsi paru-paru, bahkan akan semakin diperburuk dengan merokok. Komponen kimia asap rokok dapat memicu infeksi laten TB, yang  menyebabkan sekitar seperempat dari semua orang yang terinfeksi.

Penyakit TB aktif, diperparah oleh efek kesehatan paru-paru yang dirusak akibat merokok, secara substansial meningkatkan risiko kecacatan dan kematian akibat gagal pernapasan.

Asap rokok adalah bentuk polusi udara dalam ruangan yang sangat berbahaya, karena mengandung lebih dari 7.000 bahan kimia, dan 69 di antaranya diketahui menyebabkan kanker.

Meskipun asap rokok mungkin tidak terlihat dan tidak berbau, asap dapat bertahan di udara hingga lima jam, membuat mereka yang terpapar berisiko terkena kanker paru-paru, penyakit pernapasan kronis, dan penurunan fungsi paru-paru.

Langkah paling efektif untuk meningkatkan kesehatan paru-paru adalah berhenti merokok dan mengurangi pajanan asap pada perokok pasif. Namun demikian, pengetahuan tentang implikasi rokok bagi kesehatan paru-paru masih rendah di antara sebagian besar masyarakat umum, dan khususnya pada kalangan perokok, di beberapa negara.

Meskipun ada bukti kuat tentang bahaya rokok pada kesehatan paru-paru, potensi pengendalian rokok untuk meningkatkan kesehatan paru-paru, juga tetap masih diremehkan (underestimated).

Kampanye Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2019 ini diharapkan akan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat global tentang berbagai hal.

  • Pertama, risiko yang ditimbulkan oleh merokok dan paparan asap rokok.
  • Kedua, bahaya merokok bagi kesehatan paru-paru.
  • Ketiga, besarnya kematian dan penyakit secara global karena penyakit paru-paru yang disebabkan oleh tembakau, termasuk penyakit pernapasan kronis dan kanker paru-paru.
  • Keempat, hubungan antara merokok dan peningkatan kematian terkait TBC.
  • Kelima, implikasi paparan asap rokok untuk kesehatan paru-paru bagi orang lain atau perokok pasif, pada semua kelompok umur.
  • Keenam, pemahaman tentang pentingnya kesehatan paru-paru untuk mencapai kesehatan dan kesejahteraan bersama (overall health and well-being).
  • Ketujuh, melakukan gerakan bersama yang dapat menyatukan warga masyarakat dan pemerintah, untuk meningkatkan kepedulian dan mengurangi risiko kesehatan paru-paru, yang ditimbulkan oleh asap rokok.

Kampanye Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2019 ini mengingatkan agar setiap orang tua dan anggota masyarakat, juga harus mengambil langkah penting, untuk meningkatkan kesehatan mereka sendiri, anak-anak mereka, dan lingkungan sekitarnya, dengan melindungi mereka dari bahaya yang disebabkan oleh asap rokok.

Sudahkah kita bijak?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here