Artikel Kesehatan: Kurikulum  Dokter

0
124 views
Ilustrasi: Ist

PENDIDIKAN dokter adalah kegiatan yang dinamis dan memerlukan kurikulum sebagai peta jalan untuk menciptakan dokter generasi baru.

Perubahan kurikulum bukan lagi sebuah keniscayaan, sesuai era baru yang akan dijalani oleh para dokter.

Apa saja perubahannya?

Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kemenristekdikti 2019 di Universitas Diponegoro, Semarang, dengan tema “Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi yang Terbuka, Fleksibel, dan Bermutu,” berlangsung pada Kamis dan Jumat, 3 dan 4 Januari 2019. Salah satu dari tujuh Fokus Rekomendasi kesimpulan untuk kebijakan Kemenristekdikti 2019 menyangkut Pembelajaran dan Kemahasiswaan.

Dalam rekomendasi ini ada 5 buah usulan, yaitu:

  1. Penyesuaian sistem dan kurikulum yang diintegrasikan dengan sistem pembelajaran ‘online’ ataupun ‘blended learning,
  2. Penyiapan lulusan dengan kemampuan dan sikap kerja (employability) dengan pemberian pengalaman profesional.
  3. Pembentukan sikap mahasiswa dan lulusan yang toleran, empatik, menghargai ragam budaya, dan cinta Tanahair yang perlu diintegrasikan dengan pendidikan anti korupsi dan bela negara.
  4. Pembukaan prodi inovatif untuk bidang ilmu yang menjadi prioritas negara
  5. Kemitraan dengan industri dalam program multi entry multi exit system (MEME) dan magang industri.

Dirasa perlu untuk menyampaikan beberapa usulan, terkait kelemahan kinerja dokter yang masih sering terjadi dan tantangan yang akan dihadapi.

  • Pertama adalah masalah pelanggaran disiplin profesi dan komunikasi terapeutik dokter dengan pasien.
  • Kedua adalah ketrampilan menjadi pekerja mandiri.
  • Ketiga adalah kesiapannya menyongsong era disrupsi.
  • Keempat adalah kiprah dokter dalam kehidupan bernegara.

Sepanjang tahun 2014 Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) mencatat ada 59 kasus dugaan pelanggaran disiplin dokter, meningkat dibandingkan setiap tahun sebelumnya yang hanya 27-30 pengaduan. Dalam rentang delapan tahun terakhir, MKDKI menerima 193 pengaduan dugaan malpraktek dokter.

Dari jumlah itu, 34 dokter diberi sanksi tertulis, 6 dokter diwajibkan ikut program pendidikan kembali, dan yang terberat, 27 dokter dicabut surat tanda registrasinya, yang otomatis membuat surat izin praktiknya tidak berlaku.

Malpraktik dan pelanggaran disiplin dokter pada umumnya diawali dari buruknya komunikasi terapeutik dengan pasien. Untuk itu, pemberian pengalaman profesional pada calon dokter dan kemitraan dengan industri rumah sakit selama pendidikan dokter, layak dimasukkan dalam kurikulum baru pendidikan dokter.

Jumlah dokter di seluruh Indonesia dapat diketahui dari banyaknya Surat Tanda Registrasi (STR) Dokter, yang dikeluarkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia (KKI). Pada Jumat, 4 Januari 2019 terdapat 134.529 STR dokter dan 37.652 STR Dokter Spesialis.

Fasilitas Kesehatan Primer yang melayani pasien (provider) program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada Selasa, 1 Januari 2019 berjumlah 27.189 buah dengan 5.338 di antaranya adalah Praktek Dokter Perorangan Mandiri. Masih tetap tingginya persentase dokter praktik perorangan di seluruh Indonesia, tentu saja perlu didukung program pembelajaran terkait ketrampilan kewirausahaan dalam kurikulum pendidikan dokter yang baru. Dalam hal ini bukan sekedar bertujuan membentuk kemampuan dan sikap kerja (employability) dokter sebagai seorang karyawan di fasilitas kesehatan.

Pada era Revolusi Industri Seri 4, kecerdasan buatan juga mempengaruhui kemapanan dan melakukan disrupsi dalam bidang layanan kesehatan. Banyak perusahaan akan membuat perangkat medikal (yang disebut ‘Tricorder’ dalam film Star Trek) yang bekerja dengan telepon cerdas, yang akan memindai retina, sampel darah, atau napas pasien.

Artikel Kesehatan: Biaya UHC

Kemudian juga mampu menganalisis berbagai bio-marker yang akan meng identifikasi hampir semua jenis penyakit. Bahkan saat ini sudah terdapat lusinan aplikasi telepon cerdas untuk tujuan kesehatan.

Minat para calon dokter akan kecanggihan kecerdasan buatan yang merupakan cabang ilmu baru yang inovatif ini, tentu sebaiknya ditampung dalam bidang ilmu baru, yaitu kesehatan digital, yang dijadikan prioritas negara, perlu dikemas dalam program Multi Entry Multi Exit System (MEME) dan magang pada industri kesehatan digital.

Peran Dr. Wahidin Soedirohoesodo, Dr. Sutomo dan banyak dokter senior era kolonial dalam tata kehidupan bernegara dan berpolitik, tidak sekedar layak diingat, tetapi juga harus terus disemai.

Para dokter zaman modern ini, justru terkesan semakin jauh, menjauh, atau dijauhi oleh hingar bingar perpolitikan dan kebangsaan Indonesia. Usulan penutup untuk perubahan kurikulum pendidikan dokter adalah kegiatan berpolitik di kampus yang bermartabat.

Selain itu, juga pembelajaran yang toleran, empatik, menghargai ragam budaya, dan cinta Tanahair Indonesia, yang diintegrasikan dengan pendidikan anti korupsi dan bela negara, demi terciptanya generasi dokter yang cinta Indonesia.

Apakah kita sudah cerdas?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here