Artikel Politik: Kambing Hitam

0
93 views
Ilustrasi (Ist)

ISTILAH “kambing hitam” menunjuk kepada objek yang dianggap sebagai asal muasal masalah, entah itu kekerasan, entah itu huru-hara, entah apa pun itu. Padahal, tidak bersalah; bukan sumber masalah.

Seringkali “kambing hitam” dirujuk sebagai objek yang sebenarnya bukan pelaku sesungguhnya, hanya pengalihan, sekadar orang yang dipersalahkan.

Inilah salah satu bentuk sikap tidak bertanggungjawab. Dirinya atau kawannya, atau kelompoknya atau golongannya, atau partainya sendiri yang bersalah, tetapi melemparkan kesalahan kepada orang lain, pihak lain, partai lain, golongan lain.

Sikap semacam itu, dalam bahasa politik, disebut sebagai politik kambing hitam. Politik kambing hitam merepresentasikan sikap tak mau bertanggungjawab, lari dari kesalahan dari apa yang sudah dilakukan, dan lebih memilih posisi aman.

Hal itu, menyangkut masalah integritas dan kejujuran.

Spencer Johnson (1938 –  2017), seorang penulis sekaligus motivator dari Amerika Serikat, suatu ketika mengatakan, “Integritas adalah menceritakan kebenaran pada diri sendiri; kejujuran menceritakan kebenaran kepada orang lain.”

Sikap mencari kambing berarti tidak berani mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukan. Dengan kata lain menunjukkan rendahnya integritas. Selain itu, menunjukkan rendahnya kualias kejujuran. Oleh karena tidak berani mengakui, menceritakan kebenaran kepada orang lain. Tetapi memilih untuk menyalahkan orang lain; menjadikan orang lain sebagai kambing hitam persoalan, penyebab persoalan.

Apa yang kita saksikan belakangan ini, mengarah ke arah pemraktikan teori kambing hitam (Kambing Hitam Teori Rene Girard, Sindhunata, 2006).

Tindakan-tindakan semacam itu—dengan sangat mudah menuding orang atau pihak lain sebagai sumber persoalan–bukan berdasarkan alasan-alasan yang rasional, bukan berdasarkan akal sehat, pikiran waras, melainkan berdasarkan perasaan-perasaan tertentu semisal amarah dan kejengkelan yang tidak dapat disalurkan secara wajar, adalah bentuk dari dari politik kambing hitam.

Politik kambing hitam ini sebagai pengalihan persoalan, sekadar ada orang yang bisa dipersalahkan karena ketidak-mampuan diri.

Selama masih ada kecemburuan, kekerdilan dan nalar, ketidak-warasan pikiran, kesempitan hati untuk mengakui keberhasilan pihak lain, maka selalu ada kambing hitam di tengah-tengah kita.

Maka benar yang dikatakan Mahatma Gandhi, “Berperilaku jujur memang sulit. Namun, bukan berarti tidak mungkin dilakukan.”  

PS:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here